DENGAN SEMANGAN MENGGEBU Ketua PB PWRI dalam pidatonya mengarahkan kepada Pengurus PWRI baik Provinsi maupun Kabupaten serta berbagai Unit, OPI atau lainnya diminta perkenanya memberikan perhatian ekstra kepada masyarakat desa. Sehingga di desa desa itu selain muncul Badan Usaha Milik Desa, juga akan muncul Badan Usaha Milik Lansia, dengan keyakinan sungguh bahwa PWRI memiliki banyak tenaga yang sarat pengalaman dalam pengelolaan keuangan, sehingga BUML dapat bermitra dengan BUMD dan dalam hal ini mampu memberikan bimbingan kepada BUMD. Sungguh PWRI itu selain memiliki orientasi Kekotaan, juga harus memili8ki Orientasi ke Pedesaan. Di Kota mempelopori terbangunnya Taman Kota serta berbagai fasilitas umum untuk Lansia, di desa mampu membimbimng terbentuknya BUMD.
Dengan semangat "Bahwa Pensiun Bukan Akhir Dari Segalanya" bahwa demi keselamatan dari Lansia itu sendiri maka kesejahteraan Lansia harus terjamin.
APA YANG DIKATAKAN OLEH MULDOKO bahwa untuk memenangkan Jokowi Makruf Amin akan menggunakan startegi Perang Total itu tidak main main. ternasya dua puluhan hari menjelang Pilpres tak kurang dari seorang Jokowi menyatakan bahwa Dia akan melawan siapa saja yang selama 4mpat tahun ini mengganggu dan melecehkannya mulai saat itu beliau akan melakukan perlawanan. Perlawanan akan seperti apa, itu belum ada kejelasan. Dan apakah peperangan itu hanya akan dilaksanakan selama dua puluhan hari itu saja. Atau akan berlanjut hingga dianggap tuntas. Di jaman Soekarno dan Soeharto ada sejumlah musuh politiuknya ditangkap dan di bui, bahkan ada yang dihukum tampa melalui proses pengadilan di era Orla. Lalu apakah muali dari pidato yang disampaikan di Kota Yogyakarta itu para musuh politik itu akan ditangkapi, sebagai wujud Prang Total. Tentu saja kita hanya bisa menunggu,
Akan perang seperti apa, waktiu tinggal dua puluhan hari lagi, apakah akan melakukan penangkapan musuh polituik seperti seperti apa yang dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda, masa Orde Lama, ataupun Orde Baru era Suharto, Memang berapa orang yang akan ditangkap daslam waktu singkat.
Memang kita harus bersabar trkait kasus yang satu ini. Apakah ada politisi besar yang akan ditangkap seperti cara yang ditempuh Soekarno dan Suharto. Terus terang kita tak percaya dengan ucapan Presiden Jokowi yang memang suka pencitraan ini. Krena pencitraan ala Jokowi selalu saja memamerkan sesuatu yang dia tak memiliki keterampilan yang memadai. Atau memang bukan dunianya. Jokowi senang sekali melakukan pencitraan dengan cara selfy selfy berpoto yang menggambarkan bukan kesehariannya, sehingga pencitraan itu hambar. Seharusnya pencitraan itu adalah meningkatkan rating, sedikit di atas prestasinya, untuk menggambarkan bahwa prestasinya lebih tinggi Termasuk karta kata melawan.
Dari segi tindakan memang sulit kita akan percaya, tetrapi dri sudut perpecahan, atau semangat untuk saling memburukkan dinatar sesama masyarakat itu diyakini cukup signifikan. Karena beliau pada saat ini tetap sebagai Presiden walaupun kegiatannya kampanye, sehingga seharusnya kata kata melawan itu harus ditindaklanjuti oleh para menteri sebagai pembantunya. Katakanlah Jokowi sebagai Presiden benar benar telah menabuh genderang perang kapeda rakyatnya yang dipimpinnya. Ini adalah kesalahan ketika Presiden tidak dicutikan pada saat berkampanye.
Kebijakan yang tidak mencutikan Presiden ketika berkampanye sebagai calon petahana dalam Pilpres, barangkali semua dimaksudkan untuk memanfaatkan fasilitas Pemerintah justeru sekarang menjadi sebuah blunder yang sangat merugikan Presiden Jokowi, Jokowi menyatakan perang diasaat Ia kehilangan tenaga untuk melakukan sesuatu, karena slama ini, sesuatu itu hanya sebuah pencitraan belaka. Sungguh ini pelajaran bagi kita semua. Sekalipun pahiot bagi Jokowi.
KATA CAK NUN ada sejumlah kelompok yang ditugaskan unuk menculik sejumlah orang yang
dicurigai akan melakukan kejahatan terhadap Bangsa. Salah satu kelompok yang ditugaskan itu adalah kelompom yang dipimpin oleh Prabowo. Ada kekeliruan yang dilakukan oleh Prabowo karena tidak membunuh mereka yang diculiknya. Sedang kelompok lainnya berhasil menghabisi mereka yang diculik, sehingga kelompok itu tak menuai masalah karena orang kehilangan jejak. Sekarang Prabowo harus menanggung akibat kekeliruan itu. Yaitu ada sejumlah orang yang telah melakukan itu semua akan terancam keamanannya manakala Prabowo menduduki jabatan kekuasaan. Benarkah begiutu .... kita tak tahu tetapi karena masalah ini telah menjadi informasi yang demikian liar, karena ada sejumlah pensiunan jendral yang terpancing membuka kata kata yang seharusnya mereka rahasiakan hingga akhir hayat.
Jika sudah demikian maka ini juga akan menjedai beban pemikiran bagi bangsa kita. Jika saja seandainya Prabowo tidak mencalonkan diri sebagai Calon Presiden, atau dia harus kembali berpasangan dengan Megawati, maka kita bisa diyakinkan bahwa tak akan ada yang mencoba mengungkit ungkitnya. Ceritera buruk tentang Prabowo itu terhembus ketika Prabowo Maju sebagai Capres berpasangan dngan Hattarajasa, Dan terulang kembali ketika Prabowo kembali Nyalojn berpasangan dengan Sandiaga Uno. Terus terang lama ke;amaan, bila Para jendral itu tak mampu mewasiti dirinya sendiri masing masing, maka masalah ini bisa terbuka secara hina.
Sejarah akan mencatat kehinaan mereka bila mereka, dan membukakan kebusukan pihak pihak yang berlaku busuk nantinya manakala diantara mereka sudah tak lagi memangku kekuasaan, maka akan dengan sendirinya akan diungkap segala kekeliruan mereka itu, dan kita akan kasihan dengan anak keturunan mereka yang akan menanggung malu. Oleh karena itu sebaiknya berhentilah mengarang ceritera boihong, agar tidak memperdalam kebencian.
Harapan kita kepada Prabowo, bila seandainya memenangkan Pilpres, maka janganlah kekuasaan yang diembannya dijadikan kesempatan untuk balas dendam, kalau memang masyarakat masih saja menuntut penyelesaian dan penjelasan, maka kita semua berharap, bisa diselesaikan secara bermartabat. Sesdangkan jika Jokowi yang memenangkan Pilpres kali ini, kita tak akan yakin, beliau mampu menyelesaikan. Maka himbawan kita kepada mereka yang bersengketa, hindarilah fitnah dan jangan mau diadudomba. yang akhirnya akan merfugikan mereka yang terlibat dalam persaelisihan ini, agar tak dipermalukan oleh keadaan secara lebih kejam, disaat rakyat telah kehilangan kepercayaan.
DARI ADU KESEDERHANAAN - Hingga Perang Total. Digunakan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan untuk mmpertauhkan sebuah negeri syurga yang maha luas, sebuah negeri yang kaya raya, tetapi penduduknya, miskin papa. Tampillah seorang Jokowi yang berhasil merebut hati rakyat dengan segala kesederhanaannya, kebersediaannya masuk kedalam got yang minta ampun baunya, justeru membuat namanya demikian harum dan melejit, sehingga tak segan segan rakyat menyerahkan dan mempercayakan kepadanya untuk memanfaatkan kekayaan negara ini seluasnya untuk kesejahteraan rakyatnya yang terbilang kurang beruntung, setelah sekian kali dipimpin Presidennya. Lagu seribu janji dinyanyikan Sang Presiden Jokowi. Sayang beliau seperti telah melupakan segala janji janji itu, beliau dinilai gagal oleh para pesaingnya, padahal segala citra keberhasilan telah disetting untuk kemuliaan bangsa, kini jabatan penting itu mulai terancam akan dirampas oleh rakyat kembali, maka muncullah istilah perang total untuk mempertahankannya.
Sekitar Duapuluhan hari lagi lita akan menyelenggarakan Pilpres, ada dua pilihan, yaitu Jokowidodo sebagai calon petahana, dan Prabowoi selaku penantang atau pesaing. Selaku petahana memang sejak semula elektabilitas Jokowi selaku petahana hanya tipis di atas angka 50%, dari waktu ke waktu melorot dan kini sudah berada di bawah 50%, posisi yang diharamkan bagi seorang petahana, hal ini karena petahana memang sudah melakukan kampanye sejak empat tahun silam, seyogyanya elektabilitas itu berangka ideal mulai 60% ke atas.
Bagi kita sebagai jelata, terserah saja nanti siapa yang terpilih sebagai Presiden, apakah petahana atau penantang, kita akan secepat mungkin muvon, barangkali itulah yang terbaik dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang jelas kita harus yakin Tuhan Maha pengasih lagi maha penyayang. Kalau saja memang Jikowi terpilih kembali, kita harus terima dengan suatu harapan agar kedepan tak lagi melakukan pencitraan palsu, seperti selama ini, pencitraan boleh tetapi dengan maksud meningkatkan kualitas, bukan membodohi rakyat. Tugas residen adalkah mengabdi kpada rakyat, melindungi rakyat, bangsa dan wilayah serta kekayaan kita semesta. Semoga saja Allah menuntunnya ke jalan yang benar, dan tidak dipengaruhi para kelompok pebisnis dan politisi yang fragmatis. Kita harus sadar bahwa Jokowi kurang memiliki wawasan dan kapasitas sebagai Pimpinan Bangsa.
Kalau seandainya Prabowo yang memenangkan pemilihan, kita berharap para kelompok tak trerlalu mengganggunya, karena kita lama lama menyadari bahwa Prabowo memiliki musuh lama yang tak menyukainya, yaitu para pensiunan jendral sepuh. Yang tak menyukai Prabowo menjadi Pimpinan Nasinal. Semoga saja kita mampu bersatu membela Pemimpoin terpilih guna mengalahkan mereka yang dikuasai hawa nafsu. Semoga saja akan muncul tokoh penyelamat yang bisa menyadarkan pihak yang berniat mempersulit Prabowo. sehingga Bangsa ini memiliki kesempatan membangun. Tinggal 20-an hari lagi semoga kita semakin kondusif. Semoga Allah mengirimkan kepada kita Pemimpin yang benar, adil dan mampu bekerja secara profesional.
AGUM GUMELAR, menjadi Jendral dalam spesial;is kampanye hitam bagi Prabowo, demikian setidaknya karena tokoh satu ini hanya muncul lima tahunan setidaknya dua kali Pilpres yang memunculkan Prabowo sebagai salah satu calon. Keberanian Agum Gumelar. Kasus pelanggaran HAM berat yang dituduhkan kepada Prabowo oleh Tim yang ditunjuk tak berhasil dibuktikan setelah bekerja sekian lama baru mengumpulkan sejumlah data subjektif, yang sulit dipertnggungjawabkan melalui Pengadilan yang resmi. Yang akhirnya Prabowo diberhentikan dengan hormat dengan segala fasilitas dan gaji yang diberikan sebagaimana laiknya mereka yang telah memasuki purnatugas.
Apakah serangan Agum Gumelar kali ini akan berhasil seperti Pilpres sebelumnya, atau serangan ini tidak berpengaruh sehingga Prabowo seperti anteng anteng saja dalam menghadapi seragnagn Agum yang memang sudah bisa dikategorikan sebagai kamapnye hitam, tetapi kampanye hitam yang dilakukan oleh Agum Gumelar memang menguntungkan petahana yang dalam hal ini Jokowi, yang pada saat ini sedang sibuk sibuknya kampanye, sekalipun tak mengambil cuti dari kesibukan kepresidenan, sekaligus petahana.
Sebagai rakyat kita sangat mengharapkan agar masalah ini bisa terselsaikan dengan baik, tak ada lagi pihak pihak sekalipun sudah Purnawirawan lalu mengumbar seluas luasnya sesuatu yang semestinya dirahasiakan oleh institusi TNI. Sekalipun sudah Purnawirawan sikap kekeh menyimpan rahasia itu harus dipertahankan, apatah lagi terhadap sesuatu yang belum final karena ada unsur subjektivitas yang ingin memaksa.
Jika memang Agum Gumelar merasa banyak tahu dan tidak memiliki kesanggupan untuyk bicara di sidang resmi, maka Agum harus segera menulis, dan sertakan sekian banyak nama sebagai saksi seperti yang diakuinya, sebagai penguat terhadap bukti yang nampaknya memang tak menghadirkan Gumelar sebagai pelaku atau memiliki keterlibatan secara fisik. Segera Agum melakukan penulisan sehingga semua orang bisa menjadi saksi yang bisa menuduh tulisan Agum itu salah atau benar, atau memang samar samar.
Jika gagal menyelenggarakan pengadilan yang sepresentatip, maka menulislah, walaupun memang menjadi etika setiap penulis, maka dia akan tuliskan, bahwa: " Sebagai manusia maka tulisan ini tidak sempurna, tidak tertutup dari salah dan khilaf, mohon kritik dan saran agar kesalahan ini dapat kami perbaiiki". Tidak ada penulis yang baik serta merta mengakui bahwa Dia bersih dari kesalahan dan kekeliruan. Artinya, ketika Agum bersedia menulis maka dalam waktu yang bersamaan, janganlah sekali kali merasa yang paling mengetrahui dan paling benar, itu bukanlah karakter sebagai penulis yang baiik. Dilklema Agum Gumelar akan dirasakan sebagai siksaan yang paling menyakitkan nanti di alam akhirat, bila sekecil apapun tersebar fitnah.
DUA ORANG PENDEKAR AKAL SEHAT terpaksa diambulankan, keduanya bukan di bawa ke Rumah Sakit terdekat, teta[i justeru di bawa ke Kampus milik Muhammadiyah, juga untuk mengkampanyekan akal sehat. Hal itu sekedar mengantisipasi atas ancaman seorang Caleg setempat yang bernaung di bawah Rzim calon petahana, setelah beberapa hari sebelumnya Ketua Pemanangan calon petahana meniupkan genderang sebagai perang total. Sang Caleg mendatangi Panitia di Kampus sembari mengancam perang sungguhan manakala kedua orang tersebut ternyata masih juga duhadirkan du Kanous itu
Politisi yang juga Caleg setempat dari Partai pendukung itu mengatakan bila Gerung Dan Said Didu masih datang juga ke kamapus itu maka berarti kita akan perang, hardiknya. Yak memang beberapa waktu sebelumnya Ketua Pemenangan Jokowi menyatakan mengingat elektabilitas calon petahana sepertinya mandeg, maka Tim Pemenangan Jokowi Makruf Amin akan melakukan perang total. Tetapi kita tak tahu apakah ancaman si politisi tadi sebagai genderang perangnya.
Ceramah sudah dilaksanakan. kedua narasumber itu sudah pulang ke Jakarta. Tampa ada pristiwa perang seperti yang diancamkan. Kita bersyukur hal tersebut memang tidak terjadi, Tetapi barangkali saja ini memang belum selesai, karena biasanya lalu yang maju adalah sejumlah delik pelanggaran terhadap sejumlah pasal. Walaupun banyak diantara yang diadukan ke Polisi tidak ditindaklanjuti, tetapi ada juga yang diluar dugaan justeru dihadapkan di meja sidang pengaduilan. siapa tau
MUNCUL KEMBALI perdebtan tentang Prabowo pada saat menjelang Pilpres 17 April 2019 yang akan datang, tergerak membolak balik tumpukan majalah lama, yang memang ada saat itu saya ajeg membeli majalah kesayanganku Ummat. Yang memang pada saat itu para jendral samar terdengar saling berselisih. Tetapi ada saja kelompok nyinyir bersemangat sekali menghabarkan kejahatan ummat Islam berdasarkan hawa nafsunya saja. Lalu muncur sosok jujur yang masih berpikiran waras, namanya "Hari Chan Silalahi yang lantang mengatakan Islam Bukan Ancaman Bagi Minoritas" Beliau adalah keturunan China, nama Marga Silalahi didapat atas jasa temannya yang juga Silalahi, beragama Katholik. Beliau sempat menjadi Ketua Pergerakan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) dan sempat juga menjadi pimpinan CSIS, kelompok analisis yang sangat berwibawa itu. Yah, memang begitu, di samping ada ada Muslim yang senang mengkritisi Agama Islam, tetapi ada juga Non Muslim yang tak segan memuji Islam, dan salah satunya adalah Hari Chan Silalahi, yang lantang mengatakan bahwa Islam sama sekali bukan ancaman bagi Minoritaa. (baca majalah Ummat No. 8 th IV/ 31 Agustus 1988).
Sekalipun Dia dilahirkan dari keluarga keturunan minoritas Tionghoa sebagai Sarjana Hukum Alumni UI Iya akan memiliki pemahaman terhadap segala situasi yang terjadi disekitarnya, dia telah belajar metodologi, artinya memiliki kemampuan mencari data yang dibutuhkan dalam upaya mengetahui masalah dan bagaimana cara menganalisa data yang telah terkumpul itu dijadikan premis premis guna mencapai konklusi secara benar dan metodologis, dia telah belajar sosiologi sehingga dia memiliki kemampuan memahami aktivitas kemasyarakatan, dan dia telah belajar psychologie memahami kejiwaan manusia manusia yang terlibat dalam sejumlah pritiwa dalam posisi apapun.
Selaku seseorang yang ketika menjadi Mahasiswa sempat memimpin organisasi mahasiswa Katholik, sesuai dengan agama yag dianutnya, dan bahkan ketika Ia aktif sebagai anggota dan bahkan Pimpinan Organisasi peneliti dan diskusi yang sangat berwibawa itu, mak seyogyanya kita tak meragukan kesimpulan yang ditariknya bahwa Islam Bukan Ancaman Bagi Minoritas di Indonesia, Artinya bahwa memang ada sekelompok orang yang memang didalam otaknya senganja mencari cari dan memanfaatkan segala situasi untuk menyudutkan dan menuduh nuduh Islam.
Siapa yang sebenarnya pada saat itu, sedang berupaya menjatuhkan Presiden Soeharto, siapa sejatinya yang sedang bersaing merebut kekuasaan ketika Suharti jatuh. Orang sekelas Hari Chan Silalahi selaku Pengurus atau Pimpinan CSIS sngat memahami percaturan antar siapa dengan siapa, kelompok mana dengan kelompok mana. Dan memang tercatat dalam sejarah bahwa kelompok Islam masih belum tergerak untuk ikut berebut kekuasaan. Hanya mereka yang culas yang lalu menuduh Isklan secara serampangan, karena Hari Chan Silalahi sedang berfikir waras.