Wednesday, February 7, 2018

SEKS BEBAS DAN LGBT BISA MASUK LEWAT TEORI ANTI TUHAN YANG TERANGKU DALAM DEMOKRASI DAN HAM ... ?!

JIKA Indonesia nampak menerima praktes sex bebas dan LGBT itu hanya melalui satu teori, yaitu teori komunis dan anti Tuhan, pintu gerbang anti Tuhan masuk ke Indonesia dengan mulus adalah melalui Demokrasi dan Hak Azasi Manusia Dasar Demokrasi adalah suara terbanyak, terlepas dari benar atau salah. Teori teori Demokrasi dan HAM adalah merupakan upaya upaya yang dipromosikan oleh Badan Internasional yang didukung keuangan yang luar biasa banyaknya. Nampaknya hal ini sudah berhasil memasuki Indonesia secara politis dan konstitusional sehingga pada saat ini kita telah mengalami kesulitan untuk mengantisipasinya.

Forum diskusi ILC TV One menampilkan seorang wanita cantik, dia seorang jurnalis yang konon masih mengikuti kuliah di sebuah Perguruan Tinggi.



https://www.youtube.com/watch?v=jD0x3NOCPBY

Perempuan cantik ini nampaknya sangat mewakili penganut seks bebas dan LGBT, walaupun belum tentu yang bersangkutan melakukan seks bebas kesembarang orang, tetapi sikapnya yang kekeh

Tuesday, February 6, 2018

DI JAWA BARAT BANYAK ORANG GILA ... ?

Prof. Dr. Rocky Gerung,  Guru Besar Filsafat di UI  memang pandai merangkai kata, Bagaimana tidak 2/3 waktu ketika mengikuti diskusi di ILC TV One kita berkesimpulan bahwa orang membunuh ustadz, menganiaya ustad dan mencari ustadz untuk dihabisi di Jawa Barat di lakukan oleh orang orang gila, itu setelah Kepolisian mengacu kepada hasil penelitian dokter, walaupun sejumlah saksi mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak melihat tanda tanda kegilaan pada sipelaku, tetapi itu bukanlah keahlian mereka. Sehingga batin ini berkecamuk yang akhirnya membenarkan para narasumber yang terdiri dari Perwira Polisi itu.


Tetapi bukan Gerung namanya bila tidak ada kejutan ketika memegang mik pengeras suara dan menjdapatkan jatah waktu. Awalnya Gerung seperti mendukung segala teori teori gila yang sedang berkembang, tetapi justeru belakangan Ia meminta pihak kemanan untuk menangkap orang orang di belakang pelaku kejahatan yang merupakan ancaman yang mengerikan bagi para ulama di Wilayah Jawa Barat, karena orang orang gila yang berop[erasi itu jusateru telah diatur oleh orang orang yang lebih gila lagi yang mengaturnya kata Gerung yang menyambar nyambar seperti halilintar. Itulah Prof. Gerung. Bila memang banyak orang gilanya maka itu tugas Pemerintah daerah untuk menangkapi mereka dan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa untuk disembuhkan kata seorang ahli hukum peserta diskusi yang disiarkan secara langsung tadi malam Selasa 6 Februari 2018.



Andaikan saja tidak ada seorang Gubernur menista agama yang dianut oleh mayoritas warganya, andaikan saja tidak ada ulama yang difitnah, dibuly dan terusir dari kampung halamannya, andaikan tidak pernah terjadi ulama yang tak bisa turun dari pesawat karena diacungi pedang dan tombak di Bandara, andaikan saja tidak ada ulama yang diberudug dibubarkan ketika sedang menyampaikan ceramah kepada ummat binaannya, andaikan saja tidak ada ulama ulama yang dipaksa menyanyikan lagu Indonesiaraya, mengucapkan Pancasila, Memanandatangani Pernyataan Setia Kepada NKRI serta mencium bendera merah putih dihadapan para pereman nasi bungkus (maaf ini menurut Ustd A. Shomad). Saya yakin se yakin yakinnya Gerung tidak akan bicara seperti itu. Kalau saja bukan Gerung yang bicara pemikiran itu akan kita katakan sebagai pemikiran liar.

Tetapi apa boleh buat Gerung telah mengumpulkan sejumlah data, dan atas keterampilannya mengkaitkan korelasi data yang satu dengan data yang lain, sehingga dengan entengnya dia menyimpulan, bahwa diketemukan data bahwa pelaku pembunuhan, penganiayaan ulama dan ustadz di berbagai tempat adalah dilakukan oleh orang orang gila, maka data yang ada di otak gerung mengatakan bahwa dibelakang para orang orang gila itu ada orang yang jauh lebih gila lagi. Kita tak secerdas Gerung dalam memahami data, benar benar gila gilaan zaman sekarang ini tah. Mudah mudahan Saudara kita yang ada di Jawa Barat bisa melaksanakan Pilkad secara aman. Mungkin itu kaitannya ... entahlah !. Kita tak secerdas Gerung.


Monday, February 5, 2018

ISLAM VERSUS BARAT, LALU BAGAIMANA NASIB ANAK ANAK KITA

Ada thesis yang megatakan bahwa setelah jatuhnya komunis maka China dan Islam menjadi ancaman bagi dunia Barat, tetapi belakangan, setidaknya dalam kasus Indonesia kenyataannya Barat yang berintikan Yahudi telah salin bersinerji meningkirkan Islam di Indonesia, mengusir keduanya sepertinya naris tak mungkin, karena keduanya telah mengurat mengakar di bumi Indonesia, dan bahkan telah sangat menguasainya. Maka pertahanan satu satunya kita berlindung, di balik Kekuasaan Pemerintah kita, tetapi ketika Pemerintah kita dipimpin oleh rezim yang lemah, maka sejatinya kita sendiri yang harus memnpertahankan diri. Yang harus kita pertahankan adalah kebebasan kita melakukan Ibadah, Dakwah dan Pendidikkkan Islam serta kita diperbolehkan melaksanakan Syareat Islam yang kita yakini kebenarannya.

Tulisan ini tidak muluk muluk karena diujung tulisan akan diupayakan untuk sedikit membahas tentang apa yang bisa dilakukan di sekitar sebuah Musholla yang diangun di dekat rumah saya, Musholla Al jihad namanya. Jadi bila akan dibuatkan skup pembhasan, maka pembahasan ini sangat tidak akan memiliki makna apa apa, semisal hanya sebesar upil yang masih bisa kita tekan menjadi sekecil kecilnya, walaupun sedikit membatu, yang pasti sirna bila dilemparkan ketumpukan masalah yang demikian besar, yang dihadapi oleh ummat Islam sekarang ini.

Dengan kekuatan keuangan pihak luar ternyata mampu mendikte Bangsa ini untuk merubahUUD 1945 yang semula memiliki nafas spiriyual keagamaan khususnya Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk. Ketika terjadi reformasi yang ditandai dengan tumbangnya Rejim Soeharto yang dituduh diktator itu. Sebenarnya telah terjadi perang konsep antara Islam  dengan Barat dan China, sayang kelompok Islam sejatinya ketinggalan start, dan kelak akan mengalami kekalahan telak karena ketiadaan dana. Sehingga apa yang dilakukan oleh kelompok Islam semakin hari semakin kehilangan gemanya. Kelompok Muslim sangat tergantung kepada APBN dan APBD, sementara dana dari luar memiliki kekuatan yang nampaknya tak terbatas.

Seingat saya dari kelopok Muslim berusaha melakukan integrasi Imtak dan Iptek yang muali dilancarkan semenjak Soeharto melirik Islam dengan mendirikasn Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia  (ICMI) dan ini berhadapan dengan kelompok Nasionalis Skulair yang memasarkan Demokrasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) dan karena pihak non Muslim memiliki celah untuk lebih berkiprah melalui Demokrasi dan HAM maka tentu saja mereka mendukungnya.

Belakangan akan semakin nampak bahwa sesungguhnya konsep Demokrasi dan HAM Barat itu adalah merupakan gerakan anti Islam, atau setidaknya tidak sejalan dengan Islam. Setidaknya Budayawan Ainun Najib mengatakan demikian, tentu dengan pendekatan budaya yang sangat dipahaminya.  

MARI KITA ARAHKAN ANAK ANAK KITA KE MASJID/ MUSHOLLA

Kita awali tulisan ini dengan aksi Fadil Mulya yang gencar menyiarkan ajaran Kristen dengan cara membungkusnya dengan ajaran Islam. dengan mengutip sejumlah ayat al-Quran dengan tujuan justeru menghina Islam itu sendiri, dalam rangka membenarkan Kristen. Belakangan baru diketahui bahwa yang bersangkutan memang penganut Kristen. Walaupun dahulunya konon pernah menganut agama Islam, lalu beberapa kali gagal menikahi wanita Muslim sehingga kecewa, sampai pada suatu saat berkenalan dan berpacaran, dengan anak seorang pendeta, lalu menjadi murtad, dan kegiatannya yang terakhir adalah menyebarkan cerita cerita palsu tentang Islam, d1 mana mana Fadil Mulya diperkenalkan oleh krewnya sebagai seorang Ustadz.

Fadil secara gencar menghina Islam termasuk melalui media medsos dan sangat berpotensi memecah belah Islam dan Kristen, apalagi fadil dalam aksinya difasilitasi oleh sejumlah orang.yang dikenal sebagai aktivis keagamaan, itulah sebabnya Ketua Yayasan Muallaf, merasa perlu melaporkan kegiatan ini kepada yang berwajib.



Ya, segala yang terkait tindak pidana kita laporkan saja kepada yang berwajib, dengan harapan yang berwajib berkenan menindaklanjutinya sesuai dengan aturan yang berlaku, secara adil. Tetapi itu saja tidak cukup, kita harus melakukan pendidikan bagi anak anak kita, kita harus giring anak anak kita agar dekat dengan masjid ataupun musholla.

Sebagai ta'mir masjid ataupun musholla harus memfasilitasi generasi muda maupun anak anak dengan berbagai program. Jangan dikira setelah melaksanakan sholat lima waktu masjid dan msholla segera ditutup, tidak. Jadikanlah masjid dan musholla sebagai tempat persinggahan yang nyaman, selain memiliki ruangan yang bersih dan syukur syukur nyaman, juga memiliki ruang wudlu, kamar mandi, WC yang siap digunakan setiap saat dengan ketersediaan air yang bisa mengalir normal. Masyarakat sekitar hanrus merasa nyaman berlama lama di masjid dan musholla, terlebih masyarakat yang melintas untuk menuju ke suatu tempat, maka bagi mereka itu harus kita jadikan masjid menjadi persinggahan yang sangat nyaman.

Anak nak muda di sekitar masjid harus mendapatkan sentuhan pendidikan yang diprogramkan oleh  ta'mir. Ta'mir harus mendata setiap rumah di sekitar rumah ibadah kita, berapa usianya, dan tingkat pendidikannya, harius di programkan agar anak anak ini menjadi objek kegiatan pembelajaran. Jangan sampai mereka belajar agama hanya sebatas apa yang dapat dibaca melalui google tetapi ta'mir harus menyiapkan tenaga pengajar yang memeiliki kompetensi menyapa para remaja dan anak anak ini.

Kita tanyakan kepada mereka yang memiliki kompetensi tentang itu, program apa saja yang harus direncanakan, fasilitas apa saja yang harus diadakan, berapa biaya penyelenggaraan. Susun programnya dahulu baru carikan dana penunjangnya, mencari dana penunjang itu adalah dari para jama'ah, jel;askan kepada jama'ah apa program yang akan diselenggarakan dan berapa besaran biaya yang dibutuhkan.

Jangan bersikap terbalik, baru akan membuat program setelah uang kass terisi, itu sangat keliru dan tidak membangun, yang benar adalah susun dahulu programnya berdasarjan data yang valid baru mencarikan dananya, itulah kerja ta'mir. Pada hakekatnya keuangan masjid atau musholla itu tidak pernah kosong, hanya saja masih berada di kantong kantong para jama'ah masing masing.

Adalah bagaimana teknis menyatukan visi missi antara ta'mir dan jama'ah sehingga berkenan mengeluarkan sebagaian uang yang siterimanya sebagai rizki dari Allah. Lalu kita ciptakan suasana yang saling berlomba dalam kebaikan, dan menyumbang keuangan masjid adalah satu kebaikan yang perlu kita umumkan dengan cara fastabiqul khoirot. Adalah keliru besar bila kita berpendapat, tak perlu mengumumkan dan mengajak berlomba tentang kebaikan dengan bersedekah, dengan harapan sedekah itu berlangsung dengan ikhlas, tampa sepengatahuan tangan kiri. Tidak. Tugas ta'mir adalah merumuskan program, mensosialisasikan program, setelah itu memberitahukan keberhasilan dan perkembangannya.

Dari sekian banyak program itu maka pendidikan bagi remaja dan nak anak termasuk diantaranya yang paling penting. Anaka anak kita di masa yang akan datang kini dihadapkan dengan sebuah tantangan besar setelah sekelompok politisi telah berhasil memasukkan kaidah demokrasi dan hak azasi manusia ke dalam UUD 1945 melalui beberapa kali amndemen, dan kini merasuk ke dalam berbagai Peraturan dan Perundang Undangan lainnya, belakang baru di sadari dengan masuknya itu semua ternyata nilaionilai keagamaan (Islam) ternyata disingkirkan. Jadi nilaio nilai keagaam jangan terlalu berharap nantinya akan terfasilitasi oleh anggaran resmi Pemerintah. Maka ta'mir masjidlah nanti yang harus menganggarkan pendidikan bagi gemerasi muda, remaja dan anak anak. Mari kita memulainya dari sekarang.

Friday, February 2, 2018

ZAMAN EDAN, ULAMA SEMAKIN TERANCAM

SAIKI ZAMAN EDAN, Ulama semakin terancam ? Belum tentu ... !, tetapi tak salahnya waspada. Masih ingat dengan novel Baswedan yang disiram dengan air keras, sepulang sholat subuh di Masjid, dekat rumahnya. Sejumlah orang yang sempat ditangkap segera dilepaskan kembali, walaupun kendaraan mereka teridentivikiasi oleh masyarakat, dan ciri ciri pelakupun terkumpul, tetapi itu semua belum banyak membantu kerja Polisi untuk menemukan pelaku selain kasus salah tangkap yang semakin membuat persoalan ini semakin kabur, Novel Baswedan adalah penyidik KPK yang sangat berpengalaman.

Kini ancaman sudah beralih ke ulama, entah mengapa dua ulama telah gugur di tangan seseorang yang diduga stres dan bahkan gila, atau setidaknya tidak waras. Yah memang sudah lama disebutkan oleh mereka terdahulu bahwa sekarang ini zaman edan "Saiki Zaman Edan" kata tokoh 'kaweruh'  menggambarkan ketidak amanan pihak pihak tertentu, hanya saja kini tibalah saatnya ulama yang terncam, oleh zaman edan itu.

Ustadz Proawoto Lasykar Persatuan Islam (Persis) diumumkan telah meninggal akibat dianiaya oleh seseorang yang diduga gila dengan menggunakan linggis, seperti juga yang dialami oleh seorang ulama yang tinggal di Sentiong Cicalengka. Demikian banyak kisah yang menrpa para ulama ini, mulai dari upaya penembakan, pembakaran kendaraan, kriminalisasi, penggerudukan atau pembubaran pengajian dan terakhir adalah kasus pembunuhan, yang terakhir justeru dilakukan oleh orang gila. Tentunya tak satu pasalpun bisa menjerat yang bersangkuta.



Setelah ulama ada yang dituduh terlibat ISIS, ada yang difitnah dan dikriminalisasi, ada ulama yang digrudug ketika sedang dan ada juga yang baru akan menyampaikan tausiyah,  tidak hanya itu, kini dua uilama telah tewas bukan lagi dilakukan oleh kelompok yang jelas jabatannya, jelas organisasinya, dan jelas pula uniformnya. Terlepas dari alasan mereka melakukan itu semua. Kini muncul mereka yang tak memiliki identitas yang jelas, mereka dianggap stres dan bahkan gila. Tetapi ada dua ulama dan aktivis Islam tewas terbunuh secara keji. Nampaknya aparat kemanan betul bertulsedang kuwalahan, dan tak cukup mampu meliondungi warga sekaliber ulama sekalipun.

Menurut ajaran IOslam Ulama itu adalah pewaris Nabi. Dengan demikian jabatan ulama itu adalah merupakan jabatan yang paling tinggi menurut ajaran Islam. Seseorang disebut ulama setelah memiliki disiplin ilmu secara benar dan liner, atau dalam istilah komunitas Islam keilmuannya memiliki nasab yang jelas, baru disebut ulama, artinya memenuhi sejumlah kreteria, termasuk diantaranya telah melaksanakan ajaran ajaran agama serta beraktivitas membimbing ummat. Sehingga jabatannnya agar beberapa derajat di atas 'aabid, atau ahli ibadah. 'aalim atau ahli ilmu atau ulama derajatnya di atas 'aabid ahli ibadah. Dengan demikian ulama itu sejatinya adalah tokoh yang sangat dihargai dalam strata komunitas Musliom.

Peristiwa pembunuhan keji terhadap ulama itu mengingatkan kita dengan berbagai pristiwa yang menimpa ulama bahkan banyak yang bersama santrinya, termasuk diantaranya yang dimasukkan ke dalam sumur yang dikenal oleh masyarakat sebagai sumur beraka. Ya ... PKI pada saat itu benar benar merupakan ancaman bagi ulama, bukan hanya ancaman kosong, tetapi memang memakan kurban yang mencapai ribuan orang para ulama bersama santrinya di masukkan secara bersama ke dalam sumr hingga tewas di dalamnya.

Bukan tidak mungkin ketidak harmonisan antara Pemerintah dengan sebagian Ulama  semenjak penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI beberapa waktu yang lalu, justeru dimanfaatkan oleh kelompok kelompok tertentu untuk memancing di air keruh. Untuk itu maka ummat harus waspada. Bantulah para ulama itu dalam mengamankan diri mereka yang pada saat ini sedang terancam itu. Tidak banyak ulama yang memiliki sahabat yang bersedia memberikan pengawalan, justeru yang terbesar dan terbanyak adalah mereka keluar rumah tampa pengawalan. Dan yang paling rawan diantaranya adalah ketika ulama akan keluar menuju masjid atau pulang dari masjid diwaktu subuh, ketika seperti apa yang dilakukan Novel Baswedan, yang disiram air aki ketika sedang berjalan pulang dan sholat subuh di masjid. Wsapadalah.  

PERCERAIAN ZAMAN NOW

Peceraian antara suami isteri zaman sekarang ini tidak berarti telah terjadi keridakcocokan antara pasangan suami dan isteri. Setidaknya hal itu dipertunjukkan oleh seorang mantan Perdana Menteri Thailand Taksin Sinawatra yang telah berhasil mengelabuhi masyarakat dengan kesepakatan mereka berdua untuk tidak melanjutkan ikatan perkaweinan mereka. Banyak rakyat Thailan yang menyayangkan terjadinya akhir perkawinan orang terhormat tersebut, Apalagi tokoh yang genar pencitraan ini sempat harum namanya, tentu saja ada deraian tangis yang berkepanjangan, walaupun belakangan ketahuan bahwa perceraian itu semata taktik beraka, alias sandiwara kelas tinggi.

Perceraian Taksin Sinawatra justeru harus diartikan perpaduan yang meningkat, karena perceraian diatur sedemikian rupa sehingga sejumlah harta hasil korupsi yang dituduhkan kepada sang tokoh bisa terselamatkan karena perceraian tersebut, barangkali di adat merekatidak didapatkan istilah harta gono gini seperti adat Jawa, sehiungga harta milik isteri tak dapatr dganggu gugat dengan tuduhan yang ditujukan kepada suami.  Bisa saja akal bulus Taksin dengan cara akting yang tinggi, skenarionya adalah penyelamatan harta.

Semenjak ada pencitraan, maka akting yang diperankan oleh para pejabat menjadi jamak, walaupun ada yang dibuly abis, tetapi ada yang dipuji puja karena aktingnya mengena.  Yang ingin saya sampaikan adalah saran kepada para rakyat agar adil dalam menilai para pemimpin, jangan sering menjatuhkan vonis mendahului persidangan.



Jangan biasakan membuly mantan pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, Ulama dan lain sebagainya. Bersabarlah nanti pada saatnya Pengadilan menyimpulkan. Terlebih menyangkut ulama, ulama dalam struktur masyarakat Muslimadalah jabatan yang tertinggi dari jabatan apapun, manakala ada pihak baik itu masyarakat dan apatah lagi pejabat penegak hukum manakala membuly ulama maka dipastikan akan membawa i,bas bahkan akibat langsung yang sangat mengerikan. Dalam agama Islam ulama yang paling dibenci oleh Kafir, Yahudi dan Nasrani justeru adalah ulama yang terbaik di mata Allah.

Perlakukanlah Ahok secara adil, sebagai wujud dari masyarakat bangsa yang beradab dan berbudaya tinggi, yang akan selalu berpihak kepada kebenaran, darimanapun kebenaran itu berasal. Jangan diteruskan memberikan penilaian buruk kepada ulama tampa melalui proses persidangan yang benar benar sesuai dengan aturah hukum yang berlaku. Sementara Pemerintah harus benar benar menegakkan hukum secara adil, karena ketidak adilan yang dipraktekkan oleh Pemerintah adalah merupakan acaman akan terpecahnya bangsa yang sama sama kita cintai ini. Lain Thailand lain Indonesia, karena perceraian di sana ternyata memiliki intrik politis, sebagai perceraian zaman now, sementara bangsa kita adalah bangsa yang beragama.

MUI HARUS SEMAKIN BERSUARA

Peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) semakin dituntut ummat, himbawan MUI terakhir tentang diselenggarakannya Sholat gerhana, nampaknya telah direspon oleh ummat, sebagian besar Masjid dan Musholla telah menyelenggarakan sholat sunnat yang terbilang langka ini, termasuk diantaranya Musholla kami yaitu Mussholla Aljihad Perumahan Korpri di Kecmatan Korpri Korpri Bandar Lampung, yang diikuti sejumlah jama'ah yang tak dapat disebut sedikit, sesuai dengan daya tampung musholla yang terbilang mungil ini.

Para jama'ah nampak sangat bahagia mendapatkan kesempatan mengikuti sholat yang langka ini, apalagi setelah mendapatkan penjelasan dari Khatib Ust. Bainal Huri menjelaskan bahwa suasana batin ummat pada masa Rasul diliputi oleh rasa takut dan penuh perserahan diri kepada Allah Swt.  Itulah sebabnya maka dalam peristiwa tersebut selalu ditandai selain sholat gerhana secara berjama'ah juga dikumandangkan pembacaan Kitab suci alqura, takbir, tahlil dan tahmid, serta membaca istighfar sebanyak banyaknya, lalu dilengkapi dengan kegiatan bersedekah.

Sayang tidak cukup waktu untuk menjelaskan segala sesuatunya dengan waktu yang mencukupi sehinga masih ada yang tidak cepat memahami akan rentetan acara yang diselenggarakan.Ambil misal ketika dibuka waktu untuk mendorong jama'ah bersedekah yang diawali sedikit penjelasan, tetapi ternyata jama'ah memang tidak menyiapkan segala sesuatunya. Bahkan ada pihak yang lebih terlancing menjelaskan pentimngnya makna keikhlasan dalam dalam bersedekah, yang manakala kita tilik kalimatnya bahwa dalam bersedekah itu memang dalam prakteknya, seperti yang lazim diceramahkan, apabila tangan kanan bersedekah, maka tangan kiri tak tahu menahu. Sehingga sesi bersedekah dalam acarta ini bisa disebut gagal, dan karena juga para jama'ah tidak mempersiapkan diri sebagai mana layaknya akan menghadiri farum yang membuka sesi sedekah.

Namun walaupun demikian jumlah jama'ah mengalami peningkatan, terutama para ibu ibu yang sebagiannya terpaksa duduk diteras, karena tak kebagian tempat duduk di dalam, namun tak mengurangi kenyamanan dalam melaksanakan sholat berjama'ah, karena para makmum dapatr mengikuti atau mengetahui gerak gerik imam yang harus diikuti dalam kegian sholat berjamaah.

Tidak sedikit para jamaah yang sejak awal  bertanya tentang rencana pelalksanaan sholat gerhana,  karena mereka sempat mengetahui akan himbawan sholat gerhana dari pihak MUI, tetapi MUI tidak terlalu banyak memberikan bimbingan, sehingga masa masa mendatang mungkn gtidak salahnya bila pihakMUI memberikan jimbawan dan bila perlu bimbingan terkait ajaran dan tuntunan sesuatu yang sejatinya terbilang langka. Memang selayaknya MUI banyak bersuara dalam rangka membimbing ummat.