Wednesday, January 3, 2018

MENGANTISIPASI KEPIKUNAN DINI

Pikun kiranya perlu diantisipasi agar memiliki usia ibadah yang lebih panjang, bisa jadi kita di akhir akhir usia kita memiliki peluang meningkatkan ibadah kita, membelanjakan harta kita untuk menambah amal yang mampu kita laksanakan. Bisa jadi kesadaran datang agak terbelakang, sehingga kita mampu melengkapi dan menyempurnakan tugas kita sebagai hamba Allah, membelanjakan sisa sisa harta kita di jalan Allah. Untuk itumaka berarti kita memiliki keuntungan manakala kita tak juga mengalami oenyakit pikun hingga beberapa saat kita menemui ajal, sehingga barangkali dengan kepikunan kita memang berarti kita terlepas dari  mengalami kepikunan dini. Terlepas apakah ada istilah kepikunan dini dalam dunia kesehatan, karena saya sangat awam, dalam hal ini. Dari dunia kesehatan kita juga menerima informasi bahwa upaya menghindari kepikunan datang lebih cepat bisa dihindari dengan berbagai hal, mulai dari cara cara yang wajar seperti sering membaca dan ,mendengar informasi baru, olahraga otak seperti mngiei TTS, olahraga, beraktivitas seni, membiasakan minum kopi secara terkendali, hingga ke hal hal yang berbau konyol, yaitu membaui kentut masing masing. Sungguh Allah maha Pengasih dan Maha Penyayang serta tak ingin menyusahkan.

Allah Maha Tahu dan Maha Penyayang dengan kasih sayang Allah ditentukan kapan kita sebaiknya masuk ke masa masa oikun untuk keringanan atas beban yang sulit bagi kita untuk memikulnya. Getapi yang harus kita antisipasi adalah jangan sampai kita pikun adalah karena sejumlah kesalahan dan kekliruan yang kita laklukan sendiri, sehingga kepikunan itu sifatnya bukan Rahmad dari Allah tetapi lebih sebagai hukuman bagi kita yang lalai. Barangkali yang ini yang harus kita siasati agar tidak terjadi terhadap kita.

Nabi Muhammad SAW bersabda :


رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ : عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ ، وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
Pena diangkat (Kewajiban gugur) dari tiga orang ; Serseorang yang tidur hingga bangun, anakkecil hingga bermimpi (baligh) dan orang gila hingga Ia berakal (sembuh)

(HR. Abu Daud no. 4403, Tirmidzi no. 1423, An Nasa’i no. 3432, Ibnu Majah no. 2041. Abu Daud berkata: Diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dari Qasim bin Yazid dari Ali radhiallahu’anhu dari Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam ada tambahan di dalamnya, yaitu  وَالْخَرِفِ  (pikun). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam shahih Abu Daud) Ulama ada yang mengatakan, bahwa kata ( وَالْخَرِفِ ) berasal dari kata الْخَرَف, yaitu kerusakan akal disebabkan usia tua.sehingga kita dapat memperkirakan yaitu mereka yang pikun. 

Orang banyak mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pikunitu adalah kerap lupa, Di sini kita tidak membahas definisi pikun, tetapi hanya memberikan tekanan serba sedikit bahwa yang dimaksud dengan pikiu di sini adalah kehilangan kemampuan untuk membedakan mana benar dan mana pula yang salah  Orang mengalami pikun sering mengalami hal demikian, sehingga ada kecenderungan untuyk mengikuti saja status hukum orang pikun tidak lagi di kenakan sangsi sangsi huku, kita disejajarkan dengan anak kecil orang tidur dan maaf, orang gila. Walaupun kelupaan itu kadang hanya kadang kala saya bukan full time. Hal ini harus dotanyakan kepada dokter dan ulama sekaligus, agar bisa mengkaji dari dua segi. 

Tulisan ini hanya membatasi bagaimana kita mengantisipasi kepikunan dan apalagi kepikunan karena kesalahan sendiri. Jangan sampai kita akibat kesalahan sendiri lalu harus dikelomp[okkan kedalam kelompok yang sejatinya hanya terdiri dari anak kecil, orang tidur dan orang gila. Kalau kita dikelompokkan kedalam kelompok itu karena kasih sayang Allah, itu alhamdulillah, tetapi kita terpaksa dikelompokkan secara dini akibat kesalahan kita sendiri, itu astaghfiurullah. Hebatnya lagi ternyata Allah telah memberikan berbagai kemudahan kepada lkita untuk mengantisipasi datangnya kepikunan secara dini, maka akan sangat tergantung kepada kita apakah kita mau melakukan antisipasi itu, atau kita hanya pasrah saja. 

Mengantisipasi terjadinya kepikunan dini itu bisa dengan berbagai cara, kita bisa memanfaatkan segala cara itu mulai dari yang sulit dan pelik, mulai dari yang mulia dan bisa juga dengan cara konyol sekalipun. Subahanallah Tuhan memberikan kemudahan. Ada gagasan untuk mencegah pikun dini adalah dengan cara melatih pemakaian otak seperti main game yang menggunakan cara berfikir keras seperti main catur, ada juga sedikit santai, yaitu mengisi teka teki silang. Ada pula konsep dengan cara bersenang senang, yaitu bermain musik dan olahseni lainnya, setidaknya bernyanyi. Ada juga dengan cara yang tidak kalah menyenangkan, yaitu rutim minum kopi hangat, sangat menyenngkan bukan ... ?. Ada pula dengan cara yang sangat mulia, yaitu membaca kitab suci al-Quran. Sudah banyak contoh orang yang sudah tua masih mampu berfikir OKe ternyata rahasianya adalah rajin membaca al-Quran. Tetapi ada juga cara yang sangat konyol, yaitu rajin rajin membaui bau kentut sendiri. Bau yang tak sedap dari produk sendiri itu jangan cepat cepat diusir, melainkan nikmati bau tak sedap itu, karena membau kentut itu ternyata mencegah terjadinya pikut. 

Kini terserah anda cara apa yang akandikembangkan, agar tidak terjadi kepikunan sebelum waktunya. Bila kita pikun sebagai kasih sayang Allahagar diusia kita yang renta dan tak mampu apap apa lagi itu kita dipikunkan, dan kita dibebbasklan darti sangasi sangsi hukum. Tetapi bila anda memiliki potensi untuk masih secara rutin melakukan aktivitas sosial dan sekaligus menimba pahala dan kita memiliki potensi pendukungnya, maka sejatinya, kepikunan itu harus diantisipasi kedatangannyanya secara dini. jangan sampai kita pikun dini karena kesalahan dan kekeliruan kita sendiri. Insya Allah. 



Monday, January 1, 2018

JADIKANLAH ORANG TUA SEBAGAI TIKET KE SYURGA

SAMBUTAN AN KELUARGA BESAR ANAK KETURUNAN M.DANI 

Disampaikan oleh Syafruddin M.
Pringsewu  1  Januari 2018

Assalamu'alaikum Wr Wb
Yth. Kakanda Tarmizi dan Kakanda Rafii,

Ijinkan saya menyampaikan sambutan atas nama keluarga besar dan anak keturunan M. Dani. Kakanda berdua dan adik adik serta anak keponakan keluarga besar anak keturunan M. Dani, hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi kita semua, pertama karena sekarang sudah masuk tahun 2018 yang berdasarkan kesepakatan umm adalah merupakan penanggalan resmi dan merupakan salah satu penanggalan yang banyak digunakan masyarakat dunia. Kedua untuk kesekian kalinya kita bisa menyelenggarakan acara ini dengan harapan akan besar manfaatnya bagi kita semua sebagai anak keturunan almarhum M. Dani beserta Ibunda Siti Aisyiah. 

Dan hari ini juga acara kita telah  menghadirkan seorang Ustad yang tadi telah menyampaikan tausiahnya, semoga bermanfaat.  Saya sangat terkesan atas sebuah postingan di grup keluarga IKA Lamban Lunik, saya tahu itu sudah beberapa kali diposting baik dalam grup maupun dikirim ke saya lewat Japri atau jaringan pribadi. Terus terang saya agak Gaptek dalam bermain di medsos, walaupun saya dapat bersentuhan dengan aktivitas itu, sekalipun  masih membutuhkan jasa pihak ketiga, baik dalam menerima apalagi membalas ataupun mengirim. Dalam kesempatan ini sekaligus saya mohon maaf bila terjadi kejanggalan kejanggalan, karena cucu  yang membantu justeru belum bisa membaca dan menulis. Dan saya tak faham cara menghapusnya. Mohon di hapus sendiri sendiri saja.

Diantara postingan yang saya terima itu yang paling terkesan bagi saya adalah kalimat yang mengatakan " Bahwa bagi siapapun yang telah menjadikan orang tuanya sebagai raja, maka Allah akan merajakan rizki dan derajat  yang bersangkutan" selama ini saya belum terfikir dan belum berani mengatakan itu kepada siapapun teruitama kepada anak kandung, tetapi sejak saya membaca postingan itu saya menjadi sanggup menjanjikan dan menjaminnya. Tetapi karena ini ucapan seorang ulama, atau tulisan para cerdik pandai yang tentu saja memiliki nash yang kuat dan didukung oleh pengalaman sejumlah orang, dan dengan segala kerendahan hati saya ingin katakan bahwa saya sendiri telah merasakan kebenaran ungkapan itu. Sekali lagi, bahwa Allah akan merajakan rejeki dan derajat bagi siapapun yang telah merajakan orang tuanya. 

Mohon maaf kepada kakanda berdua yang hadir dalam majelis ini serta adik adik ku, anak anak kami, cucu cucu kami serta cicit kami, dengan ucapan maaf dan segala kerendahan hati, bila kita sekarang masih memiliki orang tua, maka Rajakanlah kedua orang tua kalian, bila masih memiliki mertua, maka rajakanlah mertua kalian, bila masih memiliki paman ataupun bibi, maka rajakanlah paman atau bibi kalian, manakala itu telah kalian lakukan, maka kalian akan dirajakan oleh oleh Allah Swt baik rejeki kalian ataujpun derajat kalian atau mungkin keduanya, sesuai dengan kadar keikhlasan kalian, camkanlah apa yang saya sampaikan ini. 

Ketika yang tersisa adalah Ibu dari putera puteri M. Dani atau nenek dari para cucu dan seterusnya, saya telah mendampingi almarhumah Ibunda  bukan hanya dalam hitungan bulan, tetapi mencapai tahunan setiap malam saya tidur dikursi mendampingi beliau, saya memang belum pernah mendengar tausiah dari para ulama kita seperti apa yang menjadi judul tema pembicaraan kita, tetapi ingin saya katakan pada saat itu serasa ingin saya menyembah almarhumah Ibunda sebagai rasa terima kasih dan bakti seorang anak,   tetapi sepengetahuan saya itu dilarang agama, karena sembahan kita adalah hanya Allah. Tetapi nurani ingin memulyakan beliau dihadapan Allah Swt, apalagi setiap malam saya memandangi wajah tua dan lelah, yang telah mebesarkan kami semua sebagai anak anaknya dengan segala kasih sayang. Sementara bakti kami sebagai anak sangat tak sebanding, beruang ulang, berkali kali, setiap malam terasa sulit membendung air mata yang terjatuh dari pelupuk mata ini.

Setelah membaca postingan di WA tadi semua itu bagaikan pemutaran ulang sebuah film, belakangan saya secara pribadi baru menyadari bahwa saya telah bernasib baik mengurusi orang tua hingga akhir hayatnya. Betapa saya dalam hidup yang terasa singkat ini merasakan berbagai kemulyaan yang telah saya dapatkan. Saya baru sadar bahwa kemulyaan itu saya dapatkan sebagai balasan dari kasih sayang saya berikan kepada Ibunda. Rejeki saya terbilang lancar, dan saya mendapatkan kemulyaan dari bakti yang sejatinya  hanya sekelumit dan sangat tak sebanding dengan kasih sayang yang telah Ibunda kita berikan kepada kita semua.

Belakangan baru saya lebih menyadari bahwa kemulyaan yang saya dapatkan adalah sesuatu yang luar biasa, sahabat lama masih tetap  respek dan masih ingin bersahabat dengan saya, sementara sahabat baru masih saja tetap bertambah. Dan tak jarang saya berfungsi pula sebagai perekat antara satu dengan yang lain dalam berbagai person, baik keluarga ataupun di luar keluarga. Walaupun nanti kenyataannya mempertahankan itu akan lebih sulit dibanding mendapatkannya. Saya merasa telah mendapatkan lebih dari kepantasan yang harus saya dapatkan, tetapi apakah saya mampu mempertahankan itu semua, sangat tergantung kepada kemampuan saya memeliharanya dengan dengan kedekatan kepada Allah, dan hubungan sosial atas sesama manusia. Baik internal keluarga saya, keluarga besar M. Dani maupun keluarga yang lebih luas lagi hingga masyarakat.

Belakangan sya juga mulai mempertanyakan, 'Mampukah Saya Mempertahankan Berkah Dan Hidayah Yang luar Biasa Dari Allah ini ? ' Untuk mempertahankannya ternyuata saya tidak cukup dengan melaksanakan segala kewajiban peribadatan saya semata, tetapi juga harus melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi orang banyak. Oleh karenanya bukan hanya tergantung kepada saya pribadi, tetapi juga terletak kepada keluarga,  isteri, anak dan cucu serta keluarga besar. Kita semua dibutuhkan kerjasama dan saling mendorong agar mendapatkan kepantasan  untuk menempati syurga. Seseorang tidak akan bisa masuk syurga sendiri, tetapi harus bersama orang orang yang berada dibawah tanggung jawabnya, isteri, anak anak dan siappun yang sejatinya berada dibawah tanggung jawabnya, termasuk juga tetangga, sahabat, mitra dan lain sebagainya. Ketahullah seperti dalam tausiah yang dikirim lewat postingan di WA itu bahwa mengurus orang tua dan merajakan orang tua sesungguhnya bisa menjadi tiket menuju syurga, karena dia akan diarajakan oleh Allah baik rejekinya, maupun derajatnya. Serta nasibnya di hari akhir kelak.

Dengan segala kerendahan hati dan kesadaran akan kehinaan diri ini ingin saya sampaikan bahwa manakala kalian masih memiliki orang tua, maka manfaatkanlah orang tua kalian  untuk menjadi tiket ke syurga, manakala masih memiliki mertua, maka manfaatkan mertua kita untuk mendapatkan tiet ke syurga, demikian pula ketika masih memiliki pamn bibi dan sebagainya, atau siappun mereka yang telah tak memiliki lagi daya dan kekuatan, maka itu semua dapayt kita muliakan agar kita juga mendapat kemulyaan dari Allah. Apabila kita mengecakan mereka maka kita akan dikecewakan oleh Allah, manakala kita menyakiti mereka maka kita akan sakitkan oleh Allah. Apabila kita menghinakan merekamaka kita akan dihinakan oleh Allah, ini janji Allah Dan kita semua tidak tahu bagaimana nasib kita nanti, oleh karenanya marilah kita perbanyak istighfar, dan berserah diri kepada Allah. Peringatan ini saya tujukan untuk memperingatkan diri saya sendiri, syukur bila akan bermanfaat bagi kita semua sebagai anak, cucu, cicit dan seterusnya dari keluarga M. Dani.  

Camkanlah ini baik baik, wahai semua anak dan cucu, serta civcit M. Dani dan Siti Aisyah, dan marilah kita doakan agar keduanya mendapat tempat di sisi Allah, yaitu tempat yang membahagiakan bagi kediuanya, Amin YRA.



Saturday, December 30, 2017

SYAMSUL RIJAL'S PROBLEM


Siapa Syamsul Rijal. Nama lengkapnya Syamsul Rijal, cara menulisnyapun demikian, Syamsul Rijal, tetapi kami umumnya menyapa beliau dengan spaan akrab, Kakah atau Kak, Kak Ijal ... lazimnya. Ini cerita tentang problema besar yang dihadapinya, yang baginya sendiri tak mungkin di tasi pada saat itu. Sekali lagi pada saat itu. Karena belakangan hal yang demikian tidak problem baginya. Problema itu berat baginya pada saat itu, sehingga secara diam diam beliau meninggalkan Yogyakarta, Padahal sejatinya suasana Yogya telah mengobsesinya. Putra ganteng kelahiran Kedondong ini dengan segala berat hati, meninggalkan sesuatu yang sangat disayanginya diYogyakarta, Memalukan ?, tergantung posisi pandangnya, Kasihan sekali ... demikianpun rahasia ini sama sekali tak mampu juga, untuk disembunyikannya. Walaupiun tidak sedikit orang yang mencibir, tapi apa boleh buat, dia harus jujur dalam menjawab pertanyaan. Bila ada yang mempertanyakan hal itu, kejujuran adalah di atas segala gala nya. 
Tidak kurang dari seorang Hasby Syahid, pada saat itu Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Rdi, yang kelak berubah menjadi UIN.  Celakanya justeru pertanyaan ini diajukan kepada Syamsul Rizal, di depan umum, sehingga berita ini menjadi mutawatir. Bukan Hoax.

Syamsul Rizal, SLA nya di Yogya ... ? tanya Pak Hasby,   yang juga menyimpun seribu kenangan di kota itu.
Betul Pak ... ! Kata Kak Ijal ragu ....

Kenapa tidak melanjutkan di IAIN Yogya saja ... ? Tamya Pak Hasby, seperti menghakimi.

Terlihat Kak Ijal tertunduk lesu .... kamipun menjadi cemas. 
Nyawa saya terncam  Pak .... Kata Kak Ijal lebih menunduk lagi, pelupuk matanya nampak berkaca kaca. Kami menjadi terhenyak ... dan Pak Hasby nampak tersandar dikursinya ... seperti tak berdaya. 
... seakan tak mampu melanjutkan pertanyaannya.




Hening .... suasana ruang kuliah menjadi demikian hening.

Macam macam praduga buruk telah terjadi yang mengakibat Kak Ijal ... bersembunyi di Lampung. Apalagi saya tahu Kak Ijal di rumah Kostnya ... menempati kamar di bagian belakang,  tentunya memiliki alasan dan pertimbangan tersendiri. Apakah ini terkait dengan persembunyiannya itu.

Apa yang telah kamu lakukan .... ? Tanya Pak Hasby. Seperti menyelidik.

Tetapi saya memang tidak melakukannya Pak .... saya siap bersumpah, Jawabn kak Ijal sengit. Nampaknya Ijal akan mempertahankan nama baik  dan segala haknya. 
Kami semoa berdoa semoga  Kak Ijal tidak sedang menghadapi kasus yang berbelit belit.

Padahal kamu tidak melakukannya, lalu apa hukumannya ... cecar Pak Hasby.
Saya gak boleh makan di Yogya Pak .... ! Kata Kak Ijal malu. Kami sangat iba melihat wajah Kak Ijal


Kejam sekali mereka .... ! Kata Pak Hasby membela.
Itu sama dengan pembunuhan kan Pak ... ! Kata Kak Ijal mulai percaya diri.
Kami menemukan sinar harapan dan agak tenang. Semoga kak Ijal bisa mempertahankan segala haknya.

Lalu apa alasan mereka melarang Ijal makan ... ?
Saya belum bayar Uang Kost Pak .... !
Lha kenapa tidak segera dibayarkan ... ?
Saya disuruh orang tua pulang pak ... untuk daftar kuliah di IAIN Rd. Intan, kata orang tua saya IAIN Rd. Intan sekarang Bagus.

Bagus Bagai mana maksudnya ... ? Cecar Pak Hasby.
Kata orang tua saya Rektor IAIN Rdi. dari ABRI.
Dari pada saya gak ada yang ngasih makan di Yogya  ... lebih baik saya kuliah di Lampung aja Pak.
Syamsul Rizal menambahkan.

Kawan kawan meninggalkan ruangan sambil berteriak Huuuuu .... menyambut suara bel telah berbunyi
Pengalaman Kak Ijal memang Banyak sekali.

Friday, December 29, 2017

ANTISIPASI GERAKAN MELAWAN TUHAN

Khatib sholat Jum,at tadi siang di Masjid Al-Falah Perumahan Korpri Bandar Lampung, yang memperingatkan agar kita serentak mengantisipasi manakala ada gerakan gerakan yang massif untuk melalukan perlawanan kepada Tuhan. Sudah banyak masyarakat terdahulu yang diceriterakan dalam al-Quran untuk melakukan erlawanan kepada Tuhan. Gerakan semacam ini nantinya berakibat musibah berat menimpa semua, oleh karenanya manakala sudah nampak ada gerakan yang massif untuk melawan Tuhan, maka antisipasilah, demi kesalamat bersama.

Setidakmnya menurut Cakl Nun (Ainun Najib) bahwa rezim Jokowi sekarang ini tidak menunjukkan gejala mencintai Tuhan dan ingin dicitai Tuhan, dengan sikap yang demikian itu, maka rezim ini dipastikan akan melakukan pembiaran terhadap erbagai upaya yang massif untuk melakukan perwanan kepada Tuhan. Apakah benar demikian, jawabnya belum tentu, Kita masih membutuhkan studi kritis.

Tetapi tulisan ini tidak dimaksudkan untuk study kritis itu, ini tulisan suka suka tidak didukung dengan data yang valid tidak pula menggunakan kerangka berfikir yang tajam, dan sayapun bukan penulis yang berpengalaman, tak lebih dari ungkapan rasa seorang awam saja, itulah sebabnya maka tulisan ini menjadi sangat ringan dan remeh temeh. Hanya semacam kekhawatiran yang sejatinya sangat gampang dibantah. oleh siapapun dan dengan cara bagaimanapun, karena ini terkait dengan kekhawatiran dan keyakinan.

Yakin dengan kebenaran  barbagai kisah yang diceritakan di dalam Al-Quran bahwa upaya upaya perlawanan kepada Allah nantinya akan berakhir dengan kehancuran massal. Dan kita meyakini bahwa Allah bukan sekedar gertak sambal. Lalu dari mana kita yakin bahwa sedang ada upa masif untuk melakukan perlawanan kepada Tuhan Allah adalah melalui upaya upaya mempersulit orang orang yang terkenal patuh kepada Tuhan. Jika ditanyakan kepada ummat yang awam sekalipun bahwa upaya mengkriminalisasi para ulama,menggerudug dan dan mempersekusi para ulama yang sedang melaksanakan dakwah adalah merupakan upaya yang nyata nayata sebagai perwujudan perlawanan kepada Tuhan, ibarat makan bubur, yang masih panas maka dimulai dari bagian pinggir, yang nanti pada saatnya semua bagian dari bubur itu akan dingin dan mudah di santap.

Pastinya ada pemikiran bahwa untuk melawan Allah tidak langsung frontal kepada Allah secara ansich, tetapi mulai dari para ulamanya terlebih dahulu dilemahkan. Sayangnya di luar dugaan bahwa karakter ulama yang asli adalah justeru mereka merindukan mati syahid,. bagi ulama hanya dua pilihan yang diberikan kepada mereka 'Hidup Mulya Atau Mati Syahid' Bagi ulama yang KW bisa saja masih diketemukan pilihan yang ketiga, keempat atau bahkan kelima dan seterusnya. Mereka ini lah yang sedang dirayu rayu untuk melaksanakan atau menjadi ekskutor pengganggu para ulama kita.

Kalau para ilmuan yang ingin melawan Allah maka tangkal lah dengan ilmu juga, bila para politikus yang ingin melawan Allah maka kita antisipasi dengan politik juga, bila ekonom yang berusaha melawan Allah maka kita antisipasi dengan ekonomi juga. Maka manakala penguasa yang menunjukklan gejal;a gejala sedang berusaha melawan Allah maka tidak ada lain cara adalah dengan cara merebut kekuasaan iyu dari tangan mereka. Bila cara yang mereka tempuh itu adalah dengan melemahkan para ulama, serta usaha yang masif untuk membelokkan akidah Islam.

Tidak tertutup kemungkinan bisa merebut kekuasaan di Indonesia manakala Pemerintah dan Penguasa melaksanakan sistem demokrasi, bukan sistem diktator. Bila Pemerintah konsekuen akan melaksanakan demokrasi maka peluang kemenangan ada di pihak Islam karena Islam mayoritas, sehingga manakala dilaksanakan Pemilihan Umum secara jujur dan adil (jurdil) maka besar kemungkinan akan dimenangkan kelompok Islam, Memang dinatara para pihak, maka pihak ulamalah yang paling berpeluang untuk mempersatukan suara ummat Islam, bukan politisi, bukan ekonom, dan bukan pula penguasa. Melainkan ulama, maka memang manakala ingin melelamhkan kelompok Islam, maka lemahkan terlebih dahulu ulamanya.

Bila penganut agama akan melakukan perlawanan atau penentangan atau pengingkaran terhadap ajaran Allah, itu dipersilakan saja, karena tak sesuaidengan keyakinanya, tetapi manakala perlawanan atau penentangan itu dengan cara melakukan gangguan atau menghalangi halangi ummat Islam melaksanakan ibadah dan mlaksanakan syariat Islam dalam kehidupannya, itu adalah sesuatu yang tidak fair, biarkan umat Islam melaksanakan ibadahya dan berkehidupan dengan syariat Islam itu adalah hak ummat Islam yang juga harus dihormati.

Wednesday, December 27, 2017

ULAMA DI LUAR NEGERI DISELAMATKAN GITAR

Enggak puas melakukan persekusi terhadap ulama karena ummat mebela mereka matia matian melalui media sosial, para ulama ulama berdakwahpun dikejar ke luar negeri dan meminta Pemerintah resmi negara sahabat mendeportasinya, dengan harapan sipembuat ulah bisa cuci tangan, ternyata ummat tak kenal lelah mereka mencari informasi, karena tak mungkin negara sahabat melakukan tindakan gegabah itu tampa ada informasi dari Indonesia, bukan informasi, malahan pesanan. "Becik ketitik olo ketoro" kata pepatah Jawa, permainan curangpun akhirnya terbongkar juga, ada saja cara Allah membukanya untuk mempermalukan mereka, justeru pihak negara sahabat yang buka bicara, atas segala pesanan para pemain kotor asal Indonesia sendiri.Mengapa begitu dendamnya orang orang itu atas kekalahan Ahok, mungkin karena dibelakang Ahok ada uang banyak.



Nampaknya bila ulama tertentu yang dicintai ummat akan melakukan pelawatan ke luar negeri selalu saja didahului sejumlah informasi dari dalam negeri tentang siapa yang bersangkutan. Nampaknya yang paling mudah membuat pihak negara tetanga langsung antipati adalah manakala diberitakan bahwa yang bersangkutan adalah ISIS, sebab mendengar nama ISIS langsung pihak Negara Sahabat akan bereaksi. Nampaknya inilah yang dialami Ust. Tengku Dzulkarnain dalam lawatannya ke berdakwah mengunjungi para TKI/TKW sebagai duta devisa, di mana mereka merindukan kehadiran sejumlah ulama panutan. Nampaknya sebelumnya didahului dengan sejumlah informasi buruk tentang yang bersangkutan, dan informasi yang paling meracuni itu adalah ISIS.

Cerita USt. Tengku Dzulkarnain ke mana mana Ia di negeri jiran selalu dibuntuti sebuah kendaraan, nampak nampaknya kendaraan tersebut dilengkapi peralatan yang mampu merekam semua apa yang diucapkan oleh beliau, dan peralatan itu dilengkapi pula dengan aktivitas penterjemahan ke dalam bahasa setempat. Sehingga aparat yang ditugaskan  langsung tahu tentang konten dakwah beliau. Tetapi ada peristiwa yang benar benar tak terduga, pada suatu kesempatan, Ust. Tengku Dzulkarnain melihat ada Gitar listrik di hotel, sehingga tergerak hati gitaris amtir ini tergerak ingin mencoba. memang nampaknya kurang jodoh baru beberapa nada didengungkan, tiba tiba ada tali gitar yang putus, tak kurang akal beliau menyampaikan sebuah puisi. Pada saat itu petugas hotel kembali menyiapkan gitar, dan selesai. Akhirnya Tengku menyanyikan sebuah  lagu yang berjudul Ayah oleh Ebiet G Ade. Dan hadiripun Hadirinpun terkesima, karena lagi dinyanyikan dengan sempurna. Tapi yang paling jengkel adalah Tim yang memata matai sang Ustadz, mereka merasa ditipu dengan kiriman informasi sampah dari Indonesia tentang Ustadz kita ini.

Buru buru Tim meta mata inilangsung menemui Ustadz, dan mengatakan dihadapan Ustadz langsung bahwa dalam beberapa hari ini mengamati pidato dan aktivitas Ustadz dan akan segera mengambil tindakan, manakala diketemukan bukti bahwa yang bersangkutan menunjukkan adanya tanda tanda sebagai anggota ISIS. Tetapi sebelumnyasebagai petugas mata mata mereka telah diberitahukan tentang ciri ciri ISIS secara detail, antara lain bahwa ISIS mengharamkan musik, jadi bila ada Ustadz yang bermain musik, berarti itu bukan anggota ISIS. Ulama Tengku Dzulkarnain ini rupanya diselamatkan oleh gitar. Selamatlah Ustadz dari deportasi, karena pandai bermain gitar, ISIS menharamkan musik, bila suka bermain musik, berarti bukan anggota ISIS, Selamatlah sang Ustadz.

Dalam cerita ini yang paling mengejutkan kita adalah ulah sejumlah pejabat dan tokoh justeru yang memberikan informasi yang sangat menyesatkan pihak negara sahbat, Dan seharusnya Pemerintah  justeru melindungi keselamatan warganya, bukan meminta agar warganya dideportasi, hanya lantaran kurang sejalan dengan Rejim yang tak melaksanakan UU dengan baik ini. Kita berharap situasi ini segera berakhir.

Tuesday, December 26, 2017

HIKMAH LELUCONKU YANG TAK LUCU.

KENGAN BERSAMA PAK MASDAR.

Sesuatu pristiwa terkait diri yang sulit untuk dilupakan antara lain adalah manakala terkait dengan rasa malu. Itu terjadi kepada saya dan beberapa orang teman saya, pada saat kami masih duduk di bangku SLTA, tepatnya PGAN 6 Th Tanjungkarang, Kenangan mendadak sontak kembali teringat segar manakala secara tak sengaja saya jumpa dengan para pelaku. Dan salah satu pelakunya adalah Bapak Masdar. Secara tak sengaja kemi berjumpa di tempat pesta ketika sama sama kami menghadiri undangan  Bpk. Suhanda di Metro 26 Desember 2017 kemarin.
Saya datang agat terlambat, saya fikir saya langsung bisa salaman kepada pengantin dan keluarga, ternyata belum, masih ada acara halo halo plus tarian daerah, sehingga langkah saya banyak terhambat oleh sesaknya udangan yang tak kebagian tempat duduk. Karenanya langkahku kubuat agak berhati hati dan sedikit menunduk agar tak memijak sesuatu yang membuat orang lain terganggu.
Tiba tiba langkahku di hentikan dengan dua buah tangan seperti kenal dekat layaknya, tetapi kalimat pertama yang terucap dari nya justeru pertanyaan Lupa ... ? Wajah saya memucat takut ketahuan bahwa saya lupa ... lalu Iya menyebut namanya ... Masdar ... !, katanya dan setengah terpekik saya menyebut Pringsewu .... Ambarawa ... !? .... Iya iya katanya sangat yakin bahwa kami berdua saling kenal. Sejak tahun 1975 ... kami tak pernah lagi baku jumpa. selama 45 tahun.

Saya bilang bahwa setiap jumpa teman teman saya selalu menanyakan anda, dan saya pernah beberapa kali ke Pesantren di Ambarawa Pringsewu, saya berharap jumpa anda kata saya gembira. tetapi ternyata nihil. Sejak saya tinggalkan kampus PGA kami tak pernah jumpa, bahkan tak ada teman yang dapat kutitipi salam kata membanggakan rasa persahabatanku. Kalo nama saya lupa, tetapi wajah saya akan selalu ingat dengan ciri ciri anda. Waduh ... pernyataan yang luar biasa.Jelas dia lebih hebat, rasa persahabatannya jauh lebih luar biasa. Dia yang lupa dengan nama saya tetapi tak melupakan wajah dan ciri ciri saya 45 tahun yang lalu. Luar biasa. Kenagan itu ditelannya sendiri saja. Dan tak pernah pula bertanya pada orang lain karena dia memang lupa nama saya, Dia hanya ingat ciri wajah saya saja.

Masdar, dia pernah sukses mengocok perut di suatu acara kami dengan banyolan ala Ludruk Surabaya, tak heran bila kelahiran Ambarawa Pringsewu ini mampu berbuat itu. dilahirkan dan dibesarkan di tengah komunitas Suku jawa, dia adalah salah satu dari sedikit di sekolah kami.Pada saat kami mendapat kesempatan untuk tampil menyajikan lawakan, sebenarnya saya ikut merancang tampilan yang saya harapkan pada saat itu menjadi debut yang sukses. Sekelompok Ibu Ibu akan menyelenggarakan acara api unggun, dan kami dimintai mengisi acara lawak, maka saya mengusulkan diadakan lawakan Wayang orang, main wayang yang wayangnya adalah orang. Dalangnya Mas Masdar, wayangnya saya, Fachruddin (Lampung, Pagelaran), Armidan (Lampung, Baradatu) dan M. Najib (Baturaja, Ogan).

Setingnya, kami sebagai wayang tak bicara apa apa, kami hanya bergerak Sang dalang yang bicara, plus gamelan, Sang dalang mengawali dengan Suluk plesetan, yang isinya memanggil kami masuk, yang pertama masuk berdasarkan panggilan, saya dikenalkan sebagai punakawan, sementara berjalan bagikan Gatotkaca, gagal  memancing tawa, karena seriusnya menjadi kaku. Panggilan kedua oleh dalam adalah Armidan dan Najib yang jalan lambat seperti penganten yang maju ragu ragu, musik dari mulut ki dalam bertalu talu tetapi si wayang berjalan kalem kalem saja, dan penonton mulai ketawa, menertawakan ki dalam yang suluknya berisikan omelan terhadap cara kedua wayang ini berjalan, sepertinya kedua orang tak familiar dengan bahasa Jawa sehingga tak merasa diomeli.

Tertawa meledak ketika dipanggung Armidan dan M. Najib ngobrol berbisik bisik dan ditegur oleh ki dalam dalam bahasa Jawa, berikutnya tawa menghilang, penonton mulai bosan atas ketidak kompakan kami. Tiba tiba tepuk tangan bergemuruh pada saat memang tak ada yang pantas ditepuki. Saya sadar bahwa sesungguhnya kami diusir dari panggung, saya memberikan kode kepada dalang agar sudahan. Dia mengerti.

Padahal skenarionya, kamiharus goro goro dulu dan mempersilakan M. Najih menyanyi ... kami bertiga dalam berjoget dan mengajak ibu ibu peserta, sayang kami kehilangan komunikasi. Setelah goro goro rencana Bronto Yudho terjadi perbedaan pendapat kami beriga dan berakhir perang, saya berhasil mengusir dua wayang lainnya, sementara saya terjadi perselisihan dengan dalamng dan saya kalah dalam Prang Brotoyodo dengan cara melarikan diri dan dikejar oleh ki dalang, Selesai.

Malu rasanya atas kegagalan itu, gagal di debut, maka kami menyatakan bubar. Namun akau tak pernah lupa dengan group kami itu, terutama Mas Dalam, Dalang Masdar namanya. yang 45 tahun tak jumpa, jumpa sekali di pesta, berpisah dan berjanji jumpa lagi di WA.  Selesai.

Monday, December 25, 2017

SIMPANG SIUR KEBENARAN, DEMI POLITIK DAN KEKUASAAN

Serasa tak percaya, tetapi itulah kenyataannya, panggung palitik Indonesia sedang bergolak sepertinya sejumlah ulama bakalan mendapatkan kesulitan yang sangatberartio terhadap aktivitasnya senagai ulama, yaitu menyampaikan dakwah.Ulama itu adalah pewaris Nabi, salah satu tugas kerasulan bagi seorang Nabi adalah menyampaian kebenaran, tetapi kebenaran yang disampaikan para ulama adalah kebenaran berdasarkan al-Quran dan hadits. ada sejumlah pihak yang yang beraktivitas menyampaikan kebenaran salah satunya adalah ilmuan. Jika ilmuan mengusung kebenaran berdasarkan hasil penelitian serta hasil pemikiran yang mendalam, maka kebenaran yang diusung oleh ulama adalah kebenaran dari Al-Quran dan hadis. Sementara tugas pemerintah adalah memfasilitasi berbagai kegiatan dan aktivitas masyarakat, termasuk diantaranya menyampaikan kebenaran. Dan Pemerintah juga menyediakan tenaga dalam rangka penegakan kebenaran. Tetapi karena Nusantara dahulu terdiri dari kerajaan Kerajaan, maka gaya Pemerintahan kita banyak mengacu kepada Kerajaan, dimana Raja atau Kerajaan merupakan sumber kebenaran, selain tugasnya menyampaikan dan menegakkan kebenaran maka dalam Kerajaan maka Raja beserta aparatnya adalah representasi dari kebenaran itu. Itulah sebabnya Pimpinan Negeri ini selalu saja bergaya Raja Raja Jawa. Kekuasaan, Keilmuan dan Keagamaan prakteknya saling berbenturan dalam menetapkan kebenaran. Maka berdasarkan sejarah, maka yang bakal keluar sebagai pemenang adalah Penguasa. Penguasa memiliki kekuatan dan fasilitas untuk membuat agama dan ilmu menjadi tak berdaya, dan berdasarkan catatan sejarah tidak sedikit diantaranya yang harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan, dan nyaris tak terhitung jumlahnya yang menghabiskan sisa sisa hidupnya pada dinginnya teralis besi.



Sebagai anak bangsa dan sebagai pemilik syah NKRI adalah sangat wajar manakala mengajak semua pihak untuk belajar dari sejarah, sehingga kita dapat menyelenggarakan aktivitas berbabgsa dan bernegara secara bermartabat, Pemerintah dituntut memiliki kemampuan untuk mempertahan setiap jengkal tanah air, serta melindungi rakyat dan warganegaranya. Tetapi tidaklah sesederhana itu apa yang kini sedang dihadapi oleh Pemerintah. Karena dalam waktu yang bersamaan Pemerintah dalam kenyataannya memang harus melakukan bergaining dengan kekuatan sekaligus. Ada kepentingan Yahudi bersama Amerika dan sejumlah sekutunya di satu pihak dan Ada China dengan sejumlah sekutu dan kroninya baik dari luar dan dalam negeri, di samping itu kelompok Islam nampaknya belum mencapai kepaduan yang maksimal, Sementara pihak Kristen memeliki keterampilan tersendiri dalam bergaining baik dengan Yahudi - Amerika maupun dengan kelompok China. Manakala ummat Islam berhasil menyatu, maka akansulit bagi kelompok Yahudi - Amerika atau China bersama sekutunya, dan kelompom Kristen akan menguasai Indonesia secara maksimal.

Pembulian terhadapsejumlah ulama tentu saja tak terlepas dari perebutan dalam manuver manuver politik di Indonesia yang kini memang sudah sangat nampak jelas akan kehadiran berbagai pihak tersebut di atas. Sejak era Soekarno nampaknya penguasa telah berusaha memisahkan agama dari politik, berhasil. Agama semakin jauh dari politik, artinya politik telah meninggalkan agama, dan dengan terjadi pembubaran pengajian dan pencekalan para ulama terkenal, ini sudah jelas sekarang politik memusuhi agama. Mungkin para politisi tak berusaha mengingat serta memahami rakyat memiliki hak pilih. Jika selama ini penguasa mampu mendikte rakyat, tetapi Pilkada DKI baru baru ini menunjukkan bahwa rakyat yang dipimpin ulama tidak bisa dianggap remeh.

Dointinaju dari berbagai segi Ahok selaku petahana dalam Pilkada DKI diperhitungkan akan menak telak, bahkan pesta beras besaran sepertinya telah dipersiapkan, mulai dari banjir bunga di DKI hingga bakar lilin di daerah. ternyata keliru. Keberanian Ahok menista agama semula adalah dalam rangka meluluhlantakkan lawan politiknya, siapapun. Ternyata berubah menjadi pemicu yang paling bagus untuk mempersatukan ummat. Tidak tertutup kemungkinan bully kepada para ulama juga dimaksudkan membelenggu kelompok agama. Lalu berhasilkan, belum tentu. Bisa jadi justeru Bully kepada para ulama yang dilancarkan justeru mempersatukan ummat.

Jika seorang ulama itu adalah pewaris Nabi, mereka mendalami, memahami dan sekaligus melaksanakan ajaran Nabi, tetapi di masjid masjid, di surau surau, di musholla dan langgar itu banyak orang sekalipun kekurang memiliki keilmuan yang utuh serta membaca langsung dari kitab kitab klasik Agama Islam, tetapi mereka memiliki pemahaman pemahaman walaupun secara sebagian sebagian, tetapi mereka memiliki semangat dan kemampuan untuk menyelenggarakan pengajian, pengajian, tausiah tausiyah, mereka memiliki kemampuan menghadirkan ulama dari manapun sesuai dengan kemampuan finansial mereka untuk, yang membuat akhirnya para jama'ah di di situ bisa bertemu dngan para ulama yan sesungguhnya.