Friday, January 31, 2020

KAJI MAHFUD.


FACHRUDDIN
DI DESA KELAHIRAN SAYA, Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, ada seorang laki laki yang tiak muda lagi Namanya Mahfud tetapi dia punya gelar Kaji, sebutan kehormatan bagi seseorang yang sudah melaksanakan haji. Tetapi orang orang tak ada yang tahu kapan dia naik haji, tetapi gelar itu tetap sangat melekat " Kaji Mahfud ". Dia ini sepertinya gabung di Grup Orkes di desa sunyi itu, kenangan itu terekam di sekitar tahun awal era tahun 1965-an. Istimewa sosok Kaji Mahfud, Dia mendapat tempat khusus di Grup itu karena di diberi waktu untuk closing, Mahfud dengan lagu Kudaku Lari memang dibuat semeriah mungkin, walaupun kedisiplinannya dalam menyanyi terbilang minus, dalam menyanyi sering nada mi durubahnya menjadi do agar nafasnya nyampe. Tetapi oleh tim musik itu tak dipermasalahkan, tetap saja sesi ini dimeriahkan, semua instrumen disuarakan. Tetapi seusai menyanyi Mahfud punya punya tugas, yaitu ikut membereskan alat alat instrumen orkes Desa Pagelaran itu, itulah sebabnya Mahfud yang satu ini sangat dekat dihati kami, karena tampilannya benar benar dimeriahkan. Sesusai mahfud menyanyi lokasipun menjadi senyap.



SEKARANG sayapun mengenal seorang Muchfudz, lengkapnya Prof. Machfud, MD. dahulu saya saya cukup mengagumi tokoh yang satu ini, tetapi semakin ke sini simpati saya semakin berkurang, karena ucapannya banyak tidak tepat mnurut saya yang doif ini, belakangan Provesor hukum ini gemar menempatkan diri sebagai penetap takwa. Fatwanya yang terakhir adalah mengharamkan pelaksanaan pengelolaan kenegaraan dan pemerinthan ala Nabi Muhammad SAW, haram hukumnya meniru niru Rasul dalam mengelola Pemerintahan dan Kenegaraan. Karena kita bukan Nabi ataupun Rasul. Haram hukumnya menegakkan Negara Aslam, yang dianjurkan adalah melaksakan Pemerintahan yang Islami seperti di Newzelan dan Singapur. Ini semua diucapkan dengan bangga, serta tertawa gembira karena sebentar lagi Ia akan dikafir kafirkan. Seolah gelar kafir sesuatu yang sangat membanggakannya, dia tertawa tawa mernunggu sangat datangnya gelar itu.

Berda dengan Mahfud di desa kelahiran saya yang sunti dulu. Tetapi ada juga persamaan, atau paling tidak kemiripannya. Mahfid kami desa bukan penyanyi tetapi gemar menyanyi, Prof. Mahfud bukan Ulama tetapi suka mengeluarkan fatwa. Hanya saja fatwanya Prof. Mafud selain dia bukan ahlinya, juga tak ada yang meminta Dia mengeluarkan Fatwa. Fatwa itu biasa dikeluarkan bila ada pihak yang minta, atau terjadi perdebatan antar ummat Islam tentang suatu kasus yang tak ada difatwakan ulama terdahulu. Sehingga masyarakat butuh petunjuk dan fatwa dari ulama.

Perselisihan akidah antara Islam dan Muslim, tidaklah dibutuhkan fatwa baru, karena sebelumnya sudah ada garis ajaran Islam. Para perawi hadits manakala sudah memiliki keterlibatan urusan politik, maka hadits yang dirawikan segera dikelompokkan menjadi hadis yang lemah, hadis lemah tidak boleh dijadikan dalil dalam berhujah, kecua;li tidak bertentangan dengan hadis dan nash lainnya yang telah memiliki kekuatan untuk dijadikan alasan.

Kita semua mengenal Mahfud MD adalah politisi. ciri khas politisi adalah sulit berkata benar bila akan bertentang degan kepentingan politiknya. Dalam berpolitik biasanya akan sulit untuk terbuka, sulit untuk adil dan bermacam kelemahan lainnya. Itulah posisi  Prof. Machfud MD, oleh karena itu jelas jelas saya akan lebih hormat kepada Mahfud kami yang dahulu ada di desa Pagelaran kelahiran saya. dia lugu danm apa adanya.  

 

Thursday, January 30, 2020

SOAL HARUN MASIKU, SAYA INGAT KASUS TOMI.

SUDAH TERLAQLU BANYAK kita menjadi riuh rendah terkait dengan pencarian dan penanganan seseorang terkait kasus hukum yang membelitnya, ada kalanya Pemerintah demikian hebatnya, belum lagi ditangani serius, sudah ada kesimpulan dari pejabat berwewenang, sebagai contoh orang gila yang mengejar dan mengancam beberapa tokoh agama di berbagai tempat dalam waktu bersamaan, yang disimpulkan sebagai orang gila.
Kaus Edi Tanzil yang juga buron, seperti juga kasus Munir yang tak kunjung bersimpul. Dan yang juga cukup menarik adalah kasus Tomi Suharto yang yang buron lama tak tertangkap, akhirnya tertangkap juga. Lalu Tomi ditanya selama Buron anda lari kemana, Tomi menjawab saya ada di rumah katanya. Bukankah rumah anda di geledah, di jawab, Iya saya tau karena memang sudah ada koordinasi. Dan tentu saja Tomi harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Para pejabat mengatakan pencarian Harun Masiku akhirnya tertangkap juga hanya persoalan waktu. Mungkin acuannya adalah penangkapan Nazaruddin dalam kasus Hambalan.



SUDAH banyakcontoh contoh ragam penanganan terkait buronnya mereka yang terjerat kasus hukum yang buron, sehingga di ILC sendiri muncul istilah kasus ini akan di Munirkan, atau di Nazaruddinkan, artinya yan g bersangkutan benar benar tertangkap seperti Nazaruddin, Tomi dan tentunya banyak contoh lainnya. Atau Di Munirkan, yang artinya walaupun kasusnya dianggap selesai dan sudah ada yang dijatuhi hukuman, tetapi masyarakat menyisakan keraguan.

Nanti kasus Harun Masiku jaga akankah menyisakan praduga masyarakat sedang diatur karena terkait dengan sejumlah nama nama besar sehingga butuh waktu, biasanya mereka yang memiliki gengsi tinggi itu memang butuh waktu untuk mau berhadapat dengan yang berwajib. Tidak sedikit penasehat hukum yang membutuhkan waktu beberapa hari untuk meyakinkan orang bersangkutan bahwa dirinya jauh akan lebih tenang dan tentram hidupnya bila kasusnya telah ditangani yang berwajib dibanding memilih buron, karena menjadi buron itu lebih boros, banyak mereka yang buron dijadikan ATM. Memang membutuhgkan waktu untuk menyadarkan seseorang untuk menyerahkan diri kepada petugas butuh waktu beberapa hari, tetapi bila terkait gengsi dan nama besar seseorang tokoh biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama.

Tapi kita akan kecewa kepada peugas manakala nan jawabannyua seperti Tomi, bahwa saya selama di cari cari itu ... saya ada di rumah kata Tomi, sompret. oetugas kok dijadikan mainan. 

Wednesday, January 29, 2020

SASARAN DAKWAH NGABALIN, SISPA ?


RASULULLAH MUHAMMAD SAW, pernah diajak berdamai oleh Kafir Quraisy, agar Muhammad berkenan menganut agama mereka secara bergatian, pada hari hari tertentu serentak masyarakat Makkah menganut agama Islam, dan dihari yang lain serentak juga menganbut agama mereka secara bersama dan bergantian. Untuk itu mereka siap untuk memenuhi persyaratannya, Bila Muhammad SAW ingin memperisteri gadis tercatik di kota itu, mereka akan penuhi, mencarikan, bila Muhammad SAW menginginkan kekayaan, hingga menjadi orang terkaya, maka mereka siap mengumpulkan harta untuk itu, dan bila Mughammad SAW menginginkan kerajaan dan kekuasaan, maka tahta Kerajaan akan diserahkan sepeuhnya kepada Muhammad SAW, dan raja raja yang lain akan tauh.  Aslkan berkenan menganut agama mereka secara bergilir. Sehingga Muhammad SAW tak perlu menanggalkan agama masing masing Atas petunjuk Allah Muhammad SAW menjawab,matahari di tangan kanan, rembulan ditangan kiri dia akan tetap Laailaaha Illallah. Takl ada perundingan dalam hal akidah.Para kafir Quraisy kecewa dan menyatakan perang.



ANEH BIN AJAIB apa yang dilakukan oleh Ngabalin yang dikenal sebagai politisi Islam dan bahkan mengaku sebagai Ketua Muballigh se Indonesia yang tidak jelas mulai kapan dan akan berakhir kapan itu nampaknya dengan sebaga pertimbangan politik sesuai dengan keyakinannya, berbeda dengan conotoh dari Rasil yang tidak ada kompromi tentang akidah, maka Ngabalin berhasil melaukan kerjasama, yang bisa jadi didominasi pertimbangan fragmatis.

Dia tamil disebuah gereja lengkap dengan sorban kesayangannya Dia berdakwah di atas Altar Gereja, ditempat yang biasa dibacakan kumpulan catatan para Rasul atas keyakinan mereka, yang termaktub dalam Kitab yang mereka miliki. Di atas Altar Gereja  itu dia menyeru kepada jama'ah Gereja agar selalu berusaha memperteguh keimanan  sesuai dengan petunjuk al-KItab mereka. Seusai beliau Tausiyah tak lupa dilantunjan sebuah doa, agar mereka semua dimasikkan ke dalam Syurga Firdaus.

Kita tak tahu bagaimana bunyi oerjanjiannya, Jika dahulu Nabi Muhammad SAW pernah ditawari melakukan hal yang serupoa atau mirip, yaitu perjanjian untuk bergantian, maka sebagai kompensasi yang sitawarkan adalah Istri yang paling cantik, kekayaan yang berlimpah, serta Gahta Kerajaan. Bagi Ngabalin mungkin tak sebanyak itu, mungkin yang dijanjikan bagi Ngabalin hanya sebagiannya saja, dan mungkin pula tak seutuhnya.

Sebagai orang yang gemar memakai sorban, dan mengaku ngaku sebagai Ketua Muballigh, Ngabalin harus mempertanggungjawabkan itu semua. Dimana seharusnya jalan yang ditempuh adalah sesuai dengan contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Yang harus kita prihatinkan adalah, sangat mungkin banyak juga mereka yang menempuh seperti apa yang dilakukan Ngabalin yang tergoda dengan iming iming hadiah yang sejatinya sangat tak seberapa itu. 

SASARAN DAKWAH NGABALIN, SISPA ?

Monday, January 27, 2020

NEGARA ISLAM ATAU NEGARA ISLAMI

PERJALANAN SEJARAH POLITIK ISLAM di Indonesia pada saat ini sedang berada titik terendah, ini tak terlepas dari upaya beberapa orang Presiden yang hampir terang terangan mewmang ambil posisi berhadapan dengan politik Islam dan mereka berhasil. Pertama Presiden Soekarno, Kedua Prawesiden Soeharto dan nampaknya akan tuintas di tangan Presiden Jokowidodo, Soekarno dengan Politik Jakarta Feking dan Rsia, Soeharto dengan memberikan kesempatan seluas luasnya kepada Keturunan China untuk ambil kesempatan membangun Kerajaan Bisnis di Indonesia, dan Presiden Jokowi berhasil masuk ke jebakan Hutang dari China. Namlaknya China mensyaratkan untuk menyingkirkan Islam dari partisipasi politik aktif di Indonesia, akhirnya bukan hanya dipersulit, bahkan bila perlu terusir dari Indonesia.

Thursday, January 23, 2020

BELAJAR DAN BERLATIH MATI

PENGALAMAN YANG SANGAT MUSTAHIL adalah mati atau meninggal, tetapi semua kita pasti akan ercaya bahwa suatu saat kita semua akan mati, tetapi justeru mati adalah sesuatu yang terlampau sering kita lupakan. Padahal kita selalu diingatkan bahwa seseorang paling bodoh adalah orang yang sering melupakan bahwa kita akan mati. Dan dalam waktu yang bersamaan kita akan senang sekali bila diakui bahwa kita tergolong orang yang pintar, setidaknya bodoh.Prihal kematian Qomaruddin Hiadayat sipenulis Buku Psikologi Kematian mengatakan bahwa manusia terhadap kematian sering seperti burung unta yang menyembunyikan kepala dan matanya dan Iya merasa aman dari gamngguan pihak lain, manakala Iya melihat sestau yang lain yabf bisa mwngancamnya. Kita sering mengira kematian tak akan menghampiri kita, selagi kita lupa denga kematian itu.

Wednesday, January 22, 2020

SIKAP DAN KEMAMPUAN POLITIK JOKOWI IDEAL BAGI PEBISNIS.


JIKA DAHULU ADA DWI FUNGSI ABRI, maka sekarang yang berkuasa adalah Dwifungsi Pebisnis, jika dahulu ABRI merupakan bagian dari Pemerintah dan memahami etika Pemerintahan, maka sekarang pebisnis yang berhasil menguasai politik tidak peduli dengan nilai nilai etik dalam bernegara karena bagi mereka keuntungan bisnis adalah di atas segala sagalanya. Bagai mendapat durian runtuh mereka mendapatkan tokoh yang ideal yaitu Jokowi dan Ahok, jika Ahok memang memiliki kesamaan kesamaan dengan pebisnis, maka Jokowi nampaknya sedang membangun Kerajaan Bisnis, situasi dimanfaatkan tentu dengan pertimbangan fragmatis yang berani. Kini Jokowi sebagai Presiden, disekitarnya terdiri para pebisnis, untuk itu Megawati yang menggadang gadang Jokowi akan terlempar manakala tidak ikut mempersubur sifat fragmatisnya. Indobesia dalam ancaman yang serius.



Beli membeli, beri memberi, suap menyuap demikian akrab di dunia bisnis selebihnya juga subur tipu menipu, dan dalam arti luas ada bunuh membunuh.Jika itu masuk dalam dunia Pemeruintahan maka terbayang di pemikiran kita betapa kotor praktik pemerintahan Indonesia bila nanti mereka benar benar telah menguasai seluruh Menteri Menteri atau lembaga lainnya setingkat Menteri telah dikuasai oleh oligarki pebisnis ini. Pebisnis minus etika tak tak segan segan menjual negeri ini, apalagi mereka memang orang asing atau pro asing dalam rangka melancarkan bisnisnya.


Dalam masa kampanye dahulu Prabowo tampil terkesan emosional ketika berbicara dan menggambarkan kekurang percayaannya terhadap para pebisnis asing, agar mereka hanya boleh sebatas berbisnis, tidak diperbolehkan mendekati kekuasaan, apatah lagi menjadikan mereka oligarki yang memiliki kemampuan mendikte Pemerintah atau Penguasa.

Nampaknya disitu pula perbedaannya dengan Jokowi yang nampak sekali menggantungkan dirinya kepada pebisnis, dan membuka lebar jalan bagi pebisnis bersentuhan dengan wilayah Pemerintahan dan pembangunan. Karena bagi Jokowi nampaknya pembangunan fisik atau hal hal yang nampak lainnya sebagai fokus perhatian, sehingga beliau berusaha memperpendek aturan untuk memperbesar peluang pemodal asing berkecimpung dalam pembangunan Indonesia. Utama jalan jalan, jenbatan serta pelabuhan dan lain sebagainya yang terkait. Asing diperlebar jalannya untuk menanamkan modalnya di Indonesia.