Thursday, November 23, 2017

JANGAN MENGOLOK OLOK TUHAN

Era sekarang sering seseorang tidak perlu membaca literatur banyak banyak, tidak perlu memiliki penerbit, cukup memiliki HP andoid dan melengkapinya dengan beberapa aplikasi sudah bisa mengedarkan tulisan, terkadang hasil renungan yang mendalam, karya ulama, kiyai dan sebagainya. Tetapi mungkin yang lebih ramai lagi adalah mereka hanya penggembira saja, yang penting asal lucu dan mengundang tawa, maka dengan semangat mensharenya ke berbagai grup WA. Yang paling menyedihkan adalah ketika dia secara tak sadar telah memposting humor humor tentang Tuhan. Padahal intinya telah melawan bahkan menista Tuhan dengan cara memposting tulisan yang memang dimaksudkan untuk merendahkan agama. Sekali lagi tampa sadar.

Pernah saya mendapat kiriman via WA cerita humor tentang Gareng, tetapi dalam cerita itu menghadirkan Tuhan sebagai bagian dari pelaku cerita, baik langsung maupun tidak dilangsung. Diceriterakan pernah suatu kali Gareng meminta kepada Tuhan agar Ia diberikan kemudahan dalam hidupnya, ibarat kata cukup goyang goyang kaki sudah dapat uang. Allah mengijabah doa si Gareng. Beberapa hari Kemudian Jreng .... si Gareng menjadi penjahit dengan menggunakan mesin jahit yang digerakkan dengan kaki. Di waktu lain Gareng berdoa kembali, kali ini Ia meminta agar dikerubuti wanita waita cantik, Allah mengijabah doanya. Beberapa hari kemudian Jreng ... si gareng menjadi penjual sayur keliling yang sedang dikelilingi ibu ibu pelanggan. Di lain hari lagi Gareng meminta menjadi orang yang dipatuhi pembicaraannya. Jreng ...  si Gareng jadi juru parkir. Sekilas memang ini tidak lebih hanya sekedar humor belaka, tetpai manakala direnung renung, maka  humor kali ini melibatkan Tuhan. Jika humor itu berisikan olok olok, maka termasuklah kita mengolok olok Tuhan.

Walaupun cerita itu bukan kita yang menulis, tetapi jika kita yang memposting maka berarti kita telah terlibat dalam menyiarkan upaya olok olok terhadap Tuhjan itu. Dan manakala akibat dari tulisan yang sesat berhasil menyesatkan orang lain, maka berarti kita juga yang harus bertanggung jawab atas kesesatan orang itu. Sadarkah anda bahwa ceritera tersebut telah mengatakan bahwa Tuhan itu adalah sebagai makhluk biasa, yang tak luput dari keliru dan khilaf. Betapa dalam ceritera itu Tuahan telah mengalami gagal paham, terhadap doa doa si Gareng. Sehingga lain yang dimintga lain yang yang diberikan oleh Tuhan.  Apakah kita ingin mengatakan bahwa Tuhan itu makhluk biasa yang sering gagal paham. Astaghfirullah. Jangan diulang lagi.

Wednesday, November 22, 2017

JANJI JOKOWI HARUS DITAGIH.

Lawan politik Jokowi relatif cepat muveon, bahkan hampir hampir melupakan segala janji janinya. nyaris tak ada komplin atas pengingkaran jani janji setinggi langit itu. Siapa saja yang mencoba kritis terhadap janji akan segera dibuly habis habisan ileh pendukung.  Sebenarnya itu merupakan kerugian besar bagi Jokowi sendiri, ketika siapa yang mengingatkan lalu direspon secara negatip. Beda halnya dengan para Ahoker yang cenderung nyinyir menagih janji janji Anis Sandi, nyinyirnya para Ahoker sebenarnya partisipasi positif kepada beliau sehingga pasangan Anis - Sandi seolah memiliki mitra yang tak perlu dibayar untuk memperingatkan keduanya, akan janji janji mereka saat kampanye, semakin diperingatkan, semakin banyak mereka mencapai pemenuhan atas janji janjinya. Seyogyamya pasangan Anis - Sandi harus berterima kasih kepada para Ahoker yang lambar, atau bila perlu tak pernah muveon sehingga menjadi sparing abadi yang tak susah susah membayarnya. Sekaligus sebagai wujud dari demokrasi. Tetapi mungkin akan lebih elok bila para pendukung Jokowi sendiri yang menagihnya, jangan sampai Jokowi lebih dikuasai oleh para penburu keuntungan pribadi bukan demi NKRI.

Presiden Jokowi akan jauh lebih harum namanya manakala Ia bekerja untuk rakyat tinimbang bekerja keras untuk keharuman namanya sendiri. Bekerja untuk untuk rakyat akan jauh lebih harum dibanding pencitraan, apatah lagi bekerja demikepentingan pemilik modal. Orang masih terngiang dengan Janji Jokowi dengan Nawacita. berupaya mensejahterakan petani, dengan mencetak lahan persawahan, membuat irigasi teknis, mempermudah datangnya pupuk ke tangan petani dengan murah dan tepat waktu. Hingga saat sekarang para nelayan masih menantikan dan berharap Jokowi benar benar membagikan perahu bermesin tangkap yang bagus sehingga mereka mampu meningkatkan hasil tangkapannya.

Tuesday, November 21, 2017

IRONI PECINAN SEMARANG.

RESENSI BUKU

Judul                     : Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota
Penulis                 : Tubagus P.Svarajati
Penerbit               : Suka Buku
Tahun Terbit         : Oktober 2012
Tebal Halaman    : 250 Halaman
Harga                   : -
Resentator          : Kenthip Pujakesuma

Berbicara tentang keindahan wisata budaya di Semarang, pasti akan berbicara tentang daerah Pecinan. Sebuah kawasan di Semarang ini, kerap dijadikan objek wisata para pelancong untuk menyaksikan keindahan serta keunikan budaya di sana.

Di kawasan Pecinan, kita dapat menikmati aneka jajanan khas penduduk Tionghoa pada tiga hari di akhir pekan. Selain itu di tahun baru Imlek, kawasan ini ramai dipadati pengunjung. Sebuah acara bernama Pasar Imlek Semawis di gelar. Dalam acara Pasar Imlek Semawis itu, akan ditontonkan beraneka ragam kesenian khas masyarakat Tionghoa, makanan khas, aneka kerajinan pecah belah, kaligrafi dan tari barongsai dan juga tari naga.

Namun, dari keramaian dan kemegahan itu, ada sebuah ironi yang bergelayut di sana. Keindahan dan kemegahan yang ditampilkan bukan untuk menunjukkan bahwa inilah kawasan Pecinan, kota dengan sejuta sejarah. Tubagus P.Svarajati, adalah sesosok yang berani menguak ironi demi ironi tentang permasalahan yang dihadapi Pecinan Semarang.

Melalui buku berjudul “Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor kota” ini, Tubagus P.Svarajati mencoba menguak persoalan yang dihadapi Pecinan Semarang dalam bahasa kolom yang indah. Dalam buku ini, Tubagus mencoba  untuk menggiring kita ke dalam sebuah permasalahan dengan cara pandang yang berbeda. Melihat dari hal-hal yang kecil yang tak tampak oleh mata, mengenai hal mikro dari permasalahan makro yang dihadapi oleh masyarakat Pecinan Semarang.

Banyak hal yang disoroti oleh Tubagus dalam buku ini. Mengenai pelaksanaan kampong semawis misalnya, Tubagus menilai bahwa bukan revitalisasi yang terjadi seperti yang digaungkan oleh pegiat kampong semawis, melainkan hanya sebuah klangenan. Mereka seakan bergiat, padahal tidak berinteraksi atau mengakar kepada kebutuhan masyarakat yang hendak dilayani.  Adanya  konsep turisme di wilayah Pecinan menurut Tubagus, seharusnya berdampak pada kehidupan social masyarakatnya, bukan malah menjadikan mereka sebagai penonton.

JOKOWI DAN PECINAN INTERNATIONAL DI INDONESIA

Jelas tulisan ini hanya opini dangkal dan sangat nyata dan banjir data karena sudah menjadi rahasia umum yang tak membutuhkan pisau analisa untuk memahaminya. Presiden Jokowi yang berwajah ndeso dan bahkan di  ndeso-desokan itu awalnya untuk mengambil hati rakyat kecil sebagai antitesa segala kemewahan dan semacamnya, yang dipertunjukkan lawan politiknya, karena juga lumrah rakyat kecil dan kesederhanaan berganda kesengsaraan yang menandai rakyat Indonesia ini. Jokowi adalah harapan baru. Mampukah seorang Presiden akan memihak kepada rakyat kecil, tak gampang karena selain ada rakyat kecil, maka tuntutan masrakat dunia adalah lebih deras tuntutannya, rakyat kecil jumlahnya banyak tetapi tak memiliki kekuatan, semenatara masyarakat dunia selain memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa dia juga telah membawa konsep bagaimana meramaikan laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Mentok. Ujung ujungnya kembali ke ilmu lama, dahulu dalam ramgka meramaikan sebuah kawasan, untuk dalam rangka membuat geliat perekonomian di suatu daerah segera menyala, maka tak punya alternatif lain selain membuat Pecinan, yantu perkampungan Cina. Sebagai penguasa Pemerintah memiliki kemampuan menciptakanm Kampung Cina yang laziom disebut Pecinan itu dengan mempersiapkan lahan, dan memerintahkan agar masyarakat Cina tinggal di lokasi itu untuk baraktivitas berdagang dan berniaga, hanya dalam hitungan beberapa kejap saja bermunculan berbagai usaha mulai dari kuliner, kebudayaan Cina dan tak lupa juga perjudian terselenggara di perkampungan itu. Masyarakat yang memang terkenal jago rempah rempah dan memiliki etos kerja yang luar biasa sekali lagi hanya membutuhkan waktu beberapa kejap saja mampu menghidupkan kawasan itu mencipta geliat ekonomi yang nyata.

Cara mudah membangun ala membangun Pecinan tempo doeloe digunakan oleh Presiden Jokowi tinggal memperbesar sekalanya saja. Indonesia Membangun Pecinan Skala Ingternational, apalagi dana dari China memenag melimpah. Sangat gampang untuk memiliki hubungan baik dengan pihak China, karena dalam awal awal pidato Presiden Jokowi secara terbuka mengundang  pemodal asing untuk buka usaha di Insonesia, seorang politisi PKS mengibaratkan politik luar negeri Jokow ibarat gadis manis yang tampil telanjang untuk memancing minat para pemuda. Sangat terlihat keuntungan dan kenikmatan di sana. Teori yang di kritik politisi PKS ini ternyata diam diam sangat ampuh. Jokowi memiliki kemampuan membangun jauh melampai Presiden terdahulu, hanya dalam waktu singkat Jokowi mampu menyulap hutan hutan serta semak semak menjadi pemandangan indah modern, dengan ditandai hamparan jalan tol.

Monday, November 20, 2017

BACAAN IMAM ENAK KALI, LUPA AKU BACA AL FATIHAH.

Itu pernyaan sudah saya Batak atau Medankan.  Tetapi itulah kira kira yang dinyatkan seorang anggota jama'ah kami di Musolla Al Jihad. Dia bercerita suatu waktu Ia sholat di Musholla lain bacaan Imamnya enak sekali sehingga saya terlena dan lupa baca Al-Fatihah. Dan pernah aku juga diimami oleh Imam yang sama sekali tak menyamankan telinga mendengarnya, sehingga tak sabar aku akanmembaca Fatihahku secara lebih baik dari Imam katanya penuh ke hati hatian. Kebetulan yang cerita ini memiliki pengetahuan keagamaan yang saya anggap di atas rata rata, dan tak layak disebut terlalu awam. Apa yang sesungguhnya Ia tanayakan itu, apakah terkait dengan bacaan fatihah bagi makmum sholat yang imam menzaharkan bacaan fatihah dan ayatnya, atau terkait prasyarat jadi imam dari segi kebagusan bacaan. Kali ini saya anggap saja ini terkait membaca al-Fatihah dibelakang imam.

Dipastikan agak sulit menjelaskan pertanyaan ini kecuali kita netral dan membenarkan pendapat pendapat ulama yang berkembang. Di satu pihak kita diharuskan membaca al-Fatihah, dan dip[ihak lain kita harus mendengarkan Imam, karena bacaan kita telah diwakilkan oleh Imam. Teytapi nampaknya ada juga Imam yanhg bijak, beliau berhenti membaca setelah al fatihan, seperti memberikan kesempatan kepada makmum membaca al-Fatihah.

CARA SHOLAT TAHAJUD DAN DHUHA ITU GIMANA SICH

Seorang jama'ah musholla Al-Jihad Perum Korpri secara bisik bisik bertanya pada suatu ketika sambil menunggu masuknya waktu Isya. Saya tidak yakin dengan pertanyaan itu karena beliau itu ahli ibadah,termasuk rajin bangun tengah malam, dan selalu berjama'ah di musholla dan ucapan serta tindak tandukpun nampak sangat terkontrol, selama ini enggan bicara yang kurang bermanfaat, dan nampak sangat menghindari perdebatan.

Alhamdulillah pada saat sekarang ini dalam grup grup WA sudah tak lagi segan saling membangunkan antar sesama anggota dan tak lagi ada pihak yang mengejek dengan tuduhan macam macam yang tak nyaman, semoga saja ini bisa berfungsi sebagai alat dan media dakwah antar sesama muslim. Semoga saja kita dapat saling mendorong menuju jalan keselamatan yang diridhoi Allah Swt. Itulah sebabnya saya pentingkan menulis naskah ini. Naskah ini diramu dari berbagai sumber terbatas, dikutipkan sebagai berikut :
1. Waktu pelaksanaannya adalah setelah melaksankan shotal Isya hingga sebelum subuh (HR Bukhari dan Muslam dari Aisyah) Tetapi yang paling baik adalah disepertiga malam (HR. Ahmad, Muslim, Tirmizi dan Ibn Majjah dari Jabir)

2. Shalat tahajud boleh dikerjakan secara berjamaah (berdasarkan HR. Muslim dari Ibnu ‘Abbas), dan boleh juga dilakukan sendirian.
3. Diawali dengan shalat iftitah dua rakaat. (Berdasarkan HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abu Hurairah). Adapun cara melaksanakan shalat iftitah adalah sebagai berikut:
a. Sebelum membaca al-Fatihah pada rakaat pertama, membaca do’a iftitah:

سُبْحَانَ اللهِ ذِي الْمَلَكُوْتِ وَالْجَبَرُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Subhaanallaahi dzil-malakuuti wal-jabaruuti wal-kibriyaa’i wal ‘adzamah”. Artinya: “Maha suci Allah, Dzat yang memiliki kerajaan, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan.”
b. Hanya membaca surat al-Fatihah (tidak membaca surat lain) pada tiap rakaat. (Berdasarkan HR. Abu Daud dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas). Adapun bacaan lainnya seperti; bacaan ruku’, i’tidal, sujud dan lainnya sama seperti shalat biasa.
c. Shalat iftitah boleh dilakukan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. (Berdasarkan HR ath-Thabrani dari Hudzaifah bin Yaman)
4. Setelah itu, melaksanakan shalat sebelas rakaat. Beberapa hadis Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa shalat tahajud bisa dilaksanakan dengan berbagai cara, di antaranya adalah:
a. Melaksanakan empat rakaat + empat rakaat + tiga rakaat (4 + 4 + 3 = 11 rakaat). (Berdasarkan HR. Al-Bukhari dari ‘Aisyah)
b. Dua rakaat iftitah + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + satu rakaat (2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 1 = 13 rakaat). (Berdasarkan HR. Muslim dari ‘Aisyah).
5. Pada shalat witir, hendaknya membaca surat al-A’la setelah al-Fatihah pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua, dan al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga. Setelah salam, sambil duduk 


(3x) سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ


“Subhanal-malikil-qudduus.” 
Artinya: “Maha Suci (Allah), Dzat Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Suci.”,
dengan mengeraskan dan memanjangkan pada bacaan yang ketiga, lalu membaca:


 رَبِّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ


“Rabbil-malaaikati war-ruuh”.
Artinya: “Yang Menguasai para malaikat dan ruh.”
(Berdasarkan HR. al-Baihaqi, juz 3/ no. 4640; Thabrani, juz 8/ no. 8115; Daruqutni, juz 2/ no. 2, dari Ubay bin Ka’ab. Hadis ini dikuatkan oleh ‘Iraqi)
6. Membaca do’a.
Di antara  do’a-do’a yang dibaca Rasulullah Saw. adalah:
a. Berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas:


اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا


Artinya: “Ya Allah, berikanlah di dalam hatiku cahaya, di dalam penglihatanku cahaya, di dalam pendengaranku cahaya. Dan (berikanlah) cahaya dari sebelah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya dari atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, dan berikanlah cahaya pada seluruh tubuhku.”
b. Berdasarkan riwayat Muslim dari ‘Aisyah:

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ


Artinya: “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari (siksa)-Mu. Aku tidak dapat lagi menghitung pujian yang ditujukan kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu sendiri.”
c. Berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas:


اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.

Artinya: “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau cahaya (penerang) langit dan bumi. Hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau Penegak langit dan bumi. Hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau Yang Mengatur langit dan bumi beserta isinya. Engkau adalah Dzat yang haq. Janji-Mu adalah benar. Firman-Mu adalah benar. Perjumpaan dengan-Mu adalah benar. Surga adalah nyata. Neraka adalah nyata. Para nabi adalah benar. Hari kiamat adalah nyata. Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berserah diri. Hanya kepada-Mu aku beriman. Hanya kepada-Mu aku bertawakal. Hanya kepada-Mu aku kembali. Hanya atas pertolongan-Mu aku berjuang. Hanya kepada-Mu aku mohon keadilan. Maka ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku lakukan secara sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan. Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau.”
Doa-doa tersebut bisa dibaca ketika sujud, setelah membaca shalawat pada tasyahud akhir, atau ketika selesai shalat.
Sedangkan tata cara shalat dhuha (disebut juga shalat awwabin) adalah sebagai berikut:
1.      Dilaksanakan pada saat matahari sudah naik kira-kira sepenggal atau setinggi tonggak (maksudnya bukan pada waktu matahari baru terbit), dan berakhir menjelang masuk waktu zhuhur (Berdasarkan HR. Muslim dari Ummu Hani’). Dalam Jadwal Waktu Shalat, waktu shalat dhuha dimulai sekitar setengah jam setelah matahari terbit (syuruq).
2.      Shalat dhuha dapat dilaksanakan sebanyak:
a. Dua rakaat (berdasarkan HR. Muslim dari Abu Hurairah).
b. Empat rakaat (berdasarkan HR. Muslim dari ‘Aisyah).
c. Delapan rakaat dengan melakukan salam tiap dua rakaat (berdasarkan HR. Abu Daud dari Ummu Hani’).
d. Boleh dikerjakan dengan jumlah rakaat yang kita inginkan. Berdasarkan hadis:


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ
[رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata; Rasulullah saw mengerjakan shalat dhuha empat rakaat dan adakalanya menambah sesukanya.” (HR. Muslim)
Al-‘Iraqi mengatakan dalam Syarah at-Tirmidzi, “Aku tidak melihat seseorang dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang membatasi jumlahnya pada dua belas rakaat. Demikian juga pendapat Imam as-Suyuti, dari Ibrahim an-Nakha’i; bahwa seseorang bertanya kepada Aswad bin Yazid, “Berapa rakaat aku harus shalat dhuha?” Ia menjawab, “terserah kamu”. (Fiqh as-Sunnah, jilid 1, hal 251, terbitan Dar al-Fath li al-‘Ilam al-Arabi. Hadist-hadist yang menyatakan jumlah rakaatnya dua belas tidak ada yang lepas dari cacat. (Subul as-Salam, juz 2, hal. 19, terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyah)
3.                  Sebaiknya tidak dilaksanakan secara terus-menerus setiap hari. Berdasarkan hadis:


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى قَالَتْ لَا إِلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ[رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah Nabi Saw. selalu melaksanakan shalat dhuha?”, ‘Aisyah menjawab, “Tidak, kecuali beliau baru tiba dari perjalanannya.” [HR. Muslim]
Syu’bah meriwayatkan dari Habib bin Syahid dari Ikrimah, ia mengatakan; “Ibnu ‘Abbas melakukan shalat dhuha sehari dan meninggalkannya sepuluh hari”. Sufyan meriwayatkan dari Mansur, ia mengatakan; “Para sahabat tidak menyukai memelihara shalat dhuha seperti shalat wajib. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya”. (Zad al-Ma’ad, juz 1, hal 128, terbitan Dar ar-Royyan li at-Turats)
4.                  Shalat dhuha dapat dikerjakan secara berjamaah. Berdasarkan hadis:


عَنْ عِتْبَانِ بْنِ مَالِكٍ وَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهَدَ بَدْرًا مِنَ اْلأَنْصَارِ أَنَّهُ أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّى قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي وَأَنَا أُصَلِّى لِقَوْمِي وَإِذَا كَانَتِ اْلأَمْطَارُ سَالَ اْلوَادِى بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ وَلَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أَتَى مَسْجِدَهُمْ فَأًُصَلِّي لَهُمْ وَوَدِدْتُ أَنَّكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ تَأْتِي فَتُصَلِّي فِي مُصَلَّى فَأَتَّخِذُهُ مُصَلًى قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَأَفْعَلُ إِنْ شَآءَ اللهُ. قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ حِيْنَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبِيْتَ ثُمَّ قَالَ: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْتُصَلِّي مِنْ بَيْتِكَ. قَالَ: فَأَشَرْتُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ الْبَيْتِ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ فَقُمْنَا وَرَاءَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.
[متفق عليه]

Artinya: “Diriwayatkan dari Itban bin Malik —dia adalah salah seorang shahabat Nabi yang ikut perang Badar dari kalangan Ansar— bahwa dia mendatangi Rasulullah saw lalu berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku sekarang tidak percaya kepada mataku (maksudnya, matanya sudah kabur) dan saya menjadi imam kaumku. Jika musim hujan datang maka mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara aku dengan mereka, sehingga aku tidak bisa mendatangi masjid untuk mengimami mereka, dan aku suka jika engkau wahai Rasulullah datang ke rumahku lalu shalat di suatu tempat shalat sehingga bisa kujadikannya sebagai tempat shalatku. Ia meneruskan: Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Akan kulakukan insya Allah”. Itban berkata lagi: Lalu keesokan harinya Rasulullah saw dan Abu Bakar ash-Shiddiq datang ketika matahari mulai naik, lalu beliau meminta izin masuk, maka aku izinkan beliau. Beliau tidak duduk sehingga masuk rumah, lalu beliau bersabda: “Mana tempat yang kamu sukai aku shalat dari rumahmu? Ia berkata: Maka aku tunjukkan suatu ruangan rumah”. Kemudian Rasulullah saw berdiri lalu bertakbir, lalu kami pun berdiri (shalat) di belakang beliau. Beliau shalat dua rakaat kemudian mcngucapkan salam”. [Muttafaq Alaih].


عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي بَيْتِهِ سُبْحَةَ الضُّحَى فَقَامُوا وَرَاءَهُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ[رواه أحمد والدارقطني وابن خزيمة]

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Itban ibn Malik, bahwasanya Rasulullah saw mengerjakan shalat di rumahnya pada waktu dhuha, kemudian para sahabat berdiri di belakang beliau lalu mengerjakan shalat dengan shalat beliau.” [HR. Ahmad, ad-Daruquthni, dan Ibnu Hibban]

Ada pula satu hadis riwayat Ahmad, ad-Daruquthni, dan Ibnu Hibban dari A’idz ibn ‘Amr, yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pada suatu kesempatan pernah melaksanakan shalat dhuha bersama para sahabat beliau.

Demikian petunjuk praktis ini saya kutip dari sumber yang terbatas, anda boleh menambahkan atau merubahnya sesuai dengan apa yang anda dapatkan, baik hasilbaca maupun sumber lainnya. Terima kasih. Wassalam.




Sunday, November 19, 2017

MELAMAKAN SUJUD TERAKHIR


Dr. Bukhori A. Shomad sebagai tokoh intelektual yang merupakan Jamaah Musholla Al Jihad Perumahan Korpri Bandart Lampung sudah lama menganjurkan untuk melamakan sujud terakhir pada setiap sholat,  itu disampaikannya dalam suatu tausiah ynag disampaikanya kepada para jama'ah musholla, bahkan beliau sendiri memeraktekkannya pada saat berkesempatan menjadi Imam, selain untuk dijadikan kode kepada makmum bahwa itu adalah rokaat dan sujud  terakhir, juga agar dijadikan kesempatan untuk membaca serangkaian doa yang memang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Banyak juga jama'ah yang merasa seolah ini sesuatu yang baru. Padahal sejak dahulu banyak ulama yang memeraktekkannya

Sebagaimana kita ketahui bahwa memang saat sujud termasuk saat yang kita sedang dekat dengan Allah, maka alangkah  baiknya manakala saat itu kita isi dengan doa, seperti disebutkan dalam sebuah hadits :

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah)

Tetapi benarkah pada sujud terakhir itu dianjurkan untuk dilakukan lebih lama dari sujud sujud lainya, dikatakan tidak juga, sebagaimana ditulis diatas bahawa itu dijadikan kode agar makmum tahu bahwa sujud yang dilakukan adalah sujud yang terakhirt, tetapi dalam kesempatan itu akan lebih baik bila diisi dengan doa. 

Tetapi kita juga harus tahu bahwa memang Rasulullah dalam sholatnya biasa memperlambat di beberapa saat, antara lain yaitu pada saat ruku, sujud, bangkit dari riku' dan pada saat duduk antara dua sujud, begaimana disebutkan. 
Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan,

كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ

Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” (HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471)

Alhamdulillah saya perhatikan bahwa para imam di musholla kecil itu  sudah banyak yang memeraktekkannya, namun demikiam masih juga ada secara bisik bisik bertanya, takut takut bila pertanyaannya dianggap keliru atau menentang informasi dan sumber,  perlu saya teghaskan bahwa sesungguhnya tidak ada pertentangan pendapat untuk memanfaatkan membaca pada saat sujud, suku', bangkit dari ruku' atau duduk diantara dua sujud, yang menjadi perbedaan hanya lebih melamakan sujud pada sujud yang terakhir, karena sujudnya Rasulullah justeru semua panjang dan lama. Rasulullah usteru kakinya bengkah bengkak akibat melaksanakan sholat. Dengan demikian saya katakan bahwa ketika Imam memanjangkan sujudnya maka dia sesungguihnya memiliki alasan yang juga kuat, Maka ikutilah. Seperti dijelaskan dalam sebuah hadits : 

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” (HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah)

Maka janganlah sekali kali mempersoalkan Imam sholat selama apa yang dilakukan memiliki alasan dan petunjuk dari Rasulullah Muhammad SAW. Hanya masalahnya imam membaca doa disaat sijid terakhir, seolah memanjangkan jujud terakhir, belum mencapai petunjuk dan apa yang dicontohkan oleh Rasul SAW. Jadi tak perlu lagi dipertanyakan, dan jangan menggaduhkannya. Seperti maksud hadits di atas. 

Bahkan sebaliknya manakala imam memanjangkan atau melamakan sujud terakhir pada sholat yang dipimpinnya maka manfaatkanlah membaca doa yang pendek, agar kita telah menyelesaikan doa kita pada saat imam menyudahi sujudnya. Ada pertanyaan dari seorang jama'ah bisakah kita lebih memilih doa doa dari Al-Quran, bukankah doa dari Al-Quran itu lebih baik dan lebih benar. Pertanyaan ini bagus dan menarik, saya meyakini sipenanya sebenarnya memiliki wawasan yang cukup tentang hal ini, karena ketika saya menjawab pertanyaan beliau, sipenanya meminta saya menyertakan hadist pada jawaban itu. Baiklah, dalam tulisan ini saya sertakan sebuah hadits yang di sampaikan Ali Bin Abhi Thalib sebagai 


نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقْرَأَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku untuk membaca (ayat Al-Qur’an) ketika ruku’ dan sujud.” (HR. Muslim no. 480)

Jika membaca al-Quran pada saat ruku' dan sujud dilarang maka bagaimana jika kita membaca doa pada saat sujud atau ruku' dengan mengambil doa doa dari cuplikan alquran, perlu saya sampaikan bahwa  ada juga ulama yang menggunakan doa doa dari ciplikan al-quran. Contoh doa yang diciplik dari Al-Quran adalah sebagai berikut : 

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).
Atau do’a agar diberikan keistiqamahan,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8)


Dari berbagai literatur disampaikan bahwa banyak ulama yang membolehkan membaca doa doa yang merupakan cuplikan dari al-Quran  pada saat sujud ataupun ruku', tetapi dalam membaca dengan niat  berdoa bukan membaca al-Quran. Tetapi diriwayatkan bahwa ada juga Rasul memberikan contoh doa yang dibacanya ketika sujud 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ


 Ya Allah ampnilah dosa-dosaku semua, baik yang halus atau yang jelas, yang awal dan yang akhir, dan yang terang-terangan dan yang tersembunyi.” (HR. Muslim No. 1112)

Ada kecenderungan para jama'ah menggunakan doa selain yang diajarkan oleh Ust Dr. Bukhori A Shomad juga ternayata kini banyak beredar di medsos, doa tersebut adalah seperti di bawah ini :


1.        Mintalah diwafatkan dalam keadaan husnul khootimah 

                                 اللهم إني أسألك حسن الخاتمة

2.     Allahumma inni as’aluka husnal  Artinya: “Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah”2. Mintalah Agar Kita Diberikan Kesempatan Taubat Sebelum Wafat 

                                   اللهم ارزقني توبتا نصوحا قبل الموت

Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal  Artinya: “Ya Allah berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat”

3.        Mintalah Agar Hati Kita Ditetapkan di Atas Agamanya 

                                       اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala  Artinya: “Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU”


 

Kepada para jama'ah Musholla Aljihad, ada sejumlah ilmuan dan ulama di Musholla Aljihad pada saat ini antara lain, 1. Dr. Bukhori A. Shomad, 2. Drs. Muslimin, MA dan Ust. Bainal Huri Halim.M.Kom.  Beliau ini memberikan tausiyah secara bernatianm sesuai dengan jadual yang ditentukan oleh panmitia.