Sunday, September 30, 2018

G 30 S PKI JANGAN TERULANG LAGI.



PENGHIANATAN  Partai Komunis Indonesia (PKI) terlalu kejam dan biadab serta berulangkali tidak boleh terulang, tragedi ini tak boleh lagi menimpa anak bangsa. Keamanan masyarakat Bangsa harus dilindungi, dan tentu saja harfapan kita TNI yang kita lahirkan dari Rakyat tetap memiliki kemampuan untuk melindungiu bangsa ini dari ancaman Komunis yang nampaknya masih belun sirna dari bumi pertiwi ternta ini. Dahulu TNI, Ulama dan Ummat Islam bersatupadu menumpas G 30 PKI, karena memang PKI sendiri juga nampaknya mengarahkan serangannya kepada TNI, Ulama dan Ummat Islam. Semoga sejarah ini selalu tercatat sebagai sejarah kelam, namun tak boleh di lupakan, karena ternyata Komunis tak pernah lelah untuk kembali eksis dan mungkin akan beraksi.


Terlalu bodoh bagi PKI atau Komunis bila kemunculannya kembali ke bumi pertiwi ini  dengan jubah komunisnya, dipastikan dia akan menyaru dengan jubah kebesaran lainnya, kalaupun sempat memakai baju kaos dan berlambang Palu Arit yang merupakan lambang yang telah terlarang itu tak lebih hanyalah sebagai ujicoba belaka, untuk mengetahui bagaimana reaksi masyarakat utamanya TNI, Ulama dan Ummat Islam merupakan pihak yang benar benbar dilukai PKI itu. Sedapat mungkin mereka akan tampil dengan jubah kehormatan lainnya dan mereka akan nyaman dibalik jubah itu. Dipastikan mereka sebisa mungkin harus dekat dengan Penguasa, atau setidaknya memiliki kemampuan berkomunikasi baik dengan penguasa, dengan berbagi cara tentunya. Mereka bisa kembali secara menyaru, keduania pendidikan atau lembaga lainnya yang langsung bisa melakukan sesuatu yang berarti, bagi mereka.

Bila dahulu mereka memusuhi TNI, bukan tidak mungkin mereka akan menelusup ke tubuh TNI dan merusak dari dalam, Jika dahulu mereka menyerang ulama, maka bukan tidak mungkin mereka akan menyaru sebagai ulama, atau orang dekat yang mampu mempengaruhi ulama, jika dahulu mereka memusuhi ummat Islam, maka bukan tidak mungkin mereka kembali dengan menyaru sebagai kelompok Islam. Dan bukan tidak mungkin mereka akan menyaru dengan identitas apapun untuk mencapai tujuan mereka. Tetapi bagaimanapun mereka tak akan mampu menutup nutupi gerakan gerakan mereka, mereka akan kesulitan menutup nutupi kebencian mereka kepada TNI, Ulama dan Ummat Islam Indonesia, sekali Komunis ya tetap komunis, kendati jubah apapun yang mereka pakai. itulah karakter sejati Komunis. Oleh karena kewaspadaan harus ditanamkan kepada pihak manapun sebagai anak negeri..

Kita harus berterima kasih kepada pihak manapun yang tak gampang melupakan penghiatan PKI dan Komunis lainnya, karena dengan kegigihan dan kekekehan untuk menolak kembalinya Komunis di Indonesia sedikit banyaknya akan menyulitkan Komunis untu kembali  sehingga tidak mudah bagi mereka untk melakukan penghianatan yang biadab untuk kesekian kalinya. Maka kenalilah identitas mereka secara seksama, karena jika dahulu mereka telah menghianati NKRI, Pancasila dan UUD 1945, boleh jadi justeru kini merekalah yang paling nyaring meneriakkan NKRI, Pancasila, dan UUD dan paling mudah menuduh pihak lain anti NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Tetapi isi otak mereka adalah Komunis In donesia. Namanya juga Penghianat. PeKa Iiii. 

Friday, September 28, 2018

DARI NASAKOM SAMPAI KE ISLAM NUSANTARA


TULISAN INI  tidak seserius judulnya karena dari judul itu memiliki rentang waktu yang sangat luas, melilit ke kanan dan kiri bahkan atas dan bawah, artinya membutruhkan sejumlah data yang cukup rumit karena hal ini sangat terkait dengan ijtihad politik plus ambisius yang meledak ledak dan kurang mempertimbangkan kanan kiri, walaupun biasanya berakhir teragis bagi sipemilik gagasan terutama manakala tak didukung kekuasaan, atau kekuasaan terlepas dari genggaman, dan lebih tragis lagi kesemuanya tak memiliki kemanfaatan yang dirasakan secara abadi bagi masyarakat Bangsa dan Negara. Nasakom adalah gagasan yang dijual oleh Presiden Soekarno sedang Islam Nusantara digagas dan diperjuangkan Said Agil Siraj sebagai Presiden NU.  Hanya saja bedanya bahwa Nasakom ditandai dengan benturan eksternal, sedangkan Islam Nusantara lebih menciptakan benturan atau bahkan keretakan internal Islam belaka.

<!-more->

Masyarakat Indonesia itu mungkin adalah masyarakat yang paling majemuk di dunia, sehingga harus merasa berkewajiban untuk berijtihad bagaimana caranya menciptakan sistem perekat yang akan dirasakan kesejukannya bagi semua pihak. Rata rata mereka mengalami kekeliruan yang fatal dan berakhir secara tragis karena gagasan itu bukan disetting kedalam konstitusi tetapi justeru akan dilebur dalam ideologi, atau agama atau kepercayaan, yang sesungguhnya bagi masing masing justeru ideologi, atau agama atau kepercayaan adalah merupakan sesuatu yang final. Sedangkan konstitusi juga adalah sesuatu yang dianggap final tetapi memiliki celah untuk bisa diperbahatrui. Upaya membuat perekat akan menjadi sedikit terhormat apabila tidak dilatar belakangi oleh keinginan untuk berkuasa, karena ambisi untuk kuasa justeru akan jatuh secara hina.

Soekarno kita catat sebagai tokoh yang memiliki ambisi untuk menyatukan keanekaragaman bangsa ini dengan menggatukkan antara Nasional-Agama dan - Komunis (Nasakom), sebelumnya tokoh yang berusaha merekat Bangsa  adalah HOS Cokroaminoto, KH. Agussalim dan masih banyak tokoh lainnya. Tetapi karena Soekarno adalah seorang Presiden yang memangku kekuasaan, jadi bukan hanya gagasan tetapi juga action program. Sayang terjadi pemberontakan demi pembrontakan yang dilakukan oleh pihak Komunis sehingga Soekarno sebagai pengusung gagasan ini sering direpotkan oleh pembelaan demi pembelaan agar keberadaan Komunis dapat selalu dipertahankan. Itulah sebabnya dengan penuh keraguan Soekarno tak mampu melakukan sesuatu ketika masyarakat menuntut pembubaran PKI Komunis, sementara beliau berkeinginan agar Komunis tetap eksis sebagai pembenaran atas gagasan yang menjadi kebanggaannya.

Nurcholis juga pernah tercatat sebagai tokoh yang berusaha menciptakan kompromi merekat bangsa dengan menciptakan  "Islam Yes, Partai Islam No", jelas ini gagasan yang tidak cerdas, gagasan ini sekedar menyenangkan hati Penguasa, yaitu Rezim Soeharto yang memang sedang berusaha memperkecil peran politik Islam dengan berbagai cara. Gagasan Nurcholis Majid dipastikan tidak populer, entah untuk siapa Nurcholis merumuskan gagasannya, nampaknya beliau ingin dicatat sebagai tokoh yang duduk manis di mata Soeharto. Tegas saja Nurcholis gagal.

Dengan segala keterbatasan pemahamannya terhadap Islam, Soeharto pernah juga bermimpi untuk menjadikan Aliran Kepercayaan sebagai perekat. Beliau memang seorang penganut Kejawen tetapi merasa sebagai Muslim sejati. Dan memang info yang beliau dapatkan bahwa Kepercayaan itu adalah sesuatu yang terdapat diseluruh wilayah Indonesia. Beliau nampaknya berharap antara Kepercayaan itu menyatu dengan agama, ada Kejawen yang dekat dengan Islam, dan di daerah daerah lain Kepercayaan itu dengan agama agama yang ada, sehingga perannya Aliran Kepercayaan menjadi perekat dari berbagai perbedaan. Aliran kepercayaanpun sebagai bidang binaan dari Kementerian Agama. Walaupun biaya program ini cukup besar dan bisa lebih besar lagi, dan buku buku pendukung sudah mulai beredar,  tetapi tetap saja masyarakat menolaknya. Dan Alira Kepercayaan dikeluarkan dari Kementerian Agama dan dipindahkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aliran Kepercayaan bukan agama dan tak boleh mengarah ke agama baru. Suharto gagal memebuat perekat.


Lalu bagaimana  dengan Islam Nusantara yang konsepnya masih mentah, dan tampa dukungan literasi yang telah tersedia. Dengan demikian posisi Islam Nusantara sangat lemah untuk dijadikan perekat bangsa. Apalagi sejak awal telah dikatakan bahwa Islam Nusantara tidak seperti Islam yang telah diturunkan di Tanah Artab dan dalam Bahasa Arab.  Ini adalah awal yang buruk bagi penggagas, jika memang menginginkan label Islam sebagai prekat, seyogyanya internalk Islam dikokophkan dahulu, bukan sebaliknya justeru menciptakan keretakan dalam Islam, ketidaksukaan terhadap Arab jangan dijadikan jargon dalam berjuang, karena Islam tak terpisahkan dengan perkembangan Islam dan cara memahami Islam itu sendiri. Jika akan menulis tentang Islam maka bahasa Arab tak akan bisa ditidakkan.


Sulit membayangkan kajian terhadap Islam tampa memahami bahasa Arab. Menghindari penerbitan literatur dengan cara menghindari bahasa Arab dan literatur klasik yang ditulis oleh para ulama Arab atau dalam bahasa Arab menjadi hal yang nyaris mustahil. Studi Islam bukanlah dengan cara melihat politik Arab dan Timur Tengah pada perkembangan terakhir saja, ada keteladanan dari para ulama sambung menyambung atas petunjuk dan bimbingan Allah. Jangan sekali kali kita ingkari.

Jika gagasan Islam Nusantara ini hanya sekedar menyenangkan hati dan politik Rezim Penguasa di Indonesia yang kini dikomandani oleh Presiden Jokowi yang sudah melalui satu Periode, dan paling lama tinggal satu periode lagi. Untuk selanjutnya tak ada jaminan sikap politik Jokowi masih akan diteruskan oleh penguasa berikutnya. Lalu berapa buku yang bisa diterbitkan.

Atau Islam Nusantara adalah dalam mengapresiasi segala thesis Barat tentang Islam, jika dimaksudkan untuk untuk menyenangkan penganut thesis Barat tentang Islam, maka ini akan lebih parah lagi, akan lebih konyol  dari gagasan Nurcholis Majid. Dan Baratpun tahu bahwa thesisnya itu penuh jebakan, Bukan hanya Barat, ummat Islampun banyak tahu itu.  Penggagas Islam Nusantara harus berfikir jernih apakah gerakan ini merupakan gerakan fragmatis belaka, atau benar benar akan menciptakan perekat bangi bagi bangsa.

Bila benar benar akan menciptakan perekat bagi Bangsa yang majemuk ini, maka yang harus diformulasi ulang adalah konstitusi kita, bukan justeru Islam yang akan diformat ulang. Konstitusi harus menjadim eksistensi semua kelompok, fungsi Pemerintah adalah menjamin keterlindungan semua pihak, bukan dengan cara memihak kepada satu pihak serta memusuhi pihak lain. Secara bertahap regulasi yang ada diperbaiki sedemikian ruipa untuk keterjaminan semua pihak agar terjamin keberadaannya. Semua sama di mata hukum.

Pada saat ini keberpihakan Pemerintah kepada kelompok tertentu dan secara transparan memusuhi kelompok lain. Dalam formulasi konstitusi dan regulasi, maka bisa jadi yang harus diformat ulang bukan ummat atau rakyat, tetapi sesungguhnya justeru Pemerintah yang harus diformat ulang. Bukan ajaran Islam.

MAHASIWA ... NASIBMU KINI.

ISLAM NUSANTARA DAN KONSEP PECAHBELAH



ISLAM NUSANTARA semakin lama semakin jelas ujudnya sebagai upaya memecah belah Islam glbal, sehingga Islam menjadi terpecah secara relatif, dan tak bedanya dengan pluraritas, yang satu merasa lebiuh dari yang lain sehingga kesimpulan akhir tak ada Islam yang disepakati karena semua bagian dari Islam itiu adalah sesuatu yang sangat mungkin diingkari, karena dalam Islam pluralis penuh dengan kajian kajian kritis terhadap sesama ummat Islam, sehingga Islam Nusantara adalah secara langsung dan tak langsung akan menyuburkan Islam pluralis.

Kajian Islam Nusantara sejatinya menjadi tersudut, walaupun NU secara Struktural menerimanya, tetapi sangat mengejutkan ketika Islam Nusantara ini merupakan perjuangan yang akan diusung oleh KH Makruf Amin terkait dirinya dipilih sebagai sesuatu yang akan diperjuanmgkannya, maka tentu saja ini menjadi masalah yang cukup mengejutkan. Apalagi selama ini kita tahu bahwa politik Presiden Jokowi tidak sejalan dengan aspirasi ummat Islam. Jokowi tak menginginkan Islam dikaitkaitkan dengan masalah politik, yang nantinya tentu saja akan mengait ke masalah ekonomi, sosial dan  bdayam, atau i-po-lek-sos-bud.

Tetapi nanti akan lebih bijak jika menunggu konsep yang mungkin sekarang sedang disusun sebagai visi, misi pasangan Jokowi - Makruf Amin, walaupun nantinya, berdasarkan pengalaman kita sekarang Jokowi tidak akan merasa trerikat dengan apa yang dikampanyekannya, walaupun Nawacita didengung dengungkan pada masa kampanye, nyatanya itu tidak terlalu mengikat bagi Jikowi setelah menduduki jabatannya. Bahkan sejumlah janjinya sama sekali tak digubris bahkan dilanggarnya sendiri. Artinya visi missin Jokowi - Makruf Amin tidaklah menjadi sesuatu patokan.

Selama ini serasa Islam seperti di kroyok oleh penganut skulair dan pemiran liberalis, tentang banyak hal yang dari sudut agama khususnya Islam yang berseberangan antara lain LGBT, zina dan lain lain yang telah banyak pihak yang memperjuangkannya sebagai pilihan. Mereka tak ingin diatur atur sampai ke masalah private seperti tidur berdua dengan siapa di kamar. Atas dukuingan Barat dan dengan biaya yang sangat memadai  nampaknya  mereka telah memiliki kemenangan demi kemenangan. Dan harus diakui bahwa posisi Islam dalam hal ini sedang tersudut. Islam kini sedang disudutkan oleh skularisme dan liberalisme, jangan sampai konsep Islam Nusantara justeru ditunggangi oleh konsep konsep yang menyudutkan Islam secara keseluruhan.


Wednesday, September 26, 2018

ISLAM NUSANTARA BERKAH ATAU PETAKA ... ?



AGAMA ISLAM, Sebagai Rahmatan lilalamin,memang berhasil menjadi perekat ummat sedunia yang mengimani Allah dan Rasulnya, lalu para ulama dijadikan sebagai pewaris Nabi sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW yang tersebar dimuka bumi. Tentu hubungan antar sesama Saudara seiman harus kita pelihara seutuh mungkin  karena berkah memang akan diturun kepada ummat yang berhasil menjaga keutuhan berjama'ah, dalam waktu bersamaan kita harus berusaha menjaga dan mengutamakan persatuan dan kesatuan Ukhuwah Islamiyah. Dalam waktu bersamaan kita harus mengantisipasi segala sesuatunya yang bisa mengembangkan potensi perpecahan antara satu dengan yang lain, karena perpechan sudah bisa dipastikan akan melemahkan Islam itu sendiri.

Berapa tahun terakhir kecemasan sebagian ummat Islam dengan kemunculam gagasan dan program yang dinamakan "Islam Nusantara" Nampaknya gagasan ini lebih didominasi kelompok (relatif) muda yang memiliki gaya pemikiran yang liberal,  bahkan ada yang mengatakan pemikiran Islam Nusantara sangat diwarnai oleh pemikiran dan pertimbangan politik  keindonesiaan yang dalam hal ini pertimbangan dan narasi yang berkembang menyebarkan aroma fragmatis, tetapi yang lebih mengejutkan adalah disampaikan oleh seorang tokoh yang baru pulang dari kunjungan persahabatan secara pribadi ke Israel, Dia mengatakan Islam yang murni adalah Islam Nusantara, sedangkan Islam yang turun di wilayah Timur tengah adalah Islam abal abal.

Wajar bila kecemasan ini semakin mencekam, mengapa pernyataan itu justeru diumumkan sepulang dari Israel, walaupun sejatinya pernyataan Islam Nusantara telah disebut jauh sebelumnya oleh tokoh yang lain. Ditambah pula terakhir Islam Nusantara dipertegas lagi oleh tokoh sepuh KH. Makruf Amiin yang pada saat sekarang sedang Nyawapres, maka ummat tergirim ke pola pemikiran politis. Ya memang sejak awal kemunculan Islam Nusantara lebih berwarna politis ketimbang theologis, walaupun akhir akhir ini dipertegas dengan narasi  praktik ibadah yang dianut oleh kita selaku penganut ahlusunnah waljama'ah, tetapi oleh sipembicara dipersempit menjadi kelompok Nahdiyyin, walaupun tidak bisa diklaim begitu saja, karena dalam kelompok Nahdiyyin sendiri dikanal dengan Nahdiyyin Struktural di satu pihak dan kultural di pihak lain, yang di dalam banyak hal menunjukkan perbedaan bahkan pertentangan.

Islam Islam sepertri akan membelit kemana-mana dalam banyak aspek sosial dan politik. karena aspek theologis akan sulit bersaing dengan kitab kitab klasik abad awal di Timur Tengah, yang akhir akhir ini lebih banyak dipopulerkan oleh ulama ulama muda. Yang jujur saja demikian banyaknya perbedaan akibat kekurangan konsisten informasi yang pernah dialami. Informasi dari sumber awal banyak disampaikan oleh Ulama muda yang demikian akrab dengan sejumlah media sosial utamanya Youtube. Ban yak mereka yang terbilang muda atau setidaknya generasi awal kelompok milenial seperti menemukan sesuatu yang sahih dari kitab klasik yang mengalami keterlambatan diviralkan. Ya ..., mereka berguru dengan memanfaatkan Youtube, demham tokoh tokoh muda alumni Timur Tengah. Yang tal segan berdalih dan bersandar dengan memanfaatkan kitab klasik sebagai media sumber belajar.

Kita berharap walaupun nantinya kelompok pendukung Islam Nusantara ini kelak pada suatu saat mampu menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan kelomok politik praktis, atau lebih tepatnya penguasa, uatamanya manakala pasangan Jokowi  -  KH. Makruf Amin memenangi kontestasi pasangan Pilpres ini, jangan hendaknya kekuasaan dijadikan tangan besi semisal persekusi yang dilakukan oleh sejumlah personal Pemuda Anshor - Banser ketika memperesekusi sejumlah tokoh termasuk Ulama yang tak sejalan diberbagai tempat akan terulang lagi, manakala kekuasaan dan tangan besi ikut bicara, maka yakinlah bahwa kehadiran Islam Nusantara walaupun semula diharapkan akan menjadi Rahmad bisa dipastikan akan berubah menjadi laknat, bukan mengembangkan Islam di Indonesia, tetapi sebaliknya memperkecil dan menghapus keberadaan Islam di Nusantara,semoga.  

  


Sunday, September 16, 2018

MAHASISWA MULAI BERAKSI ... ?...



BEBERAPA hari ini kita Bangsa Indonesia mengalami kecemasan amat sangat karena satuan mahasiswa secara hampir berbarengan turun kejalan mirip ketika akan menjatuhkan Presiden Suharto. Dan memang aksi Mahasiswa beberapa hari ini menuntut agar Presiden Jokowi turun dari Jabatan, antara lain karena segala janji janji Jokowi tak terbukti, sehingga rakyet semakin mengalami kesulitan. Pemerintah dan kita sudah terlanjur merasa sebagai bangsa yang demokratis, dengan bukti telah berulangkali mengamandeman UUD 1945, dan demikian banyak pasal konsep Barat menyangkut masalah ideologi liberal serta nilai nilai skularisme lainnya dengan mulus diterima dan sejumlah regulasi telah bergeser, dan itu semua bisa dijadikan indikator bahasa demokrasi mulai memiliki kedudukan yang sangat membanggakan.

Tetapi mengapa kok masih ada Mahasiswa turun kejalan, apakah mahasiswa tak khawatir mereka akan dipersekusi masyarakat sipil lainnya. Sehingga turun ke jalan dalam jumlah besar besaran dan serentak pula di sejulah Kota Besar di Indonesia. Apakah Partai politik sudah tak dianggap lagi representatip mewakili aspirasi rakyat, sehingga rakyat merasa harus dengan sendirinya menyampaikan aspirasinya.

Thursday, September 13, 2018

MENGAPA KITA TAK BERGABUNG DI ALIANSI ANTI TERORO ISLAM



ARAB SAUDI akhirnuya mendirikan Aliansi Anti Teror yang anggotanya terdiri dari negara negara Islam, diberitakan bahwa aliamsi itu gunamya untuk membentuk persatuan guna membangun ketahanan bagi negara negara Islam. Bagi negara negara Islam yang mendapatkan gangguan teroris dan tergabung dalam aliansi ini dapat meminta bantuan baik berupa dana maupun pelatihan teknis. Yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa Indonesia bersaama Iran tak bersedia bergabung bersama Aliansi yang beranggotakan 40 Negara Islam itu. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi ummat Islam indonesia.

Ada sekitar 40 negara Islam tergabung dalam aliansi ini antara lain adalah 1. Arab Saudi  2. Jordan   3. Uni Emirate Arab   4. Pakistan   5. Bahrain  6. Turki   7. Republik Benin 8. Bangladesh  9. Chad  10. Togo   11. Tunisia    12. Djibouti  13. Senegal   14. Sudan   15. Sierra Leone  16. Somalia   17. Gabon  18. Guinea  19. Palestina   20. Komoro   21. Qatar   22. Pantai Gading   23. Kuwait   24. Lebanon    25. Libya   26. Maladewa   27. Mali   28. Malaysia    29. Mesir
30. Maroko   31. Mauritania    32. Nigeria   33. Niger  34. Yaman

Ada sebagian kecil dari Negara Negara Islam yang tak bergabung dalam aliasi ini termasuk diantaranya Indonesia dan Iran. Jika di satu pihak Arab Saudi berdiri pada kelompok yang jelas sebagai Anti Teror, lalu bagaimana dengan Indonesia yang tidak berdiri dalam barisan itu, kita tak ingin berdiri berseberangan dengan  mereka. Sebagai rakyat tentunya kita ingin berada pada posisi terhormat.

Bukan hanya satu dua pejabat, bahkan tak terhiutung jumlahnya yang mengatakan bahwa Indonesia adalah anti teror. Oleh karenannya dibutuhkan penjelasan yang sejelas jelasnya atas ketidak bersediaan Indonesia untuk bergabung dengan Arab saudi dan kawan kawan sebagai negara Islam. yang tertulis ada 34 negara dari 40 yang diberitakan. Tentu Pemerintah memiliki pertimbangan tersendiri mengapa tak berkenan bergabung dengan Negara Negara Islam itu, atau kita sudah terlanjur gabung dibarisan yang lain, lalu negara mana sajakah yang kita ada di dalamnya. Tentu saja kita berharap kelompok yang kita masuki itu tidak mengambil posisi berseberangan atau bermusuhan dengan Negara Negara Islam.

Jangan sampai masalah ini justeru mengundang banyak spikulasi dengan adanya spikulasi yang viral tak beraturan itu maka Rakyat Indonesia yang akan dirugikan. memang pada saat ini sepertinya ada pihak yang  ingin memisahkan Arab Saudi secara politik, agama dan negara serta budaya. Bila ada pihak yang memiliki kemampuan untuk menjelaskan itu semua secara jernih adalah alhamdulillah, bisa mencerdaskan. Tetapi dengan munculnya narasi "Silakan Beraga Islam Tetapi tak harus menjadi Arab" atau ke Arab Araban atau kata kata lain yang intinya ingin memisahkan sesuatu yang berbau Arab dengan Islam, sementara Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab dan berkembang dengan dukungan budayanya, sedikit banyaknya budaya Arab menjadi alat untuyk memudahkan pemahaman terhadap Al-Quran dan Islam. Maka ketika justeru ada yang gigih untuk memisahkan antara Islam dengan Arab adalah sesuatu memunculkan kerugian besar bagi ummat Islam dunia.

Dalam waktu bersamaan muncul narasi Islam Nusantara, dengan tambahan kata Islam Nusantara adalah Islam yang murni sedangkan Islam di Arab adalah Islam abal abal atau KW dan semacamnya, maka selain akan menyulitkan ummat memahami Islam justeru akan membuat kita dikucilkan dari pergaulan dan persahabatan dengan saudara saudara kita ummat Islam yang ada di Arab. Lalu, apakah ini sebagai realisasi nya. Sungguh ummat membutuhkan keterangan secara jernih, bukan politis, apalagi fragmatis.

Tuesday, September 11, 2018

INDONESIA MEMANG BUTUH PENCERAHAN.

ALIANSI PENCERAHAN INDONESIA (API)


beberapa hari yang lalu, saya dihbungi seseorang mengajak saya untuk menghadiri sebuah pertemuan untuk pencerahan. Kedatangan kami disambut oleh panitia pengundang dengan segala keramahtamahannya, kadisori nasi kotak, kue dan minuman, air mineral serta dipersilakan memilih kopi atau teh, dan saya memilih kopi, sedangkan nasi kotak saya simpan untuyk dibawa pulang, panitia merelakannya. Saya lihak ada semacam kotak amal dari kardus kosong, saya isi kotak itu dengan pecahan 100 ribu rupiah, sehingga kalaupun hasil pertemuan itu tak memiliki prospek yang bagus bersama saya, maka saya sudah mengurangi kerugian panitia dengan uang itu.

Pertemuan itu nampaknya digagas sejumlah orang, secara getok tular, mereka mengundang teman, dan
teman mengundang teman lagi sehingga sampailah undangan itu kepada saya, dan sayapun tercatat sebagai seseorang yang legal untuk menghadiri pertemuan itu. Dan tentunya teman yang mengajak saya telah benar benar mempertimbangkan bahwa kehadiran saya dalam situasi bagaimanapun tidak akan menjadi pangkal kekeruhan yang akan menghambat tercapainya tujuan. teman mengundang teman lagi, sehingga sampailah kepada saya, dan saya dinyatakan legal menghadiri pertemuan itu, dan tentunya teman yang mengajak saya telah mempertimbangkan kehadiran saya tak akan membuat kekeruhan manakala telah tahu bahwa maksud pertemuan adalah dengan tujuan tertentu. Dan kalaupun itu terjadi maka saya akan meninggalkan pertemuan sesopan mungkin, karena diusia saya yang
sudah menginjak angka 65 tentu sudah tak pantas mencari sensasi murahan seperti itu. Dan itu berhasil saya lakukan. Setelah Say Hallo, saya perkirakan orang yang saya kenal dalam pertemuan itu tak lebih dari 15%, dan dari jumlah itu saya taksir 5% nya atau mungkin lebih, saya yang mengenal mereka, sedang mereka tak mengenal saya, itu karena mereka publik pigur.

Setelah memperkenalkan diri sekedarnya serta menyampaiukan maksud dan tujuan pertemuan serta tak lupa mengucapkan terima kasih dan meminta maaf atas segala kekurangan sebagaimana lazimnya pertemuan yang yang tidak semuanya wajah dikenali oleh sipengundang. Lalu disampaikan tausiah. Saya tak terlalu tertarik dengan  pembicaraan mereka, yang nampaknya masih sekitar kaji kaji yang lalu saja. Dan mereka juga tahu bahwa  kami yang diundang adalah terdiri dari mereka yang kurang puas dengan kepemimpinan Presiden Jokowi.

Bagi saya boleh boleh saja orang merasa tidak puas dengan kepemimpinan Jokowi sebagai Presiden, dan dalam waktu yang bersamaan meyakini adanya tokoh yang jauh lebih baik dari Jokowi. Selaku Muslim otomatis saya meyakini bahwa kepemimpinan itu sangat terkait dengan keimanan, demikian juga politik bagi saya sebagai Muslim, harus dikaitkan dengan keimanan. Selain peribadatan, dakwah dan pendidikan maka di negara yang berpendudiuk Muslim mayoritas seperti Indonesia ini maka warga Muslim wajib mengkaitkan aktivitas kepemimpinan, perpolitikan dan perekonomian serta hukum dengan masalah keagamaan, di luar ibadah, dakwah dan tarbiyah atau pendidikan.

Memisahkan Islam dengan kepemimpinan, politik, hukum dan pendidikan sama dengan upaya memusuhi Islam, dengan demikian maka sebagai warga yang beragama Islam, jelas saya menginginkan seorang pemimpin yang memiliki keinginan untuk melindungi ummat Islam terkait dengan kepemimpinan, perpolitikan, perekonomian dan pendidikan, bahkan kebudayaan. Itu semua harus sejalan dengan Islam atau setidaknya tidak bertentangan. Perlindungan terhadap itu semua harus tergambar dari regulasi yang ada serta struktur pembiayaan pembangunan. Jujur bahwa semangat untuk itu tidak ditunjukkan oleh Jokowi sebagai Presiden. dan itu pula yang membuat saya merasa kurang puas dengan kepemimpinan Jokowi selama menjadi Presiden. Dan Jelas saya menginginkan Tahun 2019, Pilpres yang akan datang, kita akan pilih Presiden yang lebih baik komitmennya terhadap Islam. 

Ada petunjuk dari Allah SWT tentang kreteria orang yang dapat atau layak dijadikan Pemimpin, yang sejatinya cukup tegas dan jelasa, ajaran tentang memilih pemimpin itu memang harus dipahami secara cerdas, jernih dan konsisten, manakala ada kepentingan politik yang terlepas dari kepentingan lurus hanya kepada Allah Swt, maka masalah kepemimpinan itu memang bisa menjadi fitnah. Demikian gambaran tentang sensitivitasnya masalah kepemimpinan itu.

Ummat Islam Indonesia nampaknya sedikit agak terlambat mengantisipasi masalah Kepemimpinan itu sehingga beberapa kali Parpol Islam berdiri tidak berhasil melahirkan literasi yang lebih lengkap tentang Kepemimpinan, demikian juga dengan organisasi semisal NU, Muhammadiyah dan sejumlah organisasi Islam kenamaan di Indonesia, masih belum menyiapkan fikih kepemimpinan Islam di Indonesia.

Pada saat ini kelompok Nasionalis dan Nasionalis Skulair serta mereka yang mengaku ngaku sebagai keturunan dari Aktivis Partai Komunis indonesia (PKI) sepertinya telah lebih dahulu mempersiapkan diri dengan berbagai teori yang menjiplak Barat yang berintikan Pemikiran Yahudi, Nasrani  dan Pemikiran Liberal lainnya untuk diterapkan di Indonesia. Keberhasilan mereka memasukkan konsep ke jantung Konstitusi Indonesia, seperti masalah politik identitas, pornografi dan LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Sebenarnya harapan Ummat Islam sangat ringan dalam kepemimpinan negara ini, minimal sejalan, dan yang tidak diinginkan adalah bertentangan dengan Islam. Ummat Islam yang konsisten dengan agamanya menginginkan Kepemimpinan Nasional yang tidak memushi Islam.

Sepertinya Ummat Islam mendapatkan kesulitan untuk memulai dari mana akan masuk ke dalam pembahasan masalah kepemimpinan, dan secara tiba tiba saja Gubernur Jakarta Ahok membukakan jalan agar masalah kepemimpinan itu menjadi bahasan dibanyak pengajian dan tausiyah, Ahok mencoba memberikan wacana yang keliru tentang ajaran Islam, dan atas wacana Ahok itu bangkit secara bersamaan para dai dan ustad dan Kiyai seperti dipimpin derijen menyanyikan lagu yang sama. Walaupun ada juga lagu yang terasa kurang merdu karena suarapun tak artifisialis.

Lagu yang merdu itui selain mengikuti nada yang sesuai dengan nada yang disebut dalam al-Quran dan haddits, sedang lagu yang kurang baik artifisialisnya adalah lagu yang dapat dengan mudah difahami maksudnya, nadanya samar samar, bahkan diputar balik lagikanya. Barangkali itu pula yang dimaksudkan dalam al-Quran itu sebagai kelompok yang munafik, sikapnya tidak jelas dijadikan panutan. Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia diawal kalam (al-Baqoroh) ada yang ditujukan kepada orang yang beriman, ada yang ditujukan kepada orang kafir, dan ada juga yang ditujukan kepada orang munafik.

Jumlah ayat yang ditujukan kepada munafik jauh lebih banyak dibanding surat yang ditujukan kepada mukmin dan kafir. Mungkin karena sikap sikap kemunafikan tadi sangat mungkin membuat ummat ini terkecoh. Maka sesungguhnya rentetan pristiwa politik sejatinya dapat menghantar ummat Islam Indonesia mengalami peningkatan wawasan yang menghantar pada pemahaman yang kaafah (total). Bahaya aksi kemunafikan itu jauh lebih sempurna dibanding kekafiran. Ibarat menohok kawan seiring atau menggunting dalam ikatan, sesuatu yang sudah dapat dipastikan, namun demikian semudah itu juga kita mampu mengidentifikasi kemunafikan kelompok kelompok. Hanya satu patokan yang jelas dan tegas, serta mudah difahami yaitu adalah bahwa ikutilah ulama yang dibenci oleh orang kafir. Atau ada sesuatu yang keliru yang dilakukan oleh orang munafik sehingga mengundang simpati pihak yang membenci Islam, dan perlu dicatata, masih banyak orang kafir yang diam diam bersimpati kepada ketegasan Islam.


Keanekaragaman sikap politik bisa memperjelas keterpengaruhan politik karena politik sementara ini adalah masih merupakan sumber dari korupsi dan sikap fragmatis lainnya, sehingga nantinya ummat akan terbelah, apakah dengan keimanan dan keislamannya akan mewarnai politik sehingga sejalan atau mendekati atau setidaknya mengakui kebenaran politik Islam, atau sebaliknya juasteru mencari dalih membuat ummat menjadi bimbang serta menkaburkan pemahaman terhadap nilai politik Islam, dan menerima sikap fragmatis dan mempraktekkan politik sebagai sumber korupsi. Keterbelahan sikap seperti ini diharapkan mampu diantisipasi oleh para dai, dengan aktivitas dakwahnya yang tentunya nanti akan didukung sepenuhnya oleh para ulama yang konsisten dengan keislamannya. Yang manakala atas seijin Allah kebenaran mampu kita pertahankan maka bahagia adalah sesuatu yang menunggu bangsa ini secara kesuluruhan.




Maaf ... insya Allah disambung



Sunday, September 9, 2018

APA KEUNTUNGAN ENTE SETELAH MEGHINA ULAMA



KALAU ente bukan beragama Islam, saya masih maklum, walaupun itu jelas melanggar hukum, biarkan itu urusan yang berwajib. Tetapi bila ada melakukan penghinaan terhadap ulama oleh seorang penganut agama Islam saya tidak abis pikir keuntungan apa yang didapatnya. Apakah dia tak tahu bahwa ulama adalah sosok yang harus kita hormati pasca era Kenabian/Kerasulan, Ul;ama itu pewaris Nabi, maka stelah tak ada lagi Nabi dan Rasul maka ulamalah penggantinya. Tugas ulama itu adalah menyarakan kebenaran, kebenaran yang disuarakan oleh ulama haruslah kebenaran dari Allah. Ititik) . Adakalanya 'Kebenaran itu berbenturan dengan Kekuasaan', Bila ini terjadi maka martilah kita nilai secara cermat apakah kebenaran yang disampaikan oleh ulama itu masih kebenaran dari Allah, dan harus kita nilai secara cermat pula apakah kekuasaan itu digunakan untuk menentang kebenaran Allah. Jika kekuasaan digunakan untuk menentang Allah, maka tugas kita bersama adalah meluruskannya, melalui jalur yang tersedia.  

Thursday, September 6, 2018

ADA TULISAN LAAILAAHA ILLALLAAH, UAS DIINTIMIDASI



UAS membatalkan tausiyahnya diberbagai tempat dibilangan Jawa Tengah dan Jawa Timur karena merasa diintimidasi, spontan teman teman melontarkan sumpah serapah kepada PKI, kare dahulu yang sering mengintimidasi dan memperskusi jama'ah pengajian Islam adalah PKI. Betapa menyesalnya mereka setelah tahu bahwa yang mengakibatkan UAS merasa terintimidasi adalah dari Saudara Saudara Kita Seiman BANSER - ANSHOR. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi sehingga  ummat Islam bersedia diadudomba. Perpacahan Islam adalah diinginkan oleh oleh kelompok yang tidak menginginkan Indonesia ini maju. Mereka menginginkan Indonesia ini bodoh dan tidak mandiri, dan cara yang paling jitu adalah dengan cara memecahbelah ummat Islam di Indonesia. Dan memang ini sudah dilakukan sejak masa penjajah.

Bagaimana mungkin UAS sehingga menjadi terintimidasi hanya lantaran penitia penyelenggara memasang tulisan Laailaaha Illallaah baik di baju beberapa panitia serta dibeberapa buah bendera.Alasan yang sangat mengerikan sekaligus menyedihkan, karena kalimat tauhid itu adalah kalimat suci yang harus kita jaga dan kita agungkan. Memang merupakan diskusi  jernih harus dilaksanakan secara cermat, Jauh dari keuntungan politis serta pertimbangan fragmatis lainnya.

Sunday, September 2, 2018

MENGAPA PENGUASA ITU AROGAN.




DUA MINGGU terakhir kita disuguhi heboh heboh makar deklarasi Tagar 2019 Ganti Presiden, padahal sebelumnya masyarakat sudah nyaman, ada masyarakat yang sepakat 2019 Ganti Presiden dan ada juga kelompok yang mendukung Jokowi Dua Periode. Rakyat semula berharap akan terjadi pendidikan politik secara geratis. Katrena kedua kelompok ini akan menampilkan edukasi yang dilakukan oleh para intelektual dari masing masing pihak.Sehingga dari perbedaan ini diharapkan masyarakat Indonesia akan menjadi bertambah cerdas, dan tak mudah dikelabuhi dengan apapun.

Disatu sisi Pemerintah telah menerbitkan berbagai regulasi dalam membangun demokrasi Indonesia, sehingga pada saat ini adalah menjadi kebanggaan bagi Pemerintah yang berkuasa, dengan segala kampanyenya bahwa rejim yang berkuasa pada saat ini adalah prototipe demokrasi dengan segala ketaladannannya. Tetapi justeru pada saat ini dengan mudahnya Rejim pada saat ini. menuduh dan menindak pihak pihak yang berseberangan baik langsung maupun tidak langsung.  Disebut langsung bila dilakukan apara aparat, disebut tidak langsung mnakala dilakukan oleh para pendukung.

Walaupun dalam kesempatan memberikan arahan kepada pendukuing Jokowi, Jokowi sendiri yang mengatakan bahwa timnya harus siap untuk berantam dengan para pesaingnya, tetapi semestinya itu jangan diartikan secara literlak, dan seorang Presiden itu tak mungkin bicara seperti secara serius, jelas pada saat itu Presiden hanya bergurau, walaupun disampaikan secara serius, tetpi yang mendengar harus menganggapnya sedang main main atau bergurau, atau jusateru yang sebaliknya. Pasti yang dimaksudkan adalah manakala pihak lain membuat keributan, maka mnghindarlah, karena keributan akan disel;esaikan oleh petugas kemanan. Jadi bukan bermin hakim sendiri.

Mungkin komunikasi yang kurang baik, atau keterbatasan perbendaharaan kara, sehingga mengakibatkan salah pengertian itu, sehingga dikira Presiden sedang srius ngajak ribut, hal tersebut akan menjadi sangat bisa terjadi karena dalam tahun politik, yang pada saat ini suasanapun menghangat.maka manakala pemimpin terselip salah ucap maka berpengaruh sangat negatif bagi kelas kelas bawah. Meskipun tak juga bisa disebut kelas bawah bagi Ali Muhtar Ngabalin yang memiliki jabatan penting di Stap  Istana Kepresidenan.