Monday, January 28, 2019

SAYA TERINGAT DENGAN GAGALNYA MACHFUD MD SEBAGAI CAWAPTES.

MENIT MENIT TERAKHIR sebelum ditetapkannya Cawapres nama Machfud MD dihapus dan muncullah nama Kh. Ma'ruf Amin, tercatat dua nama politisi yang disebut sebut sebagai pihak yang sangat mempengaruhi keputusan Presiden Jokowi untuk menghapus nama terasebut dan mengganti nama yang baru, belakangan Presiden Jokowi mengaku bahwa dia tidak mampu mengatasi tekanan untuyk menghapus nama Machfud.

Demikian pula nampaknya apa yang dihadapi oleh Presiden Jokowi yang semula gembar gembor akan membebaskan Tahanan Politik Ust. Ba'asir  tampa syarat, dengan alasan kemanusiaan, karena yang bersangkutan selain sakit sakitan, memang beliau sudah udzur dan kondisinya sangat memperihatinkan, karena sangat membutuhkan batuan orang lain untuk kepentingannya sehari hari.





Karena dua pertiga hukuman telah dijalani dan memang yang bersangkutan sudah memenuhi syarat mengajukan pembebasan bersyarat. Tiba tiba ada tawaran pembebasan tampa sarat, dengan alasan kemanusiaan, karena kondisi fisik yang bersangkutan sangat memprihatinkan.


Tiba tiba ada Menteri yang bicara lain dan menilai bahwa Presiden telah melakukan grusa grusu, dalam kasus Utd. Ba'asir  tetapi belakangan baru diketahui bahwa sebelumnya pihak Australia telah menyampaikan protesnya tentang pembahasan Ust. Ba'asir. Niat baik Pemerintah untuk memberikan kebebasan tak bersyarat karena kondisi yang bersangkutan  sangat memperihatinkan. Tetapi kini niatan itu seolah diralat  kalimatnya.menjadi  "Berdasarkan Rasa Prikemanusiaan Akan memberikan Pembebasan Bersarat Kepada Ust. Abu Bakar Ba'asyir"

ita merasa khawatir jangan jangan membatalkan keputusan Pembebasan Tak Bersyarat itu memiliki kesamaan dengan gagalnya Prof. Machfud MD, yang semula telah digembar gembar akan menjadi Cawapres mendampingi Presiden jokowi, bahkan yang bersangkutan telah dimintai mengantarkan contoh ukuran baju agar dibuatkan seragam baju putih. Prof Mahfud MD batal mendampingi Jokowi dalam Pilpres, dan itu diputuskan dalam menit menit terakhir.

KARAKTER POLITIK NU

NAHDLATUL ULAMA (NU) semula memang lama beraktivitas sebagai Parpol. Dan kendati telah menyatakan diri kembali ke khittah yang artinya meningglkan ktivitas polituik, tetapi nampaknya sebagian besar warga Nahdiyyin kurang ikhklas mninggalkan aktivitas politik, dan sekalipun Gus Dur sebagai mantan Ketua Umum NU mendirikan Partai Politik PKB, tetapi justeru itu pulalah yang kini terkuak bahwa PKB sulit memposisikan diri sebagai Partai yang mampu mengakomodir aspirasi politik warga Nahdiyyin. Bahkan konon kabarnya warga Nahdhiyyin yang memilih PKB perkembangan terakhir justeru tajk lebih dari 30% saja, karena berbagi dengan PPP dan konon sebagian bsar ada di Golkar yang berkuasa sela puluhan tahun pula. Dalam kancah serta ritme politik seperti itu para kader NU dibesarkan. Artinya tak satu Parpolpun yang mampu menampung aspirasi mereka dalam berpolitik. Sehingga ketika mereka bicara politik, bukanlah dalam arti yang sebenarnya.




Nampak ketika masa Orde Baru dan banyak kader NU menampakkan kelincahannya ketika banyak tokoh politiuk Nasional mengupayakan politik massa mengambang, banyak sekali kader Islam yang mayoritas NU menunjuukan kelincahan melakukan deal deal politik sehingga mereka paling mudah diaksep oleh berbagai tokoh aliran politik dan berbagai kepentingan lainnya. Tetapi sisi buruk dri itu semua membuat para kader muda menjadi nampak sangat fragmatis dalam berpolitik. Dan akibatnya mereka seperti sangat sulit dalam menyatukan diri di bawah panji panji keislaman.

Ciri ciri watak fragmatis yang menyerang genarsi muda kita adalah mereka lebih memiliki komitmen yang kuat kepada tokoh tinimbang lembaga. Memang watak seperti ini bila politik itu berukuran kepada jumlah sebagai indikatornya  akan menunjukkan hasil yang signifikan. dalam memobilisasi massa. Walupuin sesungguhnya itu hanyalah ikatan semu, utamanya ketika kekuasaan sedang dikuasai oleh pihak yang kurang sejalan.

Melekatkan diri kepada Penguasa ketimbang kepada institusi akan memperjelas sisi fragmatisme seseorang. Tetapi baru itulah yang mampu dilakukan. Kemampuan menguasai siasah seperti apa yang dikatakan oleh Said Agil Siraj selaku Ketua Umum NU, masih baru sebatas mendekatkan diri kepada para penguasa, bahkan baru mencari cari dalil pembenaran kepada tokoh yang sedang berkuasa, sebagaimana ketika Pak Said Agil berbicara untuk menguasai ekonomi, pendidikan, kebudayaan, ini hanya ungkapan politik, seperti kita tahu bahwa politik itu hanya menyentuh kulit ari belaka, Generasi muda harus memiliki kemampuan dalam mengoreksi, apakah sikap ini masih layak dipertahankan untuk keberhasilan yang sesungguhnya di masa masa mendatang. Untuk itu NU nampaknya butuh persatuan dan kesatuan Imamah. semoga.

Wednesday, January 9, 2019

NUNUIS SUPARDI ; RAWATLAH KEANEKARAGAMAN

PAK NUNUS adalah sesepuh kami di Grup WA, semula grup itu saya bentuk untuk obat kangen yang berabggotakan Pak Endjat Dj, (Jakarta) Bunyana, B. (Lampung) A.Hanifah (Palembang) dan saya juga tinggal di Lampung,  semula hampir setiap hari Pak Endjat mengirimi saya postingahn secara Japri, maka kalo kami bergabung cukup sekali untuk mengirimi kami di WA.  Lalu Pak Bunyana menambahkan anggota, tetapi nampaknya masih sepi juga akhirnya Pak Bun mengajak sejumlah mantan Kepala Museum dan bahkan  juga sejumlah mantan Pejabat di lingkungan Dirjen Kebudayaan yang selama ini merupakan pembina kebudayaan.

Ada perasaan rindu maka suatu hari tak tahan rasanya memandam rindu saya memberanikan diri chat melalui japri menghubungi Pak Nunus. Saya bilang senang rasanya melihat foto Pak Nunus, sambil mengenang dahulu ketika bergabung di lingkungan Dirjen Kebudayaan, sebelum akhirnya saya piundah keb Bidang pendidikan Formal dan ujungnya mutasi kembali ke Bidang Pendidikan Luar Sekolah. Pak Nunus mengirimi saya tujuh buah foto yang sangat bersejarah baginya, dan saya sangat tertarik  Saya menanyakan prihalal sebuah Foto yang nampaknya foto ketika beliau diwawancarai Metro TV.  Lalu saya menanyakan acara apa itu. Rupanya itu acara melawan lupa yang disiarkan sehubungan dengan akan diselenggarakannya  kongres kebudayaan Indonesia yang merupakan acara setiap lima tahunan.

Beliau berceritera terjadinya dialog dialog kebudayaan dan kebangsaan, ada pihak yang berkleinginan Budaya Bangsa menjiplak Brat yang sudah maju, tetapi ada ynag berkeinginan mempertahankan nilai nilai ketimuran  sebagai nilai yang selama ini dihayati masyarakat, ada juga polemik Kebudayaan  pada generasi Sutan Taqdir Ali Syahbana.

Tuesday, January 8, 2019

UPAYA MEMASYARAKATKAN MUSEUM


MEMBANGUN sebuah Museum dengan dana besar APBN itu jauh lebih mudah ketimbang memasyarakat museum itu sendiri,  kalimat itu saya kutip dari bhasa para penceramah yang mengatakan bahwa membangun Masjid itu jauh lebih mudah ketimbang memakmurkannya. Tetapi bukan berarti saya akan mengatakan bahwa kedua hal ini sama dan sebangun, tidak. Tetapi mnurut saya beloeh boleh saja kita menirunya dalam rangka memudahkan memahami persoalannya. Apa persoalannya, yaitu mempertanyakan fungsi Mesium sebagai alat atau tepatnya media edukasi.

Kalau saja pengelolaan Museum itu dikelola secara profesional  maka Museum menjadi  media pendidikan yang  ideal karena museum memiliki atau merawat sejumlah koleksi, dimana koleksi adalah merupakan serakan yang merupakan kekayaan metafore dari bangunan prtemis premis untuk mencapai suatu sebuah kongklusi. 



KALIMAT di atas adalah upaya saya untuk  memahami apa yang ingin disampaikan oleh Mang  Nanang  ( silakan pirsa Youtube di atas)  tentang saksi yang bicara lantang yaitu arca dan prasasti sejatinya mrmiliki kemampan bicara secara gamblang, yang manakala salah urus maka keduanya akan menjadi saksi bisu. Itulah sebabnya maka pengelolaan koleksi koleksi di museum hartus memiliki kemwahan metofor. Dan hartus kita ketahui bersama bahwa proses asimilasi di Indonesia mempercepat pemahaman akan identiotas diri.

Museum harus diupayakan untuk menjadi media pemdidikan kebangsaan.  sejatinya museum sebagai media pendidikan harus mengacu kepada peran media massa,  tetapi sayangnya pada saat ini justeru media massa Nasional Indonesia wajahnya nampak buruk sejkali setelah mereka memiliki kesepakatan  untuk  menutup nutupi pristiwa luar biasa, reuni 212 sebagai gerakan pencari keadilan. Artinya bahwa peninggalan sejarah yang demikian runtut itu, mulai dari klasik/prasejarah, masa Islam hingga modern yang dimiliki oleh Museum Lampung manakala kurang teridentivikasi maka hampir bisa dimiripkan dengan tertutupnya kebenaran,

Ketidak mampuan kita mnautkan antara satu koleksi dengan koleksi lainnya, sehingga menjadikan koleksi itu sama dengan tercerai berai sehingga tidak mampu menimbulkan identitas bangsa.Manakala kaburnya identitas bangsa ini akan menyulitkan kita dalam memahami kekayaan bangsa, antara lain ke-pluraritasan bnsa. Niatan penguasa ekonomi dunia untuk menciptakan satu masyarakat dunia dengan cara mengenyahkan keanekaragaman, sekedar untuk memasarkan produk produk yang menghasilkan keuntungan finansial bagi berbagai negara produsen. Maka kenyataannya nanti kita hrus mengantisipasi agar terdidiknya generasi millenial, karena kita memiliki kepentingan untuk mempertahan Bangsa dan Negara NKRI. (Fachruddin)

Thursday, January 3, 2019

RICUH HOAX SURAT SUARA ... POLITISI MAIN GORENG

MUNGKIN demi elektabilitaspara politisi kita lebih suka dengan kericuhan, bisa jadi dengan kericuhan selain akan ada muncul pecundang, tetapi di sisi lain akan muncul sejumlah nama harum yang akan mampu meningkatkan elektabilitas. Bisa jadi keriuhan itu merupakan panggung geratis para politisi, sehingga keriuhan menjadi sesuatu yang ditunggu tunggu. Para politisi mungkin tidak terlalu menyadari bahwa masyarakat sangat muak dengan keriuhan keriuhan antar politisi yang sedang berebut elektabilitas itu. Karena justeru ketika mereka sedang membutuhkan suara, justeru rakyat dibodohi dengan cara menampilkan keriuhan di panggung geratis. Sudah cukup  wajah media massa Indonesia tercorengmoreng atas kesepakatan tidak memberitakan pristiwa besar kaliber dunia seperti Reuni 212 umpamanya, Tetapi memang setiap kali terjadi kericuhan dan keriuhan, ada saja yang diam diam memanfaatkan untuk keuntungan pribadi maupun kelompok terbatas.



Semestinya para politisi menciptakan panggung yang bermartabatuntuk menampaikan visi missi dan mengajak audien, daripada mempertontonkan pembuilian terhadap sesama politisi atau pihak pihak lain yang sering menyuarakan kebenaran. Kita akan menjadi sedih manakala pihak pihak yang selama ini sering menyuarakan kebenaran itu justeru menjadi sasaran pembuliyan, atau bahkan penggerudugan yang melibatkan para politisi yang suka main goreng, yang memang nampaknya mempersiapkan diri sematang matangnya untuk memiliki keterlibatan untuk berpartisipasi penuh dalam keriuhan dan bahkan kericuhan, dan memanfaatkan dunia media massa Indonesia yang sejatinya pula sedang mengalamai cacat  moral. Yaitu menyembunyikan berita baik sehingga masyarakat bangsa Indonesia mendapatkan informasi jusateru dari media asing, sementara media Nasional bersepakat untuk tiarap kecuali hanya beberapa. Tidak terlalu salah jika ada yang mngatak bahwa Bangsa Indonesia sedang bergerak menuju kehancuran.

Masalah surat suara yang telah dicoblos, silakan diselesaikan secara seksama dan dalam waktu yang sesingkat singkatnya, karena sebenatar lagi kita Pilpres. Janganlah hal ini terlalu digoreng karena yang dibutuhkan adalah penyelesaian secara hukum, bukan pembulian. Karena yang paling penting sekarang adalah bagaimana caranya Kepercayaan Masyarakat kepada KPU itu pulih, Sejak masa Orde Baru Pemilu ityu dirasakan penuh kecurangan, dan hingga kini belum lagi pulih. Bila kepercayaan masyarakat kepada Pemerintah habis, maka bakal ada munculnya berbagai pembangkangan. Itu yang kita khawatirkan.

NGIMAMI SHOLAT AGAR DIPILIH JADI PRESIDEN ADALAH SYIRIQUL KHAFI

[18:13, 1/1/2019]
Postingan dari ENDJAT DJAENUDERADJAD: copi pasre dari Grupmereka :

NGIMAMI SHOLAT AGAR DIPILIH sbg PRESIDEN  adalah SYIRKUL KHAFI

                               Oleh Iip Wijayanto.


Pernyataan ada orang yang ditawari jadi imam sholat .kemudian merasa tidak pantas menjadi imam sholat,  karena banyak yg lebih fasih...

adalah bentuk sikap TAWADHU yg wajib dimiliki oleh seorang pemimpin.

kita ambil contoh riil saja,  jika ada acara besar di istiqlal saat kepemimpinan imam besar (alm)  Prof.KH.Ali Musthofa Ya'kub,  beliau selalu mempersilahkan ulama lainnya utk menjadi imam sholat berjama'ah...dan ini sikap TAWADHU...

dalam kunjungan Kyai KHOLIL BANGKALAN ke tebu ireng.  Kyai KHOLIL dan kyai HASYIM ASY'ARIE...rebutan MENJADI MAKMUM...bukan menjadi IMAM...dan ini sikap TAWADHU...

Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani...atau yg sering kita kenal sbg IMAM AHMAD.  sering sekali datang berkunjung ke masjid Al-Quwaity,  tempat muridnya Al-Atsram (Ahmad bin Muhammad)...mengajar.  IMAM AHMAD datang menjelang waktu sholat,  membaur dgn jama'ah agar tidak diminta menjadi imam sholat.  dan setelah sholat,  ketika Al-Atsram duduk menghadap jama'ah...ia gemetar demi mengetahui telah meng-imami sang guru.  dan ini adalah sikap TAWADHU...

gurunda tercinta Al-Hafidz Prof.KH.ZAINI DAHLAN, MA...saat sy duduk di semester 8 kuliah.  sy adalah mahasiswa dan santri beliau.  beliau selalu menarik sy utk menjadi imam sholat, sekuat apapun sy menghindar...bahkan Prof Zaini, pernah sampai jalan ke shaft belakang tempat sy menyembunyikan diri...dan menarik sy utk jadi imam sholat tarawieh,  krn saat kultum beliau melihat sy hadir...

jika sy menolak Prof selalu bilang...
"IIP,  kamu masih ngakui sy sbg gurumu...? "
sy jawab,  "Iya Prof...sampai sy matipun...sy tetap murid prof zaini... "
dan setelah itu beliau akan bilang sambil tersenyum sejuk,  yg senyuman itu akan sy kenang selalu...
"Nah,  klo begitu...maju,  imami sholat.  ini perintah guru...bukan permintaan... " dan ini adalah contoh sikap TAWADHU yg sgt luar biasa,  yg diajarkan oleh guru sy...

anda bisa bayangkan btp lemasnya sy,  setiap hrs ngimami sholat di depan Prof Zaini yg hafidz Qur'an,  tiap hari khatam membaca Qur'an meski saat itu beliau menjabat sbg rektor di kampus sy.  yg hafal lebih dari 15 ribu hadiest.  yg imam besar di seluruh masjid terbesar di wilayah DIY.  yg alumni universitas Al-Azhar Cairo,  yg pensiunan Dirjen bimbaga di kemenag RI,  yg Presiden kehormatan persatuan ahli bahasa arab hingga beliau wafat pd thn 2017 lalu...yg buku tafsir karyanya dipajang di perpustakaan Masjidil Harom...

padahal saya ini santri Prof ZAINI yg plg malas belajar dan jg masuk kriteria yg plg bodoh. dan Prof ZAINI sgt sabar membimbing sy.  dan sy sangat merasa terhormat menjadi murid yg beliau tunggu sebelum wafat.  dan orang terakhir yg sholat bersama beliau di ruang ICU RS sardjito.  sy jg yg memandikan,  mengkafani,  menjadi imam sholat utk jenazah beliau...dan memimpin prosesi pemakaman beliau hingga tuntas di temanggung,  kota kelahiran beliau...

sy selalu merindukan Prof ZAINI dan seluruh teladannya...


Wednesday, January 2, 2019

2018 GANTI PRESIDEN

BENTENGI PENGUASA DAN CARI DELIK UNTUK ROKY GERUNG

KAMPANYE NEGATIP Rocky Gerung diantisipasi dengan meluncurkan Ali Nagabalin, Akbar Faisal , Adian Napitupulu, Ermawati dan Budiman Sujatmiko cuma berhasil menampilkan pertandingan yang tak sedap, mereka bagikan ayam sayur, ada yang hanya keras suaranya dan senang menyebut jabatannya, ada yang sangat tergantung kepada kepean, serta prilaku tam mencerdaskan lainnya, secara sumbjektif, ingin saya katakan hanya Budiman Sujatmiko yang berpaham sosialis itu yang rada mendingan, nampaknya memiliki bacaan yang lumaian, walaupun terlampau sedikit memiliki dalil, lalu dibubuhi bumbu bumbu hambar yang juga tak layak dihadapkan kepada gerung yang memiliki bacaan yang luar biasa itu. Penon tetap kecewa, karena gerung tak dihadapkan dengan musuh yang seimbang.



Seperti yang berkali kali dikatakan oleh Gerung bahwa dia tak mendukung Prabowo, tetapi dia terang terangan beropposisi dengan Jokowi bersama rezimnya. Ketika dia dituntut untuk sesekali mengeritik Prabowo oleh pendukung Jokowi. dia katakan ngapain saya mengeritik orang yang bukan penguasa, bahkan dituduh tak memiliki prestasi apapun oleh musuh politiknya. Yang wajib hukumnya dikritik adalah adalah mereka yang memangku kepercayaan dari masyarakat untuk menggunakan kekuasaan. Para rezim dan polisi pendukung Jokowi masih memimpikan zaman kekluasaan mutlak Era Soeharto, atau seperti masa akhir Soekarno ketika telah disepakati oleh banyak pihak sebagai Presiden Seumur hidup.

Tuesday, January 1, 2019

INTELEKTUAL HARUS MERAWAT KEBANGSAAN

DIAWALI obrolan biasa. ada seoarang teman yang sudah lama saya simpan no HP nya. tiba tiba nomor itu muncul di WA, rupanya no ini baru diaktifkan WA nya,  langsuing saya hubungi, tetapi pesan yang  saya kirim itu tak kunjung dibalas, tiga hari kmudian saya dihubungi   lewat nomor tersebutdan saya angkat, ternyata beliau sendiri. dan kami terlibat dalam percakapan basa basi  dan tak lupa menanyakan kesehatan masing masing. Lalu pembicaraan beralih kepada keinginanya bisa berkomunikasi dengan kawan kawan, karena sering sahabat tadi menghadapi masalah, lalu diselesaikan sendiri, padahal dia merasa yakin banyak kawan yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sesungguhnya mampu membantu banyak pihak.


Lalu kami bersepakat mebentuk Grup WA, untuk bisa melancarkan komunikasi maka dapat dijadikan sarana komunikasi untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi, bukan saja oleh masing masig pribadi, tetapi bukan tidak mungkin kita membahas masalah yang dihadapi oleh masyarakat, bahkan bangsa dan negara.