Jumat, 11 Januari 2013

Surat Terbuka Seorang Lansia



Saya hampir berusia 75 tahun, saya tinggal sendirian di rumah saya, rumah yang dulu saya tinggal bersama almarhum suami saya dan dua anak saya sebelum mereka menikah.

Saya selalu bangga dengan kebebasan yang saya miliki. Tetapi belakangan ini semuanya berubah, terutama karena saya mulai memikirkan masa depan saya. Saya masih sanggup memenuhi kebutuhan diri sendiri tetapi sampai berapa lama? Saya menyadari bahwa gerakan badan saya semakin hari semakin canggung, meskipun banyak orang memuji; "Seandainya saya bisa seperti kamu pada usiamu ini." Kegiatan belanja dan membersihkan rumah juga sudah menjadi semakin sulit.

Lalu saya berfikir: "Bagaimana masa depa saya?" Saat saya masih mudah, pertanyaan ini mudah untuk dijawab: Tinggal dengan anak, menantu dan cucu-cucu saya. Tetapi sekarang bagaimana mungkin dengan rumah yang kecil dan semua anggota keluarga bekerja? Seperti halnya kemarin, hari ini jawabannya juga mudah, yaitu tinggal panti lansia.

Semua orang mengatakan hal itu mengerikan. Semua orang tahu tetapi mereka tidak berani mengatakan bahwa tak seorangpun yang mau meninggalkan rumahnya dan pergi untuk tinggal di panti lansia.

Saya tidak percaya bahwa satu ranjang, satu lemari, satu kamar tidur dan suatu kehidupan yang tanpa nama di panti akan lebih baik dibanding rumah milik sendiri, yang setiap barang, gambar, foto mempunyai kenangan yang mengisi hari-hari mu.

Sering orang mengatakan "Kita masukkan dia dalam panti lansia yang bagus demi kebaikan dia sendiri." Mungkin mereka mengatakan itu dengan tulus hati tetapi sebenarnya dia tidak harus tinggal di sana. Ini bukanlah suatu solusi yang baik untuk masalah ini.

Walaupun di penhujung usia mu, kamu tidak tinggal di panti lansia seperti yang kamu lihat di TV, pekerja panti yang menganiayai orang lansia karena mereka frustasi dengan pekerjaan mereka, saya rasa panti lansia tetap bukan jawaban yang tepat bagi mereka yang lemah dan yang hidup sendiri. Apakah ini cara yang konkrit untuk menyelesaikan masalah kesendirianmu, tiba-tiba kamu harus tinggal dengan orang-orang yang tidak kamu kenal, dengan orang-orang yang tidak kamu pilih dan inginkan.

Saya menyadari benar kehidupan seperti apa yang ada di panti. Kamu ingin beristirahat tapi kamu tidak bisa karena brisik, suara batuk dan kebiasaan-kebiasaan lain yang sangat berbeda dengan kamu. Orang mengatakan orang tua itu "brisik tetapi tidak ada apa-apa." Tetapi tidak sulit untuk membayangkan saat kamu ingin membaca tapi orang lain ingin lampu dimatikan, kamu ingin nonton program TV tertentu tapi orang lain tidak.

Di panti jika kamu tidak bisa keluar, masalah yang biasanya mudahpun menjadi sulit, seperti, untuk membaca surat kabar, untuk memperbaiki kaca mata kalau rusak/pecah, untuk membeli sesuatu yang kamu butuhkan.

Sering pakaian cucimu tertukar dengan orang lain dan kemudian kamu juga tidak bisa menyimpan benda kepunyaanmu sendiri dengan baik.

Mungkin makannya enak tetapi kamu tidak bisa memilih makanan apa yang kamu suka dan kapan kamu mau makan. Kamu tidak bisa memilih kapan mau tidur dan kapan bangun, kapan mau matikan lampu dan kapan mau nyalakan. Lalu saat kamu menjadi semakin tua, (kamu menjadi lebih malu lagi karena sudah kurang cantik) kamu harus berbagi segalanya dengan orang lain: penyakit, lemahnya fisik, duka dengan tanpa adanya privasi lagi.

Ada orang yang mengatakan di panti kamu bisa memiliki segalanya tanpa harus menyusahkan orang lain. Itu tidak benar. Kamu tidak memiliki semua yang kamu mau dan kamu juga tidak selalu harus menyusahkan orang-orang yang kamu cintai.

Ada alternatif lain! Saya bisa tetap tinggal di rumah sendiri dengan seorang pembantu rumah tangga/perawat.

Jasa ini sudah ada tetapi lebih banyak di atas kertas dari pada kenyataan. Setiap institusi harus menjamin tersedianya jasa ini. Sebenarnya kami banyak dan kami dapat tinggal di rumah dengan bantuan fisioterapis, dokter dan perawat.

Tidak benar kalau dikatakan ini terlalu mahal. Jasa ini tiga atau empat kali lebih murah dibanding biaya untuk hidup di panti lansia. Orang mengatakan di luar negeri keadaannya berbeda. Di sini, di Eropa kamu bisa menghabiskan masa tuamu di panti walaupun tanpa persetujuanmu. Saya tidak tahu apakah suara hati orang-orang tua yang sakit untuk tidak tinggal di panti didengarkan dengan pertimbangan bahwa suara kamu yang masih sehatpun tidak didengarkan.

Saya dengar dari televisi bahwa telah dialokasikan dana jutaan pounds untuk membangun sebuah panti baru dan membeli 140,000 ranjang. Saya akan lebih bahagia kalau saya tinggal di sebuah gubuk. Saya sudah punya sebuah rumah dan tempat tidur, saya sudah punya. Tidak perlu lagi membuatkan satu dapur lain untuk menyiapkan makanan saya; kamu dapat menggunakan dapur saya. Tidak perlu untuk membangun satu aula besar untuk orang-orang menonton televisi, saya sudah memiliki televisi di kamar saya. Kamar mandi saya masih berfungsi dengan baik, dan rumah saya hanya perlu tambahan beberapa pegangan di dinding untuk berjalan. Ini jauh lebih murah.

Apa yang saya dambakan di penghujung hidup saya adalah kebebasan untuk menentukan apakah saya mau tetap tinggal di rumah saya atau di tempat lain. Tetapi kebebasan inilah yang tidak saya miliki.

Sulit untuk mendapatkan seorang pembantu/perawat di rumah, hampir tidak mungkin: permintaannya banyak tetapi jasa yang tersedia terbatas. Tapi jika jasa pembantu/perawat diatur dengan lebih baik, dan orang-orang yang memerlukannya mudah untuk mendapatkannya, maka tidak perlu lagi membangun begitu banyak gedung-gedung panti lansia dan rumah sakitpun jadi tidak begitu ramai.

Walaupun saya sudah tidak muda lagi, saya mau mengatakan dengan jelas bahwa saya tidak mau tinggal di panti lansia dan saya juga tidak berharap orang lain tinggal di sana.

Bantulah saya dan orang-orang tua yang lain untuk bisa tetap tinggal di rumah, dikelilingi oleh barang-barang kami sendiri. Dengan tinggal di rumah mungkin saya bisa hidup lebih lama dan pasti saya akan hidup lebih baik.

Maria

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar