Monday, December 25, 2017

SIMPANG SIUR KEBENARAN, DEMI POLITIK DAN KEKUASAAN

Serasa tak percaya, tetapi itulah kenyataannya, panggung palitik Indonesia sedang bergolak sepertinya sejumlah ulama bakalan mendapatkan kesulitan yang sangatberartio terhadap aktivitasnya senagai ulama, yaitu menyampaikan dakwah.Ulama itu adalah pewaris Nabi, salah satu tugas kerasulan bagi seorang Nabi adalah menyampaian kebenaran, tetapi kebenaran yang disampaikan para ulama adalah kebenaran berdasarkan al-Quran dan hadits. ada sejumlah pihak yang yang beraktivitas menyampaikan kebenaran salah satunya adalah ilmuan. Jika ilmuan mengusung kebenaran berdasarkan hasil penelitian serta hasil pemikiran yang mendalam, maka kebenaran yang diusung oleh ulama adalah kebenaran dari Al-Quran dan hadis. Sementara tugas pemerintah adalah memfasilitasi berbagai kegiatan dan aktivitas masyarakat, termasuk diantaranya menyampaikan kebenaran. Dan Pemerintah juga menyediakan tenaga dalam rangka penegakan kebenaran. Tetapi karena Nusantara dahulu terdiri dari kerajaan Kerajaan, maka gaya Pemerintahan kita banyak mengacu kepada Kerajaan, dimana Raja atau Kerajaan merupakan sumber kebenaran, selain tugasnya menyampaikan dan menegakkan kebenaran maka dalam Kerajaan maka Raja beserta aparatnya adalah representasi dari kebenaran itu. Itulah sebabnya Pimpinan Negeri ini selalu saja bergaya Raja Raja Jawa. Kekuasaan, Keilmuan dan Keagamaan prakteknya saling berbenturan dalam menetapkan kebenaran. Maka berdasarkan sejarah, maka yang bakal keluar sebagai pemenang adalah Penguasa. Penguasa memiliki kekuatan dan fasilitas untuk membuat agama dan ilmu menjadi tak berdaya, dan berdasarkan catatan sejarah tidak sedikit diantaranya yang harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan, dan nyaris tak terhitung jumlahnya yang menghabiskan sisa sisa hidupnya pada dinginnya teralis besi.



Sebagai anak bangsa dan sebagai pemilik syah NKRI adalah sangat wajar manakala mengajak semua pihak untuk belajar dari sejarah, sehingga kita dapat menyelenggarakan aktivitas berbabgsa dan bernegara secara bermartabat, Pemerintah dituntut memiliki kemampuan untuk mempertahan setiap jengkal tanah air, serta melindungi rakyat dan warganegaranya. Tetapi tidaklah sesederhana itu apa yang kini sedang dihadapi oleh Pemerintah. Karena dalam waktu yang bersamaan Pemerintah dalam kenyataannya memang harus melakukan bergaining dengan kekuatan sekaligus. Ada kepentingan Yahudi bersama Amerika dan sejumlah sekutunya di satu pihak dan Ada China dengan sejumlah sekutu dan kroninya baik dari luar dan dalam negeri, di samping itu kelompok Islam nampaknya belum mencapai kepaduan yang maksimal, Sementara pihak Kristen memeliki keterampilan tersendiri dalam bergaining baik dengan Yahudi - Amerika maupun dengan kelompok China. Manakala ummat Islam berhasil menyatu, maka akansulit bagi kelompok Yahudi - Amerika atau China bersama sekutunya, dan kelompom Kristen akan menguasai Indonesia secara maksimal.

Pembulian terhadapsejumlah ulama tentu saja tak terlepas dari perebutan dalam manuver manuver politik di Indonesia yang kini memang sudah sangat nampak jelas akan kehadiran berbagai pihak tersebut di atas. Sejak era Soekarno nampaknya penguasa telah berusaha memisahkan agama dari politik, berhasil. Agama semakin jauh dari politik, artinya politik telah meninggalkan agama, dan dengan terjadi pembubaran pengajian dan pencekalan para ulama terkenal, ini sudah jelas sekarang politik memusuhi agama. Mungkin para politisi tak berusaha mengingat serta memahami rakyat memiliki hak pilih. Jika selama ini penguasa mampu mendikte rakyat, tetapi Pilkada DKI baru baru ini menunjukkan bahwa rakyat yang dipimpin ulama tidak bisa dianggap remeh.

Dointinaju dari berbagai segi Ahok selaku petahana dalam Pilkada DKI diperhitungkan akan menak telak, bahkan pesta beras besaran sepertinya telah dipersiapkan, mulai dari banjir bunga di DKI hingga bakar lilin di daerah. ternyata keliru. Keberanian Ahok menista agama semula adalah dalam rangka meluluhlantakkan lawan politiknya, siapapun. Ternyata berubah menjadi pemicu yang paling bagus untuk mempersatukan ummat. Tidak tertutup kemungkinan bully kepada para ulama juga dimaksudkan membelenggu kelompok agama. Lalu berhasilkan, belum tentu. Bisa jadi justeru Bully kepada para ulama yang dilancarkan justeru mempersatukan ummat.

Jika seorang ulama itu adalah pewaris Nabi, mereka mendalami, memahami dan sekaligus melaksanakan ajaran Nabi, tetapi di masjid masjid, di surau surau, di musholla dan langgar itu banyak orang sekalipun kekurang memiliki keilmuan yang utuh serta membaca langsung dari kitab kitab klasik Agama Islam, tetapi mereka memiliki pemahaman pemahaman walaupun secara sebagian sebagian, tetapi mereka memiliki semangat dan kemampuan untuk menyelenggarakan pengajian, pengajian, tausiah tausiyah, mereka memiliki kemampuan menghadirkan ulama dari manapun sesuai dengan kemampuan finansial mereka untuk, yang membuat akhirnya para jama'ah di di situ bisa bertemu dngan para ulama yan sesungguhnya.


No comments:

Post a Comment