Saturday, January 13, 2018

MEMBINA SILATURRAHMI DENGAN MEMBENTUK JAMA'AH



Tausiyah Minggu pagi 14 Januari 2018 dijelaskan oleh narasumber Dr. Bukhori A. Shomad bahwa setiap seseorang selain bertanggung jawab terhadap keluarganya, anak anaknya serta orang yang  berada di bawah tanggungjawabnya. Maka juga tetangga serta sahabat lainnya juga menjadi tanggungjawab kita, artinya sahabat dan tetangga yang sering berjumpa bila mana tak diajak untuk beribadah atau kita biarkan dia melakukan dosa maka kelak diakherat kita akan dituntut atas pertanggungjawaban itu, mengapa kita membiarkannya tak melaksanakan tugasnya untuk beribadah atau membiarkannya melakukan kebatilan. Muncul pertanyaan dari seorang jama'ah dalam sesi tanya jawab. Bagaimana mungkin kita akan mengajak atau melarang, karena jaman sekarang ini selain dalih hak azazi ada juga karakter kedaerahan yang berbeda dan membuat kita kesulitan untuk mengajak dan apalagi meralarang seseorang, karena perbedaan kultur serta anutan lainnya. Walaupun sejati kita sesama muslim. Dengan pertanyaan seperti ternyata diskusi menjadi hidup dan hanyangat walaupun pada saat itu cuaca benar benar dingin.


Menurut narasumber bahwa yang harus  dibentuk itu adalah jama'ahnya, karena melalui jama'ah itu hidayah akan turun,  dengan hidayah Allah nasehat kepada seseorang akan diterima, apabila sudah terbentuk jama'ah maka berarti telah berlaku ukhuwah Islamiyah antar sesama. Jangan salah pengertian, bahwa kita menyelenggarakan acara Subuh Akbar adalah dalam rangka membentuk jama;ah yang sebesar besarnya. Dengan terbentuknya jamaah itu maka sesungguhnya sangat banyak yang bisa kita laukan bersama, dan kita semua tahu bahwa secara bersama sama kita akan menghasilkan yang lebih besar dibanding sendiri sendiri.


Itulah sebabnya maka kita harus berusaha membesarkan atau meramaikan/ memakmurkan musholla kita, sebuah musholla akan dikatakan makmur manakala jama'ah yang sholat julahnya banyak, memenuhi daya tampung atau bahkan lebih. Banyaknya kegiatan di luas sholat lima waktu yang terselenggara. Ada kegiatan untuk umum, ada kegiatan khusus untuk perempuan, ada untuk jama'ah laki laki, ada untuk remaja dan jangan lupa juga harus ada kagiatan yang diperuntukkan bagi anak anak. Semua kegiatan itu adalah merupakan gerakan serentak untuk membangun berbagai lapisan dan semua pihak untuk terbentuknya jama'ah yang kesemuanya itu direkatkan oleh masjid atau musholla.

Untuk menuju kepada hal tersebut di atas maka seyogyanya kita harus melakukan evaluasi terus menerus, dan indikator keberhasilan dapat devaluasi secara praktis saja, yaitu dengan menghitung jumlah jama'ah yang hadiri dalam semua kegiatan. Apakah kegiatan sholat lima waktu, atau kegiatan lainnya, kegiatan khusus untuk jama'ah laki laki saja, atau kegiatan khusus untuk Ibu Ibu, atau kegiatan khusus untukpemudan dan remaja serta kegiatan khusus untuk anak anak. Berdasarkan pengalaman mereka yang mengelola masjid masjid besar, maka jama'ahnya tak akan makmur manakala tidak didukung dengan berbagai kegiatan kergiatanm lainnya di luar sholat lima waktu.

Dengan kegiatan kegiatan itulah maka akan terproses pembentukan ikatan batin antar individu jama'ah dengan arahan dari Pengelola musholla, maka akan terbentuklah ikatan batin itu dan sekaligus akan membebaskan sekat sekat berdasarkan adat istiadat, ataupun dalih hak azazi manusia dan sebagainya yang sejatinya tidak memiliki dasar keislaman. Manakala ikatan kita adalah ikatan keimanan dan semua sekat sekat yang tak sejalan dengan Islam terbongkar, adalah sangat memungkinkan terjadi upaya nasehat menasaehati dalan kesabaran dan kebenaran. Dan kita semua akan terhidar dari keharusan mempertanggungjawabkan kesalahan, kekeliruan serta ketidak tahuan orang lain. Itu terjadi manakala jama'ah kita terbentuk, terbina dan terarah.


No comments:

Post a Comment